Ustadz Usman Laba dalam keluarga adalah sosok suri tauladan. Beliau tidak hanya dikenal dari keseriusannya mendidik santri-santri tahfidz di pondok yang dibinaanya, tetapi juga sangat konsen pada pendidikan dan penanaman nilai-nilai Islam dalam keluarga sangat menonjol. Diantara kenangan keluarga besar yang sangat berkesan adalah:

Mengajarkan Keterbukaan dan Tidak Ta’assub dalam Berorganisasi

Ustadzah Herniaty adalah diantara kader awal Wahdah Islamiyah yang tidak pernah mengenal warna lain organisasi selain Wahdah Islamiyah. Di organisasi inilah ia dibesarkan, dibimbing, dan dikader, sehingga kebersamaan panjang dengan organisasinya secara naluri sadar atau tidak memunculkan bibit ta’assub yang cukup tinggi. Setelah menikah dan menjalani kehidupan bersama dengan ustaz Usman Laba, sang suami banyak mengajarkan nilai-nilai pentingnya kebersamaan dan keterbukaan dengan lembaga dakwah lainnya kepada sang istri.

Sebagai salah satu contoh, sang Istri secara rutin diajak berziarah kepada kenalan-kenalan Ustadz Usman Laba, seperti berziarah ke PP. Darul Istiqomah Maccopa Maros, PP. Darul Aman Daya, dan juga secara berkala bersilaturrahim kepada rekan-rekan seperjuangan beliau semasa di Pakistan.

Dengan Darul Istiqomah Maccopa Maros, Ustadz Usman Laba memiliki kisah tersendiri. Sebagai seorang yang pernah menuntut ilmu pada lembaga ini, beliau sama sekali tidak pernah melupakan jasa-jasa para pembina yang sejak awal mendapingi perjalanan beliau menuntut ilmu, secara khusus K.H. Ahmad Marzuki Hasan dan K.H. Arif Marzuki. Terlebih lagi karena K.H. Marzuki Hasan menaruh “kekecewaan” kepada Ustadz Usman setelah beliau meninggalkan Pondok dan memilih bergabung bersama “Jamaah” berangkat ke Pakistan.

Meskipun tahu bahwa sang guru kecawa kepadanya, tidak menjadikan Ustadz Usman Laba menjaga batas dengan sang guru, bahkan beliau terus berziarah membuka kembali komunikasi yang memang selama menjadi santri sangat dekat dengan Kiai Marzuki Hasan. Bahkan Ustaz Usman masuk dalam deretan murid-murid yang sangat disayangi dan dibanggakan oleh Kiai Marzuki Hasan.

Sang Guru begitu faham dengan kemampuan Ustadz Usman Laba, sehinggi diminta untuk mengabdi di pondok, bahkan akan dinikahkan, tetapi beliau menolak dan lebih memproritaskan menuntuk ilmu kemudian berangkat ke luar negeri untuk belajar. Sehingga sekembali dari Paksitan jika Ustadz Usman berziarah ke sang guru kadang beliau tidak begitu dipedulikan (dicuekin), meskipun demikian, beliau sama sekali tidak pernah merasa kecewa bahkan terus menyambung silaturrahim dengan salah satu guru yang sangat dimuliakannya.

Sehingga masa-masa akhir kehidupan Kiai Marzuki Hasan, khususnya ketika beliau masuk rumah sakit untuk perawatan, Ustadz Usman Laba dengan segala kebesaran hatinya, menjenguk dan sekaligus meminta maaf kepada sang guru atas segala kesalahan yang pernah ia lakukan.

Mengajarkan Nilai Ihtiram dan Tasamuh

Seringkali Ustadz Usman Laba menceritakan kondisi jamaah-jamaah di Pakistan kepada sang istri sebagai gambaran betapa bervariasinya kelompok-kelompok dalam Islam, tentu diantaranya ada yang bisa berjalan berdampingan adapula yang sama sekali tidak bisa bersama.

Dari penjelasan-penjelasannya tentang gambaran warna warni jamaah lalu disambungkan dengan apa yang sang istri dapatkan dalam halaqah-halaqah di Wahdah Islamiyah akhirnya ia mampu melihat kondisi ummat lebih konperhansif dan meluas, untuk selanjutnya sebagai bekal dalam interaksi dakwah dalam dunia nyata.

Pesan penting dari gambaran bervariasinya jamaah-jamaah ini adalah keinginan beliau mengajarkan nilai ihtiram (penghormatan) dan tasamuh (toleransi) ungkap sang istri. Bukan hanya sekedar teori, lebih dari pada itu dalam interaksi dengan jamaah apakah secara individu atau kelompok, Ustadz Usman Laba sangat menekankan dua prinsip penting ini yaitu Ihtiram dan Tasamuh

Mengajarkan Prinsip Keikhlasan dalam Keluarga

Beliau adalah sosok yang tenang dalam menghadapi setiap kondisi, ini terbukti ketika membersamai kehidupan rumah tangganya yang tidak lepas dari “guncangan-guncangan” ringan kehidupan rumah tangga. Satu hal yang selalu ditekankan kepada istri dan anaknya yaitu keikhlasan dalam berbuat dan berjuang.

Oleh karena itu, diantara prinsip beliau yang selalu ditekankan sehingga menjadi semangat gerak langkah rumah tangganya adalah “perhatikan niat karena pada akhirnya Allah akan melihat siapa yang jujur dalam hatinya”

Menanamkan prinsip “Al Quran adalah No satu” dalam keluarga

Keluarga besar Ustadz Usman Laba mengenalnya sebagai sosok suri tauladan dalam akhlaq dan pembinaan keluarga. Harapan tersebarnya adalah menjadikan anak-anak keturunannya menjadi “ahlul Qura’an”. Beberapa bulan sebelum meninggal dunia, Ustadz Usman Laba menceritakan harapan-harapannya untuk anak-anaknya.

Dalam percakapan dengan sang istri, Ustadz Usman Laba Sempat mengatakan bahwa Si Sulung Thal’at dan adiknya Muadz harus melanjutkan rihlah thalabul ilmi-nya (rihalah menuntut Ilmu) sampai ke luar negeri. Hal itu disampaikan ketika kedua anaknya itu masih mondok di Jogjakarta untuk belajar tahsin dan mengambil sanad, walaupun tidak sempat ambil sanad karena musibah meninggalnya sang ayah yang dicintai.

Padahal pesan Ustadz Usman ke mereka berdua jangan pulang sebelum mendapatkan sanad. Tetapi karena kondisi di pondok dan rasa tanggungjawab melanjutkan perjuangan orang tuanya, serta kondisi sang ibu yang tinggal sendiri ditambah untuk membersamai adik-adiknya akhirnya keduanya mengatakan kapada ibunya: “saya kalau urusan sanad bisa nanti lain waktu ummi, jika Allah megizinkan”.

Dalam perjalanannya akhirnya beberapa sanad telah diselesaikan oleh Thal’at dan Muadz diantaranya sanad ilmu Tuhfah dan Jazari. Saking seriusnya untuk mengirim anak-anaknya belajar ilmu dan adab kepada masyaikh di luar negeri, beliau sudah menghitungkan biaya-biaya yang dibutuhkan oleh anak-anaknya sekiranya berangkat nantinya.

Beliau tidak mau hanya berpatokan menunggu beasiswa agar anaknya bisa melanjutkan pendidikannya keluar negeri, beliau bahkan sudah menyiapkan strategi untuk itu. Saking besarnya semangat mengutus mereka belajar ke luar negeri, beberapa hari sebelum meninggal dunia, niat mulia ini kembali disampaikan kepada sang istri.

Prinsip pendidikan abah (ayah) kepada kami itu memfokuskan kami pada Alqur’an. Bagi abah Al Qur’an yang nomor satu, pelajaran lainnya di belakang. Sehinggah Abah termasuk sangat ketat kepada kami jika berkaitan dengan Al Qur’an kenang Juwairiah binti Ustadz Usman Laba.

Menanamkan prinsip Tadhiyah (Pengorbanan) dalam Mengelola Pondok

Prinsipnya, Pondok Adalah “Proyek Akhirat Bukan Proyek Bisnis”. Pesan penting Ustadz Usman Laba kepada keluarganya adalah selalu menekankan akan arah dan prinsip pondok yang mereka bina. Beberapa bulan sebelum meninggal dunia, ia juga kembali megingatkan kepada sang istri bahwa “pondok ini adalah proyek akhirat bukan proyek bisnis”, maka jangan sama sekali menjadikan pondok ini sebagai proyek bisnis dan jangan sampai ada orang yang tidak jadi masuk tahfidz hanya karena soal biaya.

Selanjutnya, Ustadz mengingatkan keluarganya, kebijakan-kebijakan yang sudah ada selama ini, yaitu jatah khusus bagi anak yatim dan dhuafa yang ingin menghafal harus berjalan dengan baik.

Salah satu cita-cita mulia Ustadz Usman adalah keinginannya mendirikan sebuah lembaga tahfidz khusus yang menampung anak-anak yaitm dan dhuafa. Untuk itu, ustad senantiasa mengajarkan kepada keluarga untuk berwirausaha. karena dalam pandangan Ustadz Usman, banyak ibadah yang bisa dilakukan jika kita punya kelapangan harta.

Meskipun memang pada prakteknya wira usaha yang dijalankan oleh Ustadz Usman Laba tidak dikelola secara langsung, karena beliau tidak ingin waktunya habis untuk urusan tersebut, sementara pondok sangat membutuhkan perhatiannya. Kepiawaian dalam berwira usaha yang dimilikinya diraih tanpa pelatihan dan pendidikan tetapi melalui peraktek langsung dan pengalaman, beliau dikenal dengan usaha peternakan sapi dan kambing yang dikembangkanya. Kemampuan inipun terwariskan kepada beberapa muridnya, diantaranya ustaz Ahmad Pamujinarto dan ustaz Marli Abd. Hamid.

Menanamkan prinsip Qudwah dalam keluarga

Muadz salah satu anak Ustadz Usman mengenang sang ayah, mengatakan bahwa yang paling saya ingat dari abah (ayah) adalah, pemberian contoh atau qudwah kepada kami, beliau adalah orang yang sedikit bicara dan lebih banyak berbuat, sehingga tidak ada suatu perintah yang beliau perintahkan kecuali sudah beliau contohkan.

Demikian halnya dengan Juwairiah menganang ayahnya: “Yang paling terkenang di hati saya sendiri sebagai anak dari abah adalah dari kesabarannya, tawadhu’nya, qona’ahnya. Sekaligus perhatiannya kepada kami. Jika ummi (ibu) sedang ada tugas dakwah di luar, maka yang memasakkan kami makanan adalah abah, bahkan hal yg sepele pun ia lakukan, mengupaskan buah untuk kami lalu menyuapi kami satu persatu, bahkan tidak ada bagian yang ia makan kecuali hanya sesuap atau dua suap.

Sumber / Referensi:
1. Harniaty Latief (Istri Ustadz Usman Laba)
2. Mua’dz (Anak kedua Ustadz Usman Laba)
3. Juwairiah (Anak ketiga Ustadz Usman Laba)
4. Umar Syam (Keponankan Ustadz Usman Laba)

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, 25 September 2020

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan