Pertanyaan:

Bagaimana jenjang keilmuan dalam menuntut ilmu ‘ilal al-hadits?

Fahreza, Pariaman

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim

Terima kasih telah mempercayakan situs markazsunnah.com untuk menjawab pertanyaan Anda. Semoga kita semua dalam lindungan Allah azza wajalla.

Perlu diketahui, bahwa ilmu ‘ilal adalah ilmu yang mempelajari cacat hadis yang ada dalam hadis-hadis para perawi tsiqah karena biasanya cacat hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah sangat sulit untuk ditemukan lantaran samar dan harus diteliti secara detail. Para ulama secara umum mendefinisikan ‘ilal ini sebagai:

سبب خفي غامض, يقدح في صحة الحديث مع أن ظاهر السند السلامة منها

“Faktor (kedaifaxn yang bersifat) tersembunyi dan samar  yang membuat cacat kesahihan suatu hadis padahal secara tampak sanad hadis itu tidak mengandung cacat/faktor kedaifan tersebut.” 

Lantaran kesamaran faktor kedaifan ini serta ke-tsiqah-an para perawi yang menjadi objek bahasannya, ilmu ‘ilal merupakan bagian paling sulit dan detail dari cabang-cabang ilmu hadis. Ia juga bukanlah ilmu tersendiri seperti halnya ilmu fikih, usul fikih, mushtalah hadis, atau ilmu lainnya, karena ia merupakan puncak dari ilmu hadis baik secara teori maupun secara praktik (penelitian kesahihan hadis atau kedaifannya).

Oleh sebab itu, jenjang paling pertama untuk mempelajari ilmu ‘ilal adalah memahami ilmu hadis dengan berbagai variannya: mushtalah hadis, al-jarh wa at-ta’dil, ilmu rijal dan thabaqat, serta ilmu takhrij hadis baik secara teori ataupun praktik.

Seorang penuntut ilmu hadis tidaklah dianjurkan untuk mempelajari ilmu ‘ilal kecuali bila telah mempelajari ilmu-ilmu di atas secara sungguh-sungguh, karena ilmu-ilmu tersebut adalah sarana atau alat untuk kajian ilmu ‘ilal. Bila ia belum mempelajari ilmu-ilmu tersebut maka ia akan kesulitan memahami ilmu ‘ilal, bahkan tak akan bisa memahami bahasan-bahasannya.

Bila ilmu-ilmu tersebut telah dipelajari, maka jenjang ilmu ‘ilal bisa dipahami dengan mudah lantaran yang telah mempelajari ilmu-ilmu tersebut dengan baik dianggap sebagai pemula dalam bahasan ilmu ‘ilal. Bila demikian, maka ada beberapa metode atau jenjang untuk mempelajarinya, namun di sini penulis hanya akan menuliskan metode yang sesuai pengalaman yang dialami oleh penulis dalam mempelajarinya, tentunya secara singkat:

Jenjang Pertama:

1. Mempelajari tiga buku ringkas terkait ilmu ‘ilal:Syarh ‘Ilal al-Hadits lil-Mubtadiin karya Syekh ‘Amr Abdul-Mun’im Salim;

2. Manhaj al-Muhadditsin fi an-Naqd karya Syekh Prof. Dr. Hafizh Al-Hakamiy;

3. At-Tamyiz karya Imam Muslim.

Buku pertama membahas tentang teori dasar ilmu ‘ilal dan termasuk yang paling mudah dan disertai contoh-contoh yang lumayan mudah untuk dipahami. Adapun buku kedua, ia membahas tentang manhaj para ulama hadis mutaqaddimin dalam ilmu ‘ilal disertai metode takhrij mereka secara teori maupun secara praktis. Adapun buku ketiga adalah salah satu buku ringkas dari imam ahli hadis di era mutaqaddimin yang memuat metode ta’lil hadis-hadis yang ma’lul.

Jenjang Kedua:

1. Muqaddimah Syarh ‘Ilal at-Tirmidziy yang ditulis oleh Syekh Dr. Humam Sa’id di mukadimah Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy tahkik beliau sendiri;

2. Syarh ‘Ilal at-Tirmidziy karya Imam Ibnu Rajab, baik dengan tahkik Syekh Dr. Humam Sa’id atau Syekh Nuruddin ‘Itr hafizhahullah;

3. Dirasah al-Asanid karya Syekh Dr. Abdul-‘Aziz Asy-Syai’.

Buku pertama dan kedua terkait teori-teori urgen dan detail terkait ilmu ‘ilal versi para ulama hadis mutaqaddimin yang jarang ditemukan terkumpul dalam buku lain, sedangkan buku ketiga adalah kajian tentang metode takhrij yang sangat baik, utamanya yang ada kaitannya dengan takhrij hadis-hadis ma’lul

Jenjang Ketiga:

1. Muqaranah al-Marwiyyat karya Syekh Prof. Dr. Ibrahim Al-Lahim, buku ini merupakan kumpulan kaidah terurgen dalam ilmu ‘ilal yaitu terkait komparasi antara riwayat-riwayat hadis yang saling kontradiksi satu sama lain dan metode untuk menentukan yang paling benar atau sahih;

2. Memperbanyak membaca bagian-bagian penting buku-buku ‘ilal karya ulama mutaqaddimin, seperti ‘ilal Ibni al-Madiniyal-Ilzamat dan at-Tatabbu’ keduanya karya ad-Daraquthniy, ‘Ilal Ibni Abi Hatim‘Ilal Ad-Daraquthniy, dan yang lainnya.

3. Memperbanyak praktik takhrij hadis utamanya hadis-hadis yang ada dalam ‘ilal ad-Daraquthniy dan ‘Ilal Ibni Abi Hatim.

Selain mempelajari dan membaca buku-buku di atas, tentunya harus membaca dan mengambil faedah dari buku-buku penting lain terkait ilmu ‘ilal seperti Kitab al-‘Ilal wal-Fawaid karya Syekh Dr. Mahir al-Fahl, an-Nukat ‘ala Kitab Ibni ash-Shalah karya Ibnu Hajar, al-Qarain karya Dr. Abdul Gani Muhammad, serta buku-buku lainnya.

Hal terpenting lain adalah bahwa mempelajari buku-buku di atas mesti di hadapan seorang guru yang kapabel, dalam artian tidak mesti semua isi buku harus dikaji di hadapannya, namun sesuai kadar kemampuan guru untuk memaparkannya utamanya dalam bahasan-bahasan teori yang detail dan rentan disalahpahami serta dalam praktik takhrij yang wajib dilatih dan di-monitoring oleh seorang guru hadis. 

Demikian secara singkat, semoga kita semua diberikan taufik untuk mendapat rida Allah dan cinta-Nya, amin.

***********

Sumber: Markaz Sunnah

Penulis: Ustadz Maulana La Eda, Lc., MA
(Pengurus Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, Alumni Fakultas Hadis Universitas Islam Madinah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)