Perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis adalah peta perjalanan yang sangat penting menjadi perhatian untuk bebaskan Palestina. Menghubungkan antara Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Haram di Baitul Maqdis bukan hanya saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjadi imam bagi seluruh Nabi, kemudian dinaikkan hingga ke langit yang paling atas, tapi juga sudah dilaksanakan oleh Nabi Allah Ibrahim ‘alaihissalam.

Ustadz Ummar Makka (Sekjen Spirit of Aqsa) dalam Kelas Palestina PCIM “Perjalanan Indonesia Memimpin Dunia, Bebaskan Palestina!” juga menyebutkan bahwa anak pertama Nabi Ibrahim yang bernama Ismail dari istrinya Hajar dibawa ke Makkah. Hajar dan putranya ditinggalkan di tanah gersang dan tandus serta sepi tak berpenghuni.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak-anak Ismail, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim” (HR. Muslim).

Adapun anak kedua yang bernama Ishaq dari Sarah Istri yang pertama dinikahinya, dari Ishaq lahir Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang disebut sebagai Israil. Nabi Ya’qub beserta istri-istri dan anak-anaknya hidup di Palestina dengan bercocok tanam dan mengurus hewan ternak, kemudian mereka pindah ke Mesir dan inilah awal mula sejarah Bani Israil.

Dalam kajian sirah Nabawiyah, pada tahun 6 H, terjadi perjanjian damai antara kaum muslimin dan musyrikin Quraisy yang disebut Shulh Hudaibiyah. Di fase ini, selain fathu Makkah, fokus Rasulullah sudah tertuju pada pembebasan negeri Syam yang berada dalam genggaman Kerajaan Romawi Nashara. Misi dakwah dan diplomasi digencarkan kepada para penguasa negeri yang berbatasan dengan jazirah Arab, termasuk kepada Heraklius.

Tahun 7 H, utusan Rasulullah yang membawa pesan dakwah kepada gubernur Syam yang baru diangkat oleh kekaisaran Romawi dibunuh di Mu’tah oleh salah seorang pembesar Romawi yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya. Jumadal Ula tahun 8 H, Rasulullah mengirim 3 ribu pasukan ke Mu’tah. Mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau berpesan, jika Zaid gugur, maka (beralih) ke Ja’far. Bila Ja’far gugur, maka (beralih) ke Abdullah bin Rawahah. Heraklius bersama 100 ribu pasukan Romawi berkoalisi dengan 100 ribu pasukan dari sejumlah kabilah Arab. Dalam Shahih Bukhari disebutkan, setelah Ibnu Rawahah terbunuh, Rasulullah mengatakan panji-panji kemudian diambil oleh salah satu pedang Allah, maksudnya Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu , lalu Allah Azza wa Jalla memenangkan mereka.

Pada tahun yang sama, orang kafir Quraisy melakukan pengkhianatan atas Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun Quraisy mengutus seorang pemimpin dari Bani Kinanah Abu Sufyan untuk memperbaharui perjanjian, namun Nabi berpaling dan menolak.

“Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Qs. Al Anfal: 58).

Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang. Beliau menjalankan misi rahasia dan mempersiapkan pasukan serta menyusun strategi untuk menaklukkan kota Makkah. Ramadhan tahun 8 H (630 M), Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam berangkat dari Madinah menuju Makkah bersama 10 ribu pasukan. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (Qs. Al Fath: 1). Penaklukan Makkah pun terjadi tanpa pertumpahan darah.

Pada bulan Rajab tahun 9 H, meskipun kaum muslimin dalam kondisi kesulitan ekonomi, perbekalan kendaraan, cuaca dan gangguan orang-orang munafik, Rasulullah dan para sahabat siap menantang kekuatan “super power” Romawi di perang Tabuk. Mereka berlomba-lomba untuk ikut terlibat sesuai kemampuan, namun ada yang tidak bisa ikut dan harus pulang ke rumah bercucuran air mata sedih karena tidak memiliki sesuatu untuk diinfakkan agar bisa ikut bersama jaisy al ‘usrah. Rasulullah berangkat bersama 30 ribu pasukan, peperangan tidak terjadi, tapi telah mengguncang Romawi.

Di perang tabuk ini Rasulullah semakin mengokohkan kekuatan kaum muslimin, bukan hanya tentang kekuatan ekonomi, bukan hanya tentang pengaruh, tapi pondasi kekuatan sejati yaitu iman. Inilah perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam sebelum wafat.

Dalam materi #2 “Geografi Palestina”; setelah membahas urgensi Palestina sebagai penghubung 3 benua besar; Asia, Afrika dan Eropa, pemateri menegaskan tentang pentingnya menghubungkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa.

“Lihatlah bagaimana Yahudi dan musuh-musuh Allah berusaha terus mengadu domba dua tanah yang diberkahi ini. Mengadu domba dua penghuni masjid ini. Semoga Allah menyegerakan kemenangan pada ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Allah hubungkan kembali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa,” ujar Ustadz Umar Makka.

Begitu penjelasan Ustadz yang konsisten menyuarakan isu Palestina dan sudah beberapa kali ke Palestina ini menutup pembahasan seputar mengapa Palestina penting secara geografis. Lalu beliau menceritakan seputar kondisi alam dan karakteristik masyarakat Palestina.

Laporan: Subhan Husain
Editor: Muhammad Akbar