Bagi yang pernah belajar filsafat, pasti akan memahami bahwa Plato dan Aristoteles merupakan “filosof raksasa” dalam sejarah filsafat Yunani, seperti Ibnu Sina dan Ibnu ‘Arabi dalam sejarah filsafat Islam. Bisa dibilang, memahami pemikiran dua filosof tersebut, sama dengan memahami semua pemikiran para filosof sebelum dan sesudah mereka.

Sampai-sampai Alfred North Whitehead (filosof dan matematikawan asal Inggris) dalam bukunya, Process and Reality: An Essay in Cosmology menegaskan: “European philosophy consist of a series of footnotes to Plato” (Filsafat Eropa dari dulu sampai sekarang merupakan catatan kaki atau syarah untuk Plato).

Begitulah beberapa penjabaran awal Dr. Syamsuddin Arif dalam kuliah Filsafat Yunani II pertama kami di semester keempat ini (Senin, 21 September 2020). Kalau di semester sebelumnya kami lebih banyak mengkaji biografi dan pemikiran banyak filosof Yunani (mulai dari Thales sampai Plato), semester kali ini kami hanya akan fokus kepada sosok serta pokok-pokok pemikiran Plato dan Aristoteles.

Secara umum, sebagaimana kata Ustad Syam: “Mata kuliah ini akan mengupas pokok-pokok pemikiran Plato dan Aristoteles, dua raksasa dalam jagad filsafat Barat. Dimulai dengan pengenalan konteks sosial politik dan intelektual pada zaman mereka, fokus bahasan adalah konsep-konsep dan teori-teori Plato maupun Aristoteles tentang ilmu pengetahuan, alam semesta, Tuhan, negara, etika dan estetika. Bersama itu pula akan dilakukan perbandingan antara sistem filsafat Plato dengan sistem filsafat Aristoteles untuk melihat kemiripan serta perbedaannya.”

Untuk materi hari ini, beliau hanya fokus kepada konteks sosial-politik-intelektual Plato (429 SM-329 SM). Setelah membahas seputar latar belakang diri keluarganya, ada beberapa hal yang penting dan menarik untuk diketahui oleh khalayak ramai. Pertama adalah ketika ia yang pada awalnya hendak masuk ke wilayah politik praktis, harus dibuat kecewa oleh para penguasa yang cenderung otoriter dan tidak adil. Terutama ketika menjatuhkan hukuman mati kepada gurunya, Socrates, hanya karena dianggap menyebarkan “pemikiran sesat” kepada para pemuda (bukan karena kriminalisasi).

Kedua, kuatnya pengaruh tiga guru Plato terhadap filsafat yang dibangunnya. Pertama, Heraklitus dengan teori harakah, change, flux, dan flow-nya. Yang intinya membahas seputar ketiadaan sesuatu yang tetap, semuanya pasti dan akan berubah. Kedua, Phytagoras (meskipun dua guru tersebut tidak secara langsung mengajar Plato, melainkan lewat murid-murid mereka) dengan riyadhaat, mathematics, harmony, dan symmetry-nya. Ketiga, Socrates dengan jadal, logic, rhetoric, dan debate-nya. Tapi, yang paling kuat pengaruhnya di antara ketiganya, adalah Socrates. Di antaranya karena Plato berguru kepadanya secara langsung sampai ia dihukum mati (selama 20 tahun).

Ketiga, terkait beberapa fakta dari institusi pendidikan Plato yang didirikannya tahun 388 SM, bernama Academy (setingkat perguruan tinggi) di Athena (tempat kelahirannya). Nama itu diambil dari seorang tokoh Yunani bernama Academus yang makamnya terletak di dekat Academy. Besar dan hebatnya pengaruh sekolah ini, membuatnya harus dianggap sebagai universitas Eropa pertama.

Fakta pertama, orang-orang yang datang ke academy tidak hanya dari Athena, tapi juga dari luar Athena bahkan “manca negara”. Kedua, mata kuliahnya tidak terbatas pada filsafat, tapi juga ilmu-ilmu pembantunya, seperti matematika, astronomi, fisika, dan lain sebagainya. Artinya, berbeda dengan kebanyakan universitas sekarang (khususnya di Indonesia) yang hanya mendidik mahasiswa menjadi spesialis sempit, melainkan menjadi seorang multidisiplioner.

Keempat, semua penghuni di sana (mahasiswa dan guru) tidak hanya datang untuk belajar dan mengajar, tapi juga beribadah bersama-sama. Ini dibantu oleh sistem asrama yang juga diterapkan Plato di academy-nya. Artinya, tidak ada dikotomisasi antara aspek spiritual dan kognitif di sana. Keempat, Plato berhasil merekrut guru-guru yang hebat, berkualitas, dan berpengalaman, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Prof. Al-Attas di ISTAC.

Kelima, tujuan yang diterapkan Plato, bukanlah sekedar memproduksi manusia-manusia yang belajar untuk tujuan praktis dan untuk ilmu itu sendiri. Melainkan untuk mencetak philosopher-king, yang punya keilmuan yang tinggi, yang bertindak dengan berani dan tak kenal takut, dan yang mempunyai keyakinan dan keberpihakan kepada kebenaran. Orang seperti ini juga yang dalam konsep kenegaraan Plato, mesti dijadikan pemimpin negara, bukan sekedar “opportunist politicians or demagogues.” Bisa kita simpulkan, lima fakta tersebut, nyaris tidak ada dalam berbagai universitas sekarang ini. Kalaupun ada, rasanya sangat sedikit sekali, khususnya pada poin yang terakhir.

Kurang lebih, itulah beberapa hal yang sekiranya perlu diketahui. Kemudian kuliah kali ini ditutup dengan penyebutan dan pengenalan beberapa karya Plato. Diantaranya: Apology, Crito, Euthyphron, Laches, Ion, Protagoras, Charmides, Lysis, Republic, Gorgias, Meno, Euthydemus, Hippias 1 (Maior) & 2 (Minor), Cratylus, Menexenus, Symposium, Phaedo, dan masih banyak lagi.

Menurut Ustadz Syam, mata kuliah yang sedang kami ampu ini setingkat pasca sarjana. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk bisa memahaminya dan bagi Ustadz Syamsuddin untuk bisa meramunya sehingga mampu kami cerna dengan sebaik mungkin. Untuk itu, kami mohon doanya supaya dimudahkan oleh Allah dalam menjalani jihad keilmuan ini. Semoga ilmu ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kami di kemudian hari. Amin.

************

At-Taqwa College Depok
Senin, 21 September 2020

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)