Tepat 50 tahun lalu, 3 Januari 1970, dalam sebuah diskusi di Jalan Menteng Raya 58 Jakarta, Nurcholish Madjid (Cak Nur) meluncurkan ide “sekulerisasi dan liberalisasi Islam”. Ia menyampaikan makalah dengan judul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.”

Dalam disertasinya di Monash University Australia – yang diterbitkan oleh Paramadina dengan judul “Gagasan Islam Liberal di Indonesia” (1999) – Dr. Greg Barton menyebutkan, bahwa melalui makalahnya tersebut, Nurcholish Madjid dihadapkan pada satu dilema di tubuh umat Islam. Di satu sisi, masyarakat Muslim harus menempuh arah baru. Namun, pada sisi lain, arah baru tersebut berarti menimbulkan perpecahan dan mengorbankan keutuhan umat.

Dalam makalahnya, Nurcholish menulis: “… pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses liberalisasi. Proses itu dikenakan terhadap “ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam” yang ada sekarang ini…” Untuk itu, menurut Nurcholish, ada tiga proses yang harus dilakukan dan saling kait-mengait: (1) sekularisasi, (2) Intellectual freedom (kebebasan berfikir), dan (3) ’Idea of progress’ dan ‘Sikap Terbuka’.

Gagasan sekulerisasi dan liberalisasi Islam oleh Cak Nur ketika itu memunculkan polemik bahkan kehebohan. Banyak pihak mendukung. Namun, tak sedikit yang resah. Sejumlah tokoh senior seperti Mohammad Natsir dan Prof. HM Rasjidi, pun ikut turun tangan. Ada juga beberapa nama pengkritik yang vokal, seperti Abdul Qadir Djaelani dan Endang Saefuddin Anshari.
Pada akhir 1960-an, Cak Nur sempat dijuluki sebagai “Natsir muda”. Namun, Pak Natsir sendiri mengaku kecewa dengan gagasan sekulerisasi Nurcholish Madjid. Dilaporkan, dalam sebuah pertemuan di kediamannya, pada 1 Juni 1972, M. Natsir mengungkapkan kerisauannya akan gagasan Pembaharuan yang ingin “menjauhkan diri dari “cita-cita akidah dan umat Islam.” (Lihat, Muhammad Kamal Hassan, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim (Ciputat: Lingkaran Studi Indonesia, 1987).

Kritik tajam terhadap gagasan sekularisasi Cak Nur juga diberikan oleh Prof. Dr. HM Rasjidi, Menteri Agama RI pertama. Tahun 1972, HM Rasjidi menulis buku berjudul Sekularisme dalam Persoalan Lagi: Suatu Koreksi atas Tulisan Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: Jajasan Bangkit). Setahun kemudian, Rasjidi kembali menulis buku berjudul Suatu Koreksi Lagi bagi Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: DDII, 1973).

Dalam artikelnya di Harian Republika, 28 Desember 2007, yang berjudul “Menyoal Pembaruan Islam”, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Gus Hamid) telah memberikan peta besar dan kritik terhadap gagasan pembaruan Islam. Menurut Gus Hamid, gerakan pembaruan Islam telah berlanjut menjadi liberalisasi Islam dalam wujud yang lebih ‘terbuka’ dalam membela konsep-konsep westernisasi dan membongkar konsep-konsep dasar Islam.

Sebuah kritik mendasar dan sistematis terhadap gagasan sekularisasi Cak Nur juga ditulis oleh Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A., guru besar Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Tahun 2010, Prof. Ismail menerbitkan bukunya yang berjudul Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid Seputar Isu Sekularisasi dalam Islam. Tahun 1995, Faisal Ismail menyelesaikan S-3 di Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada.


Sebenarnya, gagasan sekulerisasi Cak Nur bukanlah hal baru dalam pemikiran keagamaan. Pembaruan adalah usaha biasa sebagai respon terhadap modernitas. Sebab, seluruh umat beragama nyaris mustahil manusia lari dari modernitas. Lawrence E. Cahoone, dalam bukunya The Dilemma of Modernity (1988), menggambarkan sejak masa renaissance, manusia di Barat sudah harus hidup dalam alam modernitas, laksana ikan yang hidup di air. Bagi masyarakat non-Barat, kata Cahoone, mereka juga dipengaruhi oleh budaya modernitas Barat dengan kuat, suka atau tidak.

Inti modernitas, menurut pakar sosiologi Max Weber, adalah rasionalisasi, yang mensyaratkan adanya proses sekularisasi. Di Barat, kata David West, dalam bukunya “An Introduction to Continental Philosophy”, (1996), rasionalisasi selalu dikaitkan dengan proses sekularisasi yang oleh Weber disebut “dis-enchantment”.’ Masyarakat modern memang menempatkan akal manusia sebagai penentu kebenaran, bukan lagi agama, dan menjadikan agama sebagai urusan pribadi. (Alain Touraine, Critique of Modernity, 1995).

Model interaksi antara Islam dan modernitas itulah yang menjadi kajian utama berbagai aliran pemikiran Islam di era modern. Guru Cak Nur di Universitas Chicago, Prof. Fazlur Rahman, dikenal sebagai tokoh pemikir neo-modernis. Dialah yang memelopori penggunaan metode hermenutika untuk menafsirkan al-Quran.

Meskipun bersahabat, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dikenal sangat kritis terhadap pemikiran Fazlur Rahman, termasuk penggunaan hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran. Prof. al-Attas sempat mengundang Fazlur Rahman untuk mengajar di ISTAC. Namun, sebelum itu terjadi, Fazlur Rahman dipanggil Allah SWT. Uniknya, oleh keluarganya, seluruh koleksi perpustakaan Fazlur Rahman diserahkan kepada Prof. al-Attas, yang akhirnya menjadi koleksi perpustakaan ISTAC-IIUM.

Sebuah tahapan penting dalam perkembangan pemikiran Islam di alam Nusantara adalah ketika salah satu murid Prof. Fazlur Rahman, yakni Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, melakukan hijrah intelektual, dari neomodernisme ke Islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer. Dengan produktivitas dan kreativitas karya-karya intelektualnya, Prof. Wan Mohd Nor berhasil menguraikan gagasan-gagasan besar Prof. Naquib al-Attas, sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan. (Lihat, Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor: Dari Neo-Modernisme ke Islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer, Jakarta: INSISTS, 2012).

Tahun ini, 2020, tepat 50 tahun gagasan sekulerisasi atau liberalisasi Islam itu diluncurkan. Penyokong dan pengkritik pemikiran ini terus meramaikan jagad pemikiran di Indonesia. Tentu dengan segala macam corak dan variannya masing-masing.

Meskipun antara Islamisasi dan sekulerisasi bisa bertemu pada satu titik tertentu, namun secara total dan mendasar, mustahil mempertemukan dua arus pemikiran yang berlawanan itu. Hanya saja, melihat kondisi “Ibu Pertiwi” saat ini – yang sedang bersusah hati — sudah saatnya berbagai aliran pemikiran berpikir serius untuk mencari “solusi bersama”. Itu demi kebaikan dan kejayaan negeri kita!

***********

Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku, Pendiri Pesantren At-Takwa Depok dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)