Selama berada di IIU Islamabad, Ustaz Usman Laba dikenal dengan ketekunan dan kesabarannya dalam menuntut ilmu, ditambah karakter baiknya kepada sesama mahasiswa, sehingga siapa saja yang berinteraksi dengan beliau mengenal baik sosok pendiam tapi pekerja keras ini.

Ia sangat tekun dalam menuntut ilmu, salah satu pengajar yang menjadi favoritnya selama menuntut ilmu di Pakistan adalah Syekh Dr. Tal’at Muhammad Afify Salim, salah seorang pengajar di International Islammic University Islamabad Pakistan rentang waktu dari tahun 1991-1997.

Bagi Ustadz Usman Laba, sosok dosen yang satu ini begitu menarik perhatiannya, mulai dari cara mengajarnya di kelas sampai pada interaksi muamalahnya dengan para pelajar. Saking senangnya dengan sosok ulama Al Azhar Mesir ini, Usman Laba pun terinspirasi untuk menamakan anak pertamanya dengan nama Muhammad Thol’at Afify tentu saja dengan harapan bahwa kelak si buah hati ini bisa menjadi ulama yang berperan di tengah-tengah ummat sebagaimana sang guru yang telah menghabiskan sekian tahun mendidik dan membina seluruh pelajar yang datang dari belahan negeri kaum muslimin.

Ustadz Usman Laba Terpaksa Dipulangkan Karena Kecelakaan

Kisah “dipulangkan” Ustadz Usman Laba berawal saat empat sekawan mahasiswa Indonesia akan rekreasi mengisi liburan musim panas dengan memancing di sebuah bendungan.

Al kisah, seperti biasanya, di musim panas adalah masa liburan bagi seluruh mahasiswa di Islamabad. Moment liburan seperti ini dimanfaatkan oleh para pelajar dengan membuat agenda kegiatan sendiri-sendiri, ada yang menghafal, ada yang mengikuti daurah musim panas yang kadang dilaksanakan di dataran tinggi wilayah Pakistan, ada yang mengukuti Summer Class (kelas musim panas), dan ada pula yang hanya menghabiskan waktu liburannya di asrama.

Cuaca Islamabad di musim panas boleh dikata cukup tinggi meskipun masih banyak wilayah di Pakistan yang tingkat kepanasannya jauh lebih tinggi dari Islamabad. Ternyata perbedaan iklim dari tropis Indonesia ke iklim yang memiliki empat musim kadang membuat mahasiswa Indonesia kewalahan, khususnya ketika cuaca panas telah sampai pada puncaknya.

Musim Panas tahun 1997 tersebut menjadi yang terakhir bagi Ustadz Usman Laba berada di Pakistan. Setelah beliau dan beberapa mahasiswa kembali dari Tanah Haram menunaikan ibadah haji, otomatis tidak ada perkuliaah kecuali bagi mahasiswa yang memiliki Summer Course (kelas musim panas). Ustadz Usman dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya berbincang ringan mencari kegiatan untuk bisa mengisi hari di musim panas itu.

Setelah berdiskusi, empat orang mahasiswa yaitu Usman Laba, Solihin, Achmad Naufal dan Ismail sepakat untuk mengisi waktu liburan dengan memancing. Selain melepas penat, mencari suasana yang lebih adem, memancing bagi mahasiswa Islamabad khususnya yang berasal dari Indonesia adalah merupakan kegiatan yang sangat digemari, selaian untuk refreshing tentu hasil pancingan bisa menjadi tambahan lauk makan di asrama.

Setelah empat orang mahasiswa ini sepakat untuk memancing, mereka memilih Rawal Lake (Danau Rawal) sebagai destinasi. Sebuah waduk buatan yang berlokasi di sudut kota Islamabad berukuran sangat luas yaitu 8,8 KM2 menjadi pemasok kebutuhan air untuk dua kota bertetangga yaitu Rawalphindi dan Islamabad. Tempat ini memang sudah menjadi salah satu destinasi wisata bagi warga Islamabad secara khusus dan Pakistan pada umumnya, demikian halnya dengan mahasiswa dari bebagai negara.

Semua melakukan persiapan, mereka bergegas keluar meninggalkan asrama dengan mengendarai dua unit sepeda motor. Ustadz Usman berangkat bersama Ismail dan Solihin bersama dengan Achmad Naufal. Keemapat Mahasiswa ini lalu berangkat menuju lokasi yang berjarak sekitar kurang lebih 13 Km dari Kuwait Hostel (Asrama Kuwait) sebuah asrama yang berada satu lokasi dengan Faisal Masjid.

Rombongan ini keluar meninggalkan asrama bersamaan, walaupun kendaraan Ustadz Solihin yang berboncengan dengan Achmad Naufal lebih duluan beberapa menit di depan kendaraan Ustadz Usman Laba. Sesampai di salah satu tikungan kota, tepatnya di tikungan Jinnah Market (Jinnah Park) Solihin mendengar suara gemuruh hantaman keras, sontak Solihin mengingat Ustadz Usman yang berada di belakang bersama Ismail, secara otomatis menganggakat suaranya menyampaikan ke Achmad Naufal, “pak kiai!!!”, dengan sigap Achmad yang mengendarai motor berbalik arah menuju ke sumber suara.

Sesampai di lokasi, ternyata dugaan mereka tidak meleset, di tengah jalan nampak sosok Ustadz Usman berlumuran darah, dari mulutnya pun telah mengeluarkan darah meskipun yang patut disyukuri ketika itu beliau masih dalam kondisi sadar. Dengan berlumuran darah nampak Ustadz Usman memegang kakinya yang patah, jelas terlihat bergelantungan di balik pakaian Kurta (pakaian khas Pakistan) yang digunakannya.

Dalam kondisi yang serba panik itu, Solihin menghampiri beliau memperhatikan kondisinya secara seksama, ternyata bukan hanya kaki bagian atas mata kaki yang patah, tiga gigi beliau juga rontok dan tiga lainnya patah. Semua panik, tetapi tidak bagi Ustadz Usman, nampak kesabaran yang luar biasa di hari itu, sosok yang tidak berdaya, berlumuran darah dengan gigi patah dan rontok, tidak ada satu pun kata mengeluh bahkan tidak ada satupun suara desahan kesakitan yang keluar dari lisannya.

Tanpa pikir panjang, Solihin segara mengambil tindakan, ia menahan sebuah taxi untuk segera membawa Ustadz Usman ke Rumah sakit terdekat. Mereka membagi tugas, Ismail diminta mengurus kendaraan dan Nauful mengikuti taxi dengan sepeda motornya. Karena saking tegangnya, sampai-sampai tidak ada satu pun diantara mereka yang mengurusi bus yang menambrak Ustadz Usman.

Sesampai di rumah sakit, melihat kondisi yang cukup parah, dokter memutuskan harus segera dilakukan operasi. Solihin yang mendampingi ketika itu tidak berani mengambil keputusan sendiri, maka dihadirkanlah teman-teman Kerukunan Keluarga Sulawesi (KSS) untuk bermusyawarah bagaimana sebagaiknya tidakan yang harus diambil untuk Ustadz Usman.

Karena setelah dilakukan pemeriksaan lebih detail dengan menggunakan X-Ray, ditemukan bahwa ternyata bukan hanya satu bagian tulang kaki Ustadz Usman yang patah tetapi ada dua bagian ditambah bagian lain nampak retak.

Dalam kondisi seperti itu, beliau sangat sabar dan memberikan semua keputusan kepada kawan-kawannya secara khusus yang berasal dari Sulawesi. Anggota KKS pun bermusyawarah yang ketika itu juga dihadiri salah satu teman dekat Ustadz Usman yaitu Saudara Yusni salah seorang pelajar yang berasal dari Kedah Malaysia. Ia pun mengusulkan agar Ustadz Usman tidak perlu dioperasi dengan alasan, operasi nampak ngeri, beliau membayangkan akan adanya operasi, kaki akan dibor dipasangkan pin, lalu jika sudah kering pin itu kembali dikeluarkan. Menurutnya ini memakan waktu yang lama.

Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar Ustadz dibawa ke Kedah rumah beliau untuk berobat kepada salah seorang Bomoh (tukang urut) yang dianggap handal terbukti menurut Yusni selama ini telah mengurut banyak korban patah tulang.

Seluruh anggota KKS setuju dengan usulan Yusni tersebut, maka langkah selanjutnya KKS mengumpulkan dana bantuan untuk kepulangan Ustadz Usman. Dalam waktu yang tidak begitu lama, apalagi mahasiswa baru pulang hajian tentu saja masing-masing punya tabungan sendiri. Maka terkumpullah pembiayaan yang dibutuhkan. Dengan donasi tersebut berangkatlah Ustadz dalam kondisi sakit ke Kedah dengan didampingi langsung oleh Yusni. Sesampai di Kedah, Ustadz Usman menjalani beberapa bulan terapi pengobatan, dan selanjutnya kembali ke tanah air.

***********

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan