Corona atau Covid 19 menjadi nama yang paling banyak dibahas saat ini. Satu virus kecil yang mengganggu sistem pernafasan, dan bisa menyebabkan kematian. Media sosial penuh dengan berita tentangnya. Ada yang menyebarkan berita menakutkan, ada juga berita yang memberi harapan. Memang, yang tertular meningkat, yang meninggal dunia bertambah, yang sembuh juga banyak. Sekolah, kantor, bahkan tempat ibadah ditutup sementara. Jalanan lebih sepi dari biasanya. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir. Pastinya, kita tidak boleh putus asa, apalagi menyerah. Ikhtiyar harus tetap dilakukan, doa jangan bosan dipanjatkan. Semoga musibah ini segera berlalu.

Kali ini, izinkan saya berbagi pandangan. Saya tidak akan membahas dari sisi medis, ekonomi apalagi politik. Itu bukan kapasitas dan otoritas saya. Biarlah dokter ahli, ekonom atau pakar politik yang bersuara sesuai bidangnya. Tidak beradab jika saya membahas masalah yang tidak saya pahami. Pepatah Arab mengatakan “idza nathaqa rajulun fii ghayri fannihi, kharajat al-‘ajaib. Jika seorang berbicara yang bukan bidangnya, akan keluar yang aneh-aneh dari lisannya. Sebagai guru, saya akan menyampaikan pandangan sebatas ilmu pendidikan yang pernah saya pelajari.

Di balik musibah Covid 19 ini saya coba melihat sisi baiknya. Saya melihat kehadiran orang-orang baik di sekitar kita. Ada dokter dan tenaga kesehatan yang siap menolong saudaranya. Ada pemimpin yang sangat peduli dan sigap melayani masyarakat. Ada ulama yang memberikan solusi ibadah di tengah wabah. Ada guru yang tetap memberikan pembelajaran jarak jauh untuk muridnya. Ada juga orang baik yang berinfaq untuk meringankan beban saudaranya.

Bagi saya, ini adalah satu pemandangan yang membahagiakan. Di tengah musibah, kita masih punya harapan untuk terus berjuang dan bangkit. Adapun di sisi lain ada yang meremehkan wabah, menimbun barang, atau abai untuk social distancing, itulah PR kita bersama.

Ketika berbicara tentang pendidikan, ada dua hal yang tidak boleh dipisahkan, yaitu adab dan ilmu. Tentang adab, saya ingin menggarisbawahi satu kalimat di atas , yaitu orang-orang baik. Dalam Islam, kehadiran orang-orang baik inilah yang menjadi tujuan pendidikan. Untuk melahirkan orang-orang yang baik harus ada penanaman adab. Oleh karena itu, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, adab tidak boleh diabaikan. Jika adab ini ditanamkan, maka akan lahir insan yang beradab. Mereka inilah yang akan menjadi arsitek peradaban. Bukankah negara ini juga menghendaki wujudnya kemanusiaan yang adil dan beradab?

Undang-undang pendidikan juga menegaskan hal yang sama. Dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi sepertinya sudah ijma’. Tujuannya untuk melahirkan manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Baru kemudian diharapkan memiliki sejumlah kompetensi lainnya. Tujuan ini sudah benar dan sangat indah. Tetapi untuk mewujudkannya memang tidak mudah. Di sinilah perlunya kesungguhan dan kerjasama dari semua pihak. Tujuan yang bagus ini jangan hanya menjadi slogan tanpa pengamalan. Tapi harus benar-benar diusahakan dan dikawal pada tahap aplikasinya.

Dokter, tenaga kesehatan, pemimpin, ulama dan guru yang saya sebutkan di atas adalah orang-orang berilmu. Mereka adalah orang-orang yang spesialis di bidangnya masing-masing. Saya sangat mengapresiasi usaha keras mereka dalam menghadapi Covid 19 ini.

Namun saya punya satu harapan atau impian. Di masa yang akan datang, akan lahir ilmuwan yang tidak hanya ahli di satu bidang keilmuan. Satu ilmuwan harus memiliki otoritas di beberapa bidang. Saya berharap akan lahir sosok ulama yang juga dokter. Atau filosof yang juga pakar ekonomi. Saintis yang juga pakar ulumuddin.

Mungkinkah harapan saya ini terwujud? Bisakah impian saya itu jadi kenyataan? Saya pribadi optimis dan yakin akan terwujud dan menjadi kenyataan. Tentu saja saya tidak bisa sendirian, tapi butuh kerjasama dari banyak pihak.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ada yang disebut klasifikasi ilmu. Banyak ulama telah menyusun klasifikasi ilmu ini. Sebut saja al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Khaldun, Quthbuddin al-Shirazi dan sebagainya. Sayangnya, klasifikasi ilmu ini kemudian seperti dilupakan atau memang tidak dipahami dengan baik. Seyyed Hossein Nasr bahkan menyatakan bahwa pendidikan modern telah rusak. Mengapa? Salah satu faktornya, karena hilangnya klasifikasi ilmu ini. Padahal klasifikasi ilmu adalah bagian dari tradisi Islam.

