Setelah beberapa tahun menjelajah untuk menuntuk ilmu mulai dari India sampai ke Pakistan, akhirnya pasca kecelakaan Ustadz Usman Laba terpaksa harus dipulangkan, dimana sebelumnya sempat menghabiskan beberapa bulan di Kedah Malaysia untuk terapi, pada sekitaran tahun 1996 Ustadz Usman Laba memutuskan kembali ke tanah air.

Sesampai di Indonesia, beliau bergabung bersama kawan-kawannya dari yayasan Fathul Muin (Nama sebelum berubah menjadi Yayasan Wahdah Islamiyah). Perkenalan awal dengan yayasan ini diawali oleh pertemuannya dengan Ustadz Hidayat Hafid beberapa kali selama di Islamabad.

Sehingga ketika kembali ke Makassar, beliau dengan mudah berinteraksi bahkan tinggal bersama Ustadz Hidayat Hafid dan Dr. Rahmat Syam di sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai kantor travel Haji dan Umrah yang bernama Dua Intan berlokasi di Jalan Veteran Selatan Makassar.

Berselang beberapa waktu, Ustadz Zaitun Rasmin memperkenalkan Ustadz Usman kepada tim di Yayasan Islam At Taufiq sebuah kursus Bahasa Arab yang diketuai oleh Ustadz Taufan Djafry, Ustadz Iskandar Kato sebagai sekretaris dan bendaharanya adalah Ustadz Supriadi Yusuf Boni, yayasan pendidikan ini merupakan cikal bakal lahirnya Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA). Demikianlah aktivitas Ustadz Usman Laba terus bergulir bersama kawan-kawan seangkatannya di yayasan Fathul Muin.

Setelah Yayasan Fathul Muin berubah menjadi Yayasan Wahdah Islamiyah di tahun 1998, dimulailah lembaga Tahfidz Al Quran sebagai wadah pembentukan kader yang selain memiliki semangat dakwah yang kuat juga memiliki hafalan Al Qur’an yang baik. Terlebih ketika itu belum banyak yang memiliki kualitas hafalan Al Qur’an yang mutqin (baca: berkualitas).

Ustadz Usman Laba dan Dedikasi untuk Lembaga Tahfidz Wahdah Islamiyah

Sejak awal dibentuknya lembaga Tahfidz Wahdah Islamiyah, Ustadz Usman Laba telah menjadi salah seorang Pembina bahkan boleh dikata yang paling terdepan menggawangi pembinaan para huffadz (baca: penghafal Al Qur’an) dengan dedikasinya yang sangat tinggi terus membersamai pasang surur serta suka duka Tahfidz Wahdah Islamiyah yang beberapa kali berpindah tempat.

Tahfidz Wahdah Islamiyah dimulai sangat sederhana dengan peserta didik hanya berjumlah tujuh orang yaitu Ahmad Zahid asal Enrekang, Hamka dan Ismail berasal dari Toli-toli, Harun Soleh dari Kolaka Utara Sulawesi Tenggara, Irfan dan Syuaib dari Makassar serta Akbar Selle dari Pinrang.

Ketujuh peserta tahfidz angkatan pertama ini dididik langsung oleh Ustadz Usman Laba di Masjid Wihdatul Ummah sebagai lokasi awal penyelenggaraan program. Selama kurang lebih dua tahun berada di lokasi masjid, tidak sedikit tantangan yang dihadapi khususnya konsentrasi sebagian peserta didik sering kali terganggu dimana ketika itu masjid yang menjadi tempat menghafal dan mengulang hafalan juga menjadi tempat mahasiswa angkatan pertama Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar melangsungkan perkuliahan. Meskipun demikian kata Ustadz Ahmad Zahid, semua bisa dilalui dengan kesabaran dan usaha keras.

Dibalik tantangan yang dialami, selalu tersimpan hikmah-hikmah yang dalam. Karena ditempatkan di lokasi yang sama antara santri tahfidz dan mahasiswa STIBA Makassar, menjadikan kedekatan diantara mereka terbangun dengan sangat baik. Ditambah ketika itu, semua masih serba gratis dengan adanya berbagai donator yang mensupport program bahkan konsumsi para peserta didik.

