Setelah perjalanan panjang bersama para huffadz (baca: penghafal Al Qur’an) di tahfidz Kassi dengan segala tantangannya, akhirnya pada tahun 2013 Ustadz Usman Laba menyetujui pindah meninggalkan lokasi Kassi dengan pertimbangan lokasi yang sudah sangat tidak kondusif untuk para penghafal.

Di musim hujan genangan air selalu naik ke jalan-jalan pesantren, tidak sedikit moment mereka harus berhadapan dengan banjir yang tidak biasa karena air sekitar pesantren terkontaminasi oleh sampah yang berada di sekeliling. Tiap tahun banjir semakin parah ditambah airnya sudah cenderung mirip dengan comberan bau dan gatal.

Oleh karena itu, untuk mencari ketenangan bagi para santri akhirnya beliau pindah ke daerah Pattalassang tepatnya di dusun Balangpapa desa Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa. Disana Ustadz mulai merintis bersama pemilik pondok yaitu bapak Adi Mulia (guru Mts Model Alauddin Makassar) sebagai ketua yayasan yang diberi nama Yayasan Al Amin Nur Enre.

Ustadz Usman sendirilah yang menamai pondok itu dengan nama Wadi Salam yang lebih dikenal di kalangan santri dengan istilah WS. Nama Wadi Salam yang bermakna lembah penuh dengan keselamatan atau kesejukan terinspirasi dari lokasi pondok yang mirip-mirip lembah di kelilingi oleh gunung-gunung.

Setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, pembangunan dan peminat terus bertambah antusiasme santri yang ingin belajar Al Qur’an kepada Ustadz Usman pun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Melihat kondisi yang ada, beliau menganggap pesantren sudah bisa berjalan mandiri, Ustadz Usman pun meminta izin untuk pamit untuk kembali merintis pesantren tahfidz yang lainnya, apatahlagi setelah beliau mendengarkan berbagai macam usulan dari para santri dan binaan beliau selama ini agar beliau mendirikan pesantren sendiri.

Dari Wadi Salam, beliau mendapatkan tawaran salah seorang pemilik lahan di daerah Pallangga, tepatnya di daerah Parang Banoa kurang leboh 1 KM dari kampus IPDN Tanralili Kabupaten Gowa. Lokasi yang cukup luas tepat berada di samping sungai Je’neberang. Untuk menjangkau lokasi ini, paling cepat dengan menggunaan perahu sewa.

Baca Juga:

  1. Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 1): Ustadz Usman Laba, Sang Guru Para Penghafal Qur’an
  2. Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 2): Perjuangan Ustadz Usman Laba Menuntut Ilmu ke Negeri Ali Jinnah Pakistan

Perintisan lokasi ini lakukan oleh Ustadz Usman bersama dua santri dekatnya yaitu Umar Syam dan Kamil Arsyad, boleh dikata mereka bertiga memulai semuanya dari awal. Tapi semangat juang mendirikan dan membumikan Al Quran sudah menjadi cita-cita mulai Ustadz Usman sehingga tantangan-tantangan yang dihadapi seakan menjadi sangat ringan bagi beliau.

Dari Parangbanoa inilah kemudian lahir pondok Wadil Qurro’ meskipun di sana Ustadz Usman tidak begitu lama hanya sekitar kurang lebih 3 tahun lalu beliau memutuskan untuk pindah disebabkan ada sedikit masalah yang terjadi. Akhirnya perjalanan “Sang Pejuang tahfidz” Ustadz Usman Laba di tahun 2017 berpindah ke lokasi baru yang cukup bagus di Dusun Peo Desa Belabori Kec. Parangloe Kabupaten Gowa.

Perpindahan ini dimulai setelah adanya tanah wakaf dari Bapak H. Tahruna Madjang (Pensiunan PLN). Di lokasi ini perjuangan Ustadz Usman Laba cukup mudah karena tidak berselang lama dari adanya tanah wakaf, beliau pun mendapatkan donator dari salah seorang Syekh yang siap membangun pondok 1 paket lengkap.

Karakter Ustadz Usman Laba Mendidik Santri

Seorang pendidik akan menjadi begitu berkesan terhadap seluruh anak didiknya karena adab dan akhlaq. Itulah yang dirasakan oleh seluruh santri yang pernah dibina langsung oleh Ustadz Usman Laba. Sejak pendirian tahfiz pertama pada tahun 1998 sampai akhir hayat beliau di tahun 2018. Sekitar 20 tahun beliau membina tahfiz, seluruh santri akan selalu mengenang akhlak mulia beliau.

Diantara kenangan adab dan akhlaq Ustadz Usman Laba kepada para santri:

Pertama: perhatian yang sangat tinggi kepada santri.

Ustadz Usman Laba sangat perhatian kepada para santri, sejak awal membina, sudah menjadi kebiasan beliau untuk selalu mengontrol konsumsi santri-santrinya. Bahkan dalam kenangan santri awal beliau mengatakan bahwa ustaz Usman Laba saat membina kami tidak pernah makan lebih dulu dari santrinya.

Ia akan mengecek seluruh santri untuk urusan makan dan konsumsi mereka, nanti setelah meyakinkan seluruh santri telah menikmati komsumsi yang sudah disediakan barulah beliau ikut menikmati komsumsi yang sudah disediakan. Kenang-kenangan seperti ini, menurut Ustadz Ahmad Zahid salah satu santri pertama Ustadz Usman Laba begitu mengharukan dan membuat kenangan indah takterlupakan bersama sang guru.

Waktu beliau hampir seluruhnya didedikasikan untuk santri, ketika permintaan-permintaan mengisi pengajian di luar pondok sudah mulai ramai, beliau hanya menyanggupi beberapa saja yang tidak terlalu menyibukkan beliau di luar pondok.

Suatu ketika sang Istri bertanya, mengapa beliau tidak menerima undangan-undangan tersebut, Ustadz Usman hanya menjawab “ustaz-ustaz di luar sana sudah cukup banyak yang bisa mengisi taklim dan pengajian umum, biarlah saya di sini bersama dengan santri, menerima hafalan, mengarahkan dan membina mereka. Ustadz Musri Madung yang cukup lama tinggal bersama Ustadz Usman di kompleks Pondok Tahfizh Kassi mengatakan: beliau adalah sosok pendidik yang penuh perhatian terhadap murid-muridnya.

Kedua: kesabarannya dalam mendidik para huffaz.

Belum ada yang bisa menyamai kesabaran Ustadz Usman Laba dalam membina tahfiz, setiap harinya rutin beliau duduk membersamai santri mendengarkan setoran hafalan mereka dari setelah salat Subuh sampai sekitar pukul 7 pagi, kemudian lanjut lagi pada pukul 9 sampai 12 siang, tanpa istirahat siang beliau kembali duduk mendengarkan setoran santri pukul 13.30 sampai 15.30. Demikian waktu-waktu lainnya juga digunakan untuk membersamai seluruh santri.

Nyaris tidak pernah beliau terlihat marah kepada santri bagaimanapun bandelnya santri tersebut. Karena prinsip membina beliau “selama santri itu mau tinggal di pondok Insya Allah berarti dia masih mau dididik apatalagi dia masih shalat”. Kemarahan beliau kadang nampak jika terjadi pelanggaran syariat oleh santri.

Baca Juga:

  1. Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 3): Kenangan dan Kesabaran Ustadz Usman Laba di Islamabad Pakistan
  2. Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 4): Ustadz Usman Laba Mulai Berkiprah Dalam Perjuangan Dakwah di Sulsel

Pernah terjadi, salah seorang santri senior di tahfidz kassi yang harus mengikuti ujian persamaan di Nusa kab Bone, santri tersebut untuk mengikuti ujian memotong jenggotnya sebagai persyaratan untuk foto ijazah. Mengetahui hal tersebut Ustaz Usman sangat marah lalu mengatakan “kalian rela jual Sunnah dengan ijazah yg tak bernilai di mata Allah, Ijazah itu tidak lebih dari selembar lembaran kertas biasa”. Saking kecewanya, cukup lama beliau diamkan santri tersebut sebagai bentuk kekecewaannya dan ta’zir (peringatan) bagi yang lain akan kesalahan fatal yang telah dilakukan, meskipun santri tersebut adalah salah seorang yang dianggap sangat unggul dari sisi hafalan di pondok.

Dalam satu kesempatan, sekitar lima bulan sebelum beliau meninggal dunia, Umar Syam sebagai salah satu Pembina pondok mengeluhkan kondisi beberapa santri yang cukup bandel dan sulit diatur. Mendengarkan keluhan salah satu pembinanya, Ustadz Usman Laba hanya mengarahkan agar anak-anak santri yang dianggap bandel itu diajak ziarah ke pekuburan lalu diingatkat tentang kematian, semoga dengan mengingat kematian semoga Allah melembutkan hati mereka.

Ketiga, mengajarkan kepada santri untuk selalu tawakkal kepada Allah dalam kehidupan.

Umar Syam, keponakann sekaligus murid setia Ustadz Usman Laba, ia mengikuti perjalanan paman sekaligus gurunya, sejak di Pondok Kassi sampai Ustadz Usman meninggal dunia mengatakan bahwa satu hal penting yang kami pelajari dari Ustadz Usman adalah ketawakkalan beliau kepada Allah yagn sangat tinggi.

Prinsip mengelolah lembaga tahfiz yang sangat ditekankan adalah tidak setuju dengan “proposal” karena bagi beliau “proposal” seperti itu adalah bentuk meminta-minta kepada manusia. Begitupun beliau Rahimahullah kalau mengerjakan pekerjaan beliau tidak mau minta bantuan selagi Ust masih bisa kerja sendiri, terkadang kami yg harus pekah. Dulu kami selalu tawarkan kalau kemana-mana kami siap antar Ust kemanapum mau pergi, cuma begitulah karakter Ust tidak mau merepotkan orang lain

Sumber / Referensi:
1. Musri Madung (Ketua Dep. Sosial DPP WI)
2. Umar Syam (Pembina PP. Wadil Qurro sekaligus keponakan Ustadz Usman Laba)
3. Ashim (Murid Senior Ustaz Usman Laba, Pengajar tahfidz Abu Bakar As Siddiq DPD Bulukumba)
4. Mansur Taswin (Murid Senior Ustaz Usman Laba/Anggota LP3Q DPP WI)
5. Harun Soleh (Santri Tahfidz Angkatan Pertama/Anggota Keamanan DPP WI)
6. Ahmad Zahid (Santri Tahfidz Angkatan Pertama/Ketua LP3Q DPD WI Enrekang)

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, 18 September 2020

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)