“Buku ini (Tragedy and Hope) menggambarkan sejarah perjalanan peradaban Barat dalam memimpin dunia. Bagaimana dunia Barat atau masyarakat Barat (Western society) itu sekian ratus tahun memimpin dan telah mengalami banyak tragedy tapi juga kemudian masih menyimpan satu harapan. Tapi, yang sangat penting disitu adalah di bagian kesimpulan dari buku itu. Itu bagian tentang pengakuan dari Prof. Carrol Quigley, bahwa kami orang Barat ini, kata dia, telah meraih banyak kemajuan, pencapaian-pencapaian yang fantastis dalam dunia sains, teknologi, dsb.

Tapi, satu yang kami ini gagal, kami gak mampu, kami betul-betul tidak faham (we clearly do not yet know). Dari yang kami gak ngerti itu, yang paling penting adalah bagaimana membawa anak-anak kami menjadi orang tua yang baik, mendidik mereka menjadi orang tua yang matang dan bertanggung jawab (And the most important of all, which is how to bring up children to form them into mature and responsible adult.” (Dr. Adian Husaini).

“Kullu mauludin yuuladu ‘ala fithrah. Fa abawahu yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi” (Setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrahnya. Orang tuanya-lah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi). Begitulah sabda Rasul yang sering terdengar di telinga kita. Namun, yang terpenting dari hadits ini, bukan pada aspek si anak, tapi tanggung jawab orang tua terhadap fitrah anaknya. Jangan bayangkan, menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebatas merubah agama. Tapi, cukuplah ia belajar ilmu-ilmu yang salah, yang berpotensi besar merubah cara pandangnya, tujuan hidupnya, menjadi sama seperti orang Yahudi.

Diantara ilmu-ilmu tersebut berbentuk teori Darwin, teori kebutuhan primer manusia (sandang, pangan, dan papan), dan kriteria kemajuan suatu bangsa yang diajarkan di sekolah-sekolah dihentikan. Teori Darwin kemungkinan besar akan menyamakan insan dengan monyet yang hidupnya hanya untuk “survive”, cari kerja supaya bisa makan dan memuaskan syahwat. Bukan untuk melanjutkan perjuangan Nabi Adam melawan Iblis, para Nabi menegakkan kalimat tauhid, dan para ulama memperjuangkan Islam dan menjaga keutuhan NKRI.

Teori kebutuhan primer manusia hanya memperkuat kesamaan antara kebutuhan manusia dengan kera, yakni sebatas materi: makan, pakaian, dan tempat tinggal. Sementara dzikir, do’a, dan ibadah, tak pernah terpikirkan bahkan terlaksanakan. Itulah mengapa tidak aneh jika banyak orang pintar, kaya, elok wajahnya, pupuler, dan menyandang singgasana kekuasaan, harus berakhir di jeruji besi karena korupsi ataupun narkoba. Jasad mereka mugkin tercukupi bahkan kelebihan “muatan”, tapi batinnya sedang mengalami tragedy mengenaskan luar biasa.

Mungkin Mereka lupa bahwa manusia terdiri atas jasad dan jiwa. Mungkin mereka tidak tahu bahwa dengan banyak berdzikir kepadaNya, hati menjadi tenang, tenteram dan tidak hampa (QS. 13: 28). Mungkin mereka tidak insaf akan pesan dari lagu “Indonesia Raya” untuk membangun jiwa terlebih dahulu, setelah itu baru badannya. Dan mungkin mereka belum dengar firman Allah Ta’ala: “Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya dan sunggung rugi orang yang mengotori jiwanya” (QS. 91: 9-10). Ingatlah, salah satu musisi Indonesia pernah berkata, “Tidak ada satu pun piala di dunia ini yang sebanding dengan ketenangan batin.”

Sementara kajian terkait kriteria negara maju hanya akan membuat para murid berpikir materialis. Akan selalu bersemayam dalam pikiran mereka bahwa yang namanya maju itu adalah seperti Amerika, Jepang, Finlandia, dll, yang bersih, disiplin, pendapatan per kapita nya tinggi, dan budaya arsitektural nya yang megah. Sementara negara Madinah di masa Nabi tak pernah mereka anggap sebagai negara maju, dengan kriteria ketaqwaan, akhlak mulia, minimnya polusi moral, dan menjamurnya manusia baik.

Bukankah kriteria negara Nabi sangat kontras dengan semua negara maju anggapan mereka? Dr. Adian juga pernah berkata, “bahkan masyarakat Jepang dan lainnya, jangankan kepada orang lain, kepadanya dirinya sendiri pun mereka berbuat zalim (tidak adil), seperti maraknya kasus bunuh diri disana.”

Katanya juga, maju itu kalau semakin dekat kepada Allah. Tidak seperti barat yang tidak pernah bisa maju. karena mereka selalu mendekonstruksi tujuan mereka, sehingga selalu berubah, Akibatnya, mereka tidak pernah sampai pada tujuan sebenarnya dari manusia. Akibatnya hakikat diri insan (fitrah) dia tidak pernah bisa terpenuhi, sehingga hidupnya penuh dengan tragedi. Bukan pada jasad yang penuh darah, tapi pada jiwa yang tak pernah tenang, tenteram, dan terpuaskan. Kalaupun terpuaskan dengan alkohol, zina, dan menari-nari di atas panggung, yakinlah bahwa itu semua hanya kepuasan yang semu.

Jika ditilik lebih jauh, maka akan terlihat 2 sifat atau cara pandang kaum Yahudi di dalam ketiga objek kajian tersebut. Pertama, materialisme (QS. 2: 55). Yakni bagaimana segala sesuatu dipandang dari aspek materi atau yang bisa ter-indera semata. Kedua, tamak atau rakus akan segala materi dunia (QS. 2: 96). Kedua hal itulah yang bisa membuat setiap murid berpotensi melupakan segala hal yang bersifat metafisik, namun sangat urgen bagi agama. Seperti hati, akhirat, bahkan Tuhan itu sendiri. Maka, “Hadits kullu maulidin harus jadi pegangan setiap orang tua,” tegas Ustadz Adian.

Maka, pendidikan anak adalah masalah yang sangat penting. Ini bukan sekedar masalah anak Kuliah dan kerja dimana. Tentu bisa disadari dunia pendidikan sekarang, sangat terfokus pada bagaimana setiap anak bisa bekerja. Sehingga membuat lupa orang tua akan makna pendidikan sebagai penanaman nilai.

Pendidikan anak adalah urusan akhirat. Sudah semestinya bagi setiap orang tua mengemban peran ini, bahkan emang itulah tugas utama mereka. Maka, yang terpenting dari segala ilmu, orang tua harus bisa mendidik anak-anaknya menjadi orang baik, orang yang beradab, dan bermanfaat, sesuai dengan kadar potensinya. Inilah yang terpenting.

Ingatlah, sebagaimana hadits yang dinuki oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab “Adabul ‘Alim mal Muta’allim”-nya, Nabi pernah bersabda, bahwa diantara hak anak, ialah mendapat nama yang baik, persusuan yang baik, dan adab yang baik. Maka, kalau salah satu tidak dipenuhi, di akhirat anak bisa menuntut. Maka, ketiga hal itu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang tua. Dan diantara kewajiban yang terpenting, ialah menanamkan adab, bukan justru sibuk menyekolahkannya. Inilah bukti, bahwa untuk yang kesekian kalinya, rumah menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Artinya, dalam mendidik anak, orang tua harus berul-betul fokus dan siap. Kalaupun ia tidak bisa, maka sudah seharusnya ia menuntut ilmu supaya bisa mendidik anak dengan benar. Disamping orang tua sibuk memikirkan kurikulum anak, ia juga mesti sibuk memikirkan kurikulum dirinya sendiri dalam mendidik anak. Nabi memang pernah bersabda, “Tazaawadul wadud al-Walud.” Tapi, yang mesti diingat, semakin banyak anak, semakin berat tanggung jawabnya. Itulah mengapa, yang paling penting untuk persiapan pernikahan, ialah ilmu untuk bisa mendidik anak. Dan jangan sampai setiap orang tua menjadi “Rajulun la yadri, wa la yadri annahu la yadri”. Yakni orang tua yang tidak tahu (jahil) cara mendidik anak, dan ia tidak tahu kalau ia tidak tahu cara mendidik anak. Akhirnya, ia merasa tahu, sehingga sulit untuk diberi tahu.

Melihat dan menimbang hal ini, sudah seharusnya setiap anak dilatih untuk mengajar, sekecil apapun ilmunya. Sebab, mengajar itu belajar betanggung jawab. Dan itu merupakan bakal terpenting ketika ia menjadi orang tua nanti. Pada akhirnya, mau tidak mau, setiap orang akan menjadi guru. Paling tidak guru bagi anak-anaknya di masa yang akan datang. Disamping itu, sudah saatnya, setiap kampus mempunyai satu jurusan tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik. Sebab, munculnya satu generasi hebat, tidak akan pernah lepas dari peran orang tua.

Mendidik anak memang berat. Tapi inilah perjuangan. Sebab, untuk bisa masuk surga tidak bisa sambilan. Untuk memasukkan anaknya ke universitas favorit saja, orang tua serius, bagaimana mungkin mendidik anak sebagai tanggung jawabnya di akhirat dibuat sambilan? Ingatlah, dalam surat At-Tahrim ayat 6, secara tersirat Allah memerintahkan setiap orang tua untuk menjaga keluarganya dari api neraka. Dan menurut atfsiran Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas, caranya adalah dengan “’Addibuuhum wa ‘Allimuhum” (tanamkanlah mereka adab, dan ajarilah mereka ilmu).

Dan setiap orang tua mesti insaf pula, bahwa mendidik anak itu, disamping menggunakan ilmu, juga membutuhkan hikmah sebagaimana pendidikan yang dilakukan Luqman (QS Luqman: 12). Orang tua mungkin punya ilmu, tapi jika mereka tidak punya hikmah, tetap tidak akan bisa mendidik atau menanamkan adab. Sebab, bisa melaksanakan atau menempatkan ilmu dengan tepat, butuh hikmah. Apalagi, realitas yang terjadi di satu keluarga, sangat kompleks dan tidak terduga. Maka, mau tidak mau, setiap orang tua harus siap dengan ilmu dan hkmah. Itulah mengapa, setiap anak harus belajar menjadi guru dan mengerjakan ragam soal-soal kehidupan sejak kecil. Hal itulah yang akan cepat mendewasakannya, sehingga, nanti mereka mempunyai pengalaman ketika harus memikul tanggung jawab sebagai orang tua serta pendidik pertama dan utama.

Terakhir, sudah seharusnya setiap orang tua belajar dari tragedi yang cukup mengenaskan dari orang-orang Barat dalam hal mendidik anak. Hal ini tercantum dalam buku “Tragedy and Hope” karya Carrol Quigley (sejarawan besar Amerika dan mentor Bill Clinton, presiden Amerika ke-42). Dimana, setelah ia mengakui semua kegemilangan Barat, terutama dalam masalah sanis dan teknologi, ia berkata, “we clearly do not yet know. And the most important of all, which is how to bring up children to form them into mature and responsible adult.”

(Tulisan ini merupakan Rangkuman Kuliah Ramadhan Jelang Berbuka (KURMA LANGKA) Dr. Adian Husaini ke-3 dengan tema “Pendidikan itu Tanggung Jawab Utama Orang Tua, bukan Sekolah (Aplikasi Hadits: Kullu Mauluudin yuuladu alal fithrah…)”.

************

************

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)