Untuk memudahkan akses dan maksimalisasi menjalakan amanah, Ustadz Usman Laba yang ketika itu masih lajang, memilih untuk pindah ke lokasi yang lebih dekat dengan Masjid Wihdah, dipilihlah Jl. Abdullah Dg. Sirua sebagai lokasi stategis untuk itu, dengan harapan lebih dekat dengan tempat tugas. Selain sebagai pembina tahfidz, beliaupun dinobatkan sebagai imam tetap masjid Wihdatul Ummah yang masih sangat sederhana.

Pada saat itulah, “Sunnah” shalat satu juz pada setiap malam Ramadhan dimulai. Oleh sebab itu, boleh dikata beliaulah pelopor awal shalat satu juz dalam semalam di bulan Ramadhan yang hingga hari ini terus berkembang di banyak masjid-masjid di kota Makassar.

Dalam proses pembinaan inilah jodoh Ustadz Usman pun hadir. Pada tahun 1998 Ustadz Usman Laba menikah dengan Ustdzah Harniaty Latief yang merupakan salah satu kader Yayasan Fathul Muin ketika itu.

Setelah kurang lebih dua tahun berada di Masjid Wihdatul Ummah, tahfizh pun dipindahkan ke sebuah rumah di jalan Mapala Makassar. Tempat ini asalnya adalah salah satu tempat yang dikontrak oleh yayasan al Haramain untuk dijadikan rumah anak yatim akan tetapi karena beberapa kendala program yayasan ini tidak berjalan maksimal. Karena tempat yang cukup luas ini tidak termafaatkan secara maksimal, bangunannya pun beralih fungsi menjadi asrama sekaligus pusat jalannya program tahfidz.

Lokasi baru ini sangat menguntungkan dari satu sisi karena memudahkan seluruh peserta lebih fokus, tapi disisi yang lain bermasalah karena tidak tersedianya masjid khusus untuk berjamaah dan menghafal.

Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain kecuali bergabung bersama masyarakat di masjid terdekat. Akan tetapi gerakan mereka sangat terbatas, karena sering kali para santri masih ingin melanjutkan hafalan di masjid tersebut tapi karena adanya aturan-aturan oleh pengurus masjid sehingga mereka sangat terbatasi. Di tempat ini Ustadz Usman Laba bersama istri dan anaknya tinggal di lantai satu bangunan rumah.

Keberadaan tahfidz ditempat ini tidak begitu lama hanya sekitar kurang dari setahun. Kemudian berpindah ke Kassi lokasi baru yang penuh dengan tantangan, kotoran sapi di sepanjang jalan yang mengharuskan para penghafal harus menutup hidung saat melintas, ditambah bau sampah yang kadang sangat menyengat, juga diperparah kadang dengan naiknya air ke lokasi pesantren di musim hujan.

Sekitar 2 tahunan dilokasi ini, karena kebanjiran, semua peserta didik dipindahkan ke Antang (kantor DPP Wahdah Islamiyah) saat ini. lalu akhirnya dikembalikan lagi ke Kassi setelah lokasi tersebut ditinggalkan oleh mahasiswa STIBA ke kampus mereka yang baru di Manggala (STIBA Sekarang ini).

Semua perjalanan ini dilalui dengan penuh kesabaran oleh Ustadz Usman Laba, baginya selama mengurus pondok tahfidz dan berkhidmat untuk para penghafal itu akan dilaluinya dengan penuh pengharapan pahala.

Sumber / Referensi:
1. Harniaty Latief (Istri Ustaz Usman Laba)
2. Iskandar Kato (Ketua Pustilbang DPP WI)
3. Musri Madung (Ketua Dep. Sosial DPP WI)
4. Hidayat Hafid (Anggota Dewan Syuro WI)
5. Ashim (Murid Senior Ustaz Usman Laba)
6. Hirwan Laba (Kepala Pesantren Tahfidz Wadi Al Quro)
7. Mansur Taswin (Murid Senior Ustaz Usman Laba/Anggota LP3Q DPP WI)
8. Harun Soleh (Santri Tahfidz Angaktan Pertama/Anggota Keamanan DPP WI)
9. Ahmad Zahid (Santri Tahfidz Angkatan Pertama/Ketua LP3Q DPD WI Enrekang)

***********

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan