Allah Azza Wa Jalla Berfirman,

… وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ

… Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (Surat Al-Anbiya’, Ayat 35)

Berdasarkan ayat ini dapat ditadabburi 4 kelompok manusia ditinjau dari Harta dan Takwa. Mari kita kaji bersama empat kelompok tsb :

Kelompok pertama, adalah sebaik-baik dan semulia-semulia manusia. Yaitu Mereka yang dikarunia ketakwaan dan juga kekayaan. Merekalah yang mendapatkan hayatan thayyibatan (kehidupan yang terbaik) di dunia, dan tentu lebih dahsyat lagi yang mereka dapatkan di akhirat. Allah berfirman di surat An-Nahl (16) ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Merekalah yang diisyaratkan oleh Nabi saw dalam haditsnya almaalu ashshaalihu lil mar-i ashshaalihi Sebaik-baiknya harta adalah yang berada dalam genggaman dan pengelolaan orang yang saleh.

Mengapa bisa demikian?! Karena ketakwaan yang ada padanya menjadikan harta kekayaan yang dimilikinya menjadi mashlahat (kebaikan) bukan hanya untuk diri dan keluarganya saja, tapi juga untuk Islam dan kaum muslimin. Dengan hartanya itu terbangunlah masjid, terbangunlah pesantren dan sekolah-sekolah Islam. Dengan hartanya ringanlah beban hidup orang fakir dan miskin, tersantunilah para yatim, para janda dan dhu’afa.

Kelompok kedua, adalah kelompok manusia yang sabar, yaitu mereka yang dikarunia ketakwaan tetapi dibatasi rezekinya, disempitkan dunianya. Merekalah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah (2) ayat 155) :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Walau rezekinya tidak diluaskan oleh Allah, namun mereka tidak berputus asa dari rahmat Allah, mereka selalu berikhtiar (bekerja) seolah tak mengenal lelah dan letih. Karena ketakwaan yang ada padanya menjadikan mereka berlaku qanaah (ridha) dengan takdir Allah dan tidak menghalalkan segala cara demi kenikmatan dunia yang sesaat. Mereka inilah yang dijanjikan oleh Allah:

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah (2) :157)

Kelompok Ketiga, adalah Kelompok manusia yang sangat jahat dan berbahaya, kebal hukum, dan sulit terdeteksi. Mereka tidak memiliki ketakwaan tetapi kekayaan mereka berlimpah ruah. Dengan kekayaan itulah seolah dunia dalam genggaman mereka. Apa pun yang mereka inginkan, seolah dengan kekayaan dapat dimilikinya.

Karena tidak bertakwa, manusia pada kelompok ini semakin tamak dengan dunia, tak peduli akhirat, dan demi kepentingannya tercapai segala cara akan dihalalkannya.

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا

Sesungguhnya mereka (orang kafir) itu mencintai kehidupan (dunia) dan meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya.” (QS. Al-Insan (76): 27)

Mereka Semakin kufur dengan Allah, tetapi semakin sukses karirnya dan semakin terbuka pintu-pintu keduniaannya. Merekalah yang difirmankan oleh Allah pada surat Al-An’am (6) ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.

Berbahayanya kelompok ini jika memegang kekuasaan di suatu negeri, akan habis aset-aset negeri dijual demi kepentingannya. Mereka akan melakukan kerusakan, meskipun secara teknis tidak terlihat di permukaan, tetapi merekalah otak, dalang terjadinya kerusakan dan kehancuran sebuah negeri. Mereka begitu sulit terdeteksi apalagi terjerat kasus hukum. Hanya kematian yang bisa menyudahi kebejatannya. Dan kematian itu pasti mendatanginya secara tiba-tiba walau sedang di puncak kekuasaan.

Kelompok Keempat, Kelompok yang hina, paling merugi, dan paling menderita, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Merekalah yang jauh dari jalan ketakwaan dan miskin pula hidupnya di dunia. Semakin jauh dari jalan Allah semakin menderita hidupnya. Dan penderitaannya tidak berakhir di dunia, berlanjut bahkan lebih dahsyat yang akan ditemuinya di akhirat. Merekalah yang difirmankan oleh Allah di dalam surat Thaha (20) ayat 124:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.

Kemiskinan manusia jenis ini adalah kemiskinan kultural, Mereka tidak hanya miskin harta, tapi juga miskin mental dan spritual. Akibatnya mereka dalam upaya mencari rezeki tidak mau bekerja keras, pengen jalan pintas, tak peduli halal atau haram. Maka terjadilah berbagai kejahatan-kejahatan di masyarakat yang dilakukan oleh kelompok manusia ini. Terjadilah pencurian, perampokan, pemerkosaan, perzinahan, dan berbagai kejahatan lainnya.

Bukan hanya itu, bahkan kelompok inilah yang akan selalu setia menjadi tikus-tikus suruhan kelompok ketiga. Demi uang mereka bersedia melakukan kejahatan apa saja yang disuruhkan, termasuk bersedia membunuh para ulama, para dai, para guru, para ustadz.

Hal Inilah yang menjadikan kelompok ketiga sulit terdeteksi sebab mereka tidak perlu turun tangan untuk menyingkirkan siapa saja yang dianggap sebagai penghalang kepentingannya. Mereka memiliki mesin-mesin uang yang mampu membeli jiwa dan raga kelompok manusia keempat untuk melakukan apa yang mereka inginkan.

Saya sangat yakin kalau jenis kelompok keempat inilah jenis manusia yang menggila-gilakan dirinya lalu mendatangi majelis-majelis pengajian, masjid-masjid atau pesantren-pesantren dengan mengincar para kyai, para dai, para guru, para ustadz, untuk mereka bunuh. Tapi siapakah dalang atau otak dibalik kejahatan mereka. Sudah tentu kelompok ketiga. Allahu a’lam. Semoga Allah menolong ummat Islam dari tipu daya dan makar mereka.

Demikian materi ini saya sampaikan semoga Allah menjadikan saya dan anda sebagai kelompok yang pertama. Dan semoga Allah menjaga dan melindungi kita dari kelompok ketiga dan keempat.

************

Penulis: Dr. Samsul Basri

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)