Sabtu (19/9/2020) pagi ini dilakukan peluncuran buku saya berjudul “Jangan Kalah Sama Monyet” (Yogyakarta: Pro-U Media, 2020). Buku ini memuat 101 gagasan untuk menjawab tantangan pemikiran kontemporer. Yang utama, tantangan dalam bidang pendidikan dan pemikiran Islam.

Judul buku “Jangan Kalah Sama Monyet” merupakan satu judul dari 101 judul artikel dalam buku tersebut. Judul ini dimaksudkan agar kita berpikir serius tentang kondisi dan masa depan pendidikan kita, khususnya pada jenjang pendidikan tinggi. Untuk apa kuliah di suatu Perguruan Tinggi?

Dalam berbagai kesempatan mengisi kuliah atau ceramah di Perguruan Tinggi, saya mengingatkan para mahasiswa, bahwa masuk dunia Perguruan Tinggi harus diniatkan untuk mencari ilmu yang bermanfaat; bukan cari makan; bukan cari jodoh.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa mencari ilmu karena selain Allah atau berharap dengan ilmu itu hal-hal selain Allah, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi). Mahasiswa muslim seharusnya memasuki dunia Perguruan Tinggi untuk memenuhi tuntutan perjuangan menegakkan kebenaran.

Sebab, manusia diciptakan untukberibadah kepada Allah SWT (QS 51:56). Manusia bukan diciptakan untuk cari makan. Cari makan itu wajib. Tetapi, bukan menjadi tujuan. Makan adalah sarana untuk bisaberzikir dan beribadah kepada Allah. Dengan zikir dan ibadah, manusia akan meraihkebahagiaan yang hakiki. (QS 13: 28).

Itulah bedanya orang beriman dengan orang kafir yang tujuan hidupnya hanyauntuk makan-makan dan senang-senang, laksana binatang. (QS 47:12). Dalam QS 7:179, digambarkan orang yang memiliki akal, mata, dan telinga, tetapi tidak mampu memahami ayat-ayat Allah.

Mereka menjadi seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Jika manusia sudah melupakan Tuhannya dan bahkan kemudian menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka ia akan tersesat. Hatinya tertutup. Pendengarannyapun tak mampu lagi mendengar kebenaran. Begitu juga penglihatannya tertutup. Ia gelap mata. (Lihat, QS 45:23).

Manusia-manusia seperti ini akan mampu melakukan tindakan yang sangat sadis,yang tidak ditemukan dalam dunia binatang sekali pun. Mereka ada yang membunuh anaknya sendiri. Ada yang membunuh ibunya sendiri. Ada yang melakukan kejahatan pembunuhan dan kemudian memotong-motong tubuh korbannya.

Pada 9 September 2020, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan penemuan mayat yang sudah terpotong-potong di salah satu apartemen di Jakarta Selatan. Mayat itu sudah mulai membusuk dan menyebarkan aroma tak sedap. Potongan mayat disimpan dalam dua tas, dan terpotong menjadi 11 bagian. Tubuhnya dipotong dengan golok dan gergaji besi.

Kasus ini semakin menarik perhatian masyarakat, setelah polisi berhasil mengungkap pelaku dan kronologi kejahatannya. Pelaku kejahatan sadis ini ternyata sepasang kekasih. Sang perempuan merupakan alumnus FMIPA-UI. Dikisahkan, bahwa korban mutilasi itu dibunuh oleh pelaku laki-laki saat korban sedang berzina dengan pacarnya sendiri, di depan matanya. Korban dipukuli kepalanya dengan batu-bata dan kemudian ditusuk berkali-kali.

Jadi, pasangan pelaku pembunuhan itu sepakat berzina dan kemudian bekerjasama melakukan pembunuhan. Tujuannya mengeruk harta korban. Konon, semasa kuliah,pelaku perempuan dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas dan kritis.

Tentu saja, kita yakin, selama kuliah, si mahasiswi itu tidak diajarkan untuk membunuh, apalagi diajarkan cara membunuh yang begitu sadis. Kita bisa mengatakan itu hanyalah satu kasus. Ribuan alumni UI menjadi orang baik dan berguna bagi masyarakat. Salah satu anak saya pun kini kuliah di Pasca Sarjana UI.

Sebelum kasus mutilasi mayat ini, masyarakat internasional pernah juga digemparkan oleh kasus seorang alumni UI, Reynhard Sinaga, yang dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris. Ia terlibat dalam 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017.

Detik.com melaporkan, Kepala Humas dan KIP UI Rifelly Dewi Astuti meminta agar perbuatan Reynhard tidak dikaitkan dengan status alumni Universitas Indonesia.”Bahwa meski yang bersangkutan alumni Universitas Indonesia, perbuatannya sama sekali tidak terkait dengan statusnya sebagai alumni Universitas Indonesia,” kata Rifelly Dewi Astuti dalam keterangan kepada detikcom, Selasa (7/1/2020).

Universitas Indonesia mengutuk perbuatan Reynhard, sekaligus ikut prihatin atas peristiwa dengan yang dialami para korban. Perbuatan Reynhard dinilai bertentangan dengan hukum dan kemanusiaan.”Universitas Indonesia sebagai lembaga pendidikan tetap berkomitmen melaksanakan tugas pengajaran dan pendidikan utamanya mendidik generasi muda yang berintelektualitas tinggi dan berbudi luhur selaku penerus bangsa,” tuturnya.

Pelaku dua kejahatan sadis – mutilasi mayat dan perkosaan brutal – dikenal sebagai otang cerdas secara intelektual. Semoga dua kasus ini mengingatkan kita semua, bahwa tujuan utama Pendidikan Tinggi adalah membentuk manusia yang baik, yakni manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.

Itulah amanah UUD 1945 pasal31 ayat 3. Tujuan utama Pendidikan Tinggi bukanlah agar lulusannya bisa cari makan. Bisacari makan, meraih status sosial tinggi, menjadi orang profesional, bukan tujuan utamapendidikan kita. Karena itu, KRITERIA UTAMA penerimaan dan kelulusan sarjana kita seharusnya adalah kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia. Bukan semata-mata kriterianilai akademik.

Karena itulah, sesuai judul buku yang diluncurkan hari ini, dalam berbagaikesempatan kuliah, saya katakan kepada para mahasiswa, ”Jika kalian kuliah hanya untukcari makan, maka renungkanlah: ”Monyet saja bisa makan tanpa kuliah!”.

***********

Depok, 19 September 2020

Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)