Kali ini, saya akan membahas klasifikasi ilmu versi al-Ghazali. Dalam masterpiece yang sangat monumental, Ihyâ ‘Ulumiddin, al-Ghazali membagi ilmu kepada ilmu-ilmu fardhu’ ain dan ilmu-ilmu fardhu kifayah. Landasan klasifikasi ilmu ini adalah sabda Rasulullah SAW “menuntut ilmu itu wajib atas tiap Muslim” (HR Ibn Majah).

Yang dimaksud ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Seperti ilmu aqidah, ibadah dan akhlak. Dengan ilmu-ilmu ini, seorang akan menjadi manusia yang beradab. Sedangkan ilmu-ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang dibutuhkan untuk menegakkan urusan dunia. Ilmu ini tidak wajib untuk tiap orang, tapi harus ada sebagian orang yang mempelajari ilmu ini demi kemaslahatan orang banyak. Jika tidak ada yang mempelajarinya, semua mendapat dosanya. Untuk contoh ilmu fardhu kifayah, al-Ghazali menyebut ilmu kedokteran, matematika, pertanian, ilmu tenun, politik dan sebagainya.

Saya ingin fokus ke ilmu kedokteran yang disebut al-Ghazali. Ini sesuai dengan kondisi merebaknya wabah COVID 19 saat ini. Jika ada anak yang pintar, maka arahkan yang benar. Setelah mempelajari ilmu-ilmu fardhu ‘ain, dukung dia untuk mendalami ilmu-ilmu agama, lalu mempelajari ilmu kedokteran. In syaa Allah anak yang pintar ini akan menjadi seorang faqih sekaligus dokter yang hebat. Semakin banyak, semakin baik untuk peradaban Islam.

Di tengah wabah seperti COVID 19 ini, pernyataan seorang faqih yang juga dokter akan lebih dipercaya. Dia bukan hanya menguasai ilmu agama, tapi juga ilmu kedokteran. Sehingga, bisa dipercaya ketika berbicara masalah teknis ibadah di masa wabah, juga berbicara masalah kesehatan. Inilah pentingnya otoritas keilmuan.

Ustadz zaman now, mungkin dia ahli di bidang agama, tapi umumnya awam di bidang kedokteran. Sebaliknya, dokter yang ada saat ini juga ahli di bidang medis, tapi tak sedikit yang awam di bidang agama. Masalah kemudian muncul, ketika ada ustadz merasa lebih paham masalah kesehatan daripada dokter. Lalu mengajak umat untuk terus beribadah tanpa peduli bahaya wabah.

Masalah lainnya, ada dokter yang bingung bagaimana cara beribadah di tengah tugas. Padahal, jika ilmu agamanya memadai, masalah ini tidak perlu ada. Untungnya ustadz dan dokter masih ada yang mau bekerjasama. Kemudian masing-masing bisa saling melengkapi kekurangan yang ada. Sehingga bisa diambil pandangan dan sikap yang bijaksana.

Imam al-Syafi’i pernah menegaskan “ilmu itu ada dua macam. Ilmu fiqh untuk urusan agama, dan ilmu kedokteran untuk urusan kesehatan badan”. Di balik pernyataan ini ada pesan penting. Umat Islam harus melahirkan sosok ilmuwan beradab yang universal. Otoritas di banyak bidang keilmuan.

Oleh karena itu, di setiap jenjang pendidikan, klasifikasi ilmu ini menjadi konsep yang harus dipahami dan diamalkan dengan benar. Apalagi di perguruan tinggi. Dalam peradaban Islam dikenal dengan istilah Jaami’ah dan Kulliyyah. Di Barat disebut Universitas. Tentu, produk dari universitas haruslah ilmuwan yang universal. Bukan ilmuwan yang spesialisasi sempit.

Belakangan, muncul pemikiran hadirnya Polimath University. Padahal, Islam sejak awal dengan konsep Jaami’ah itu sudah mengaplikasikan sekaligus melahirkan banyak polimath. Orang-orang yang mampu menjadi good Muslim sekaligus good scholar. Sebut saja seperti Ibn Haitsam, al-Biruni, Ibn Sina, al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, Ibn Khaldun dan sebagainya.

Walhasil, di balik musibah COVID 19 kita perlu evaluasi. Memang kita memiliki masalah di bidang kesehatan, ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Tapi inti semua masalah itu adalah pada pendidikan. Masa depan bangsa ini tergantung pada pendidikan yang dijalaninya. Jadi, mari kita bangun kembali peradaban Indonesia melalui pendidikan yang beradab.

************

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)