Ada yang berbeda dalam penyambutan santri-santri baru di pondok kami tahun ini. Sebuah banner raksasa dipasang di dinding salah satu bangunan yang ada. Ukurannya, lebar enam meter, panjang sepuluh meter. Banner besar yang bertuliskan pesan Nabi Besar, Muhammad SAW. Lengkap dalam bahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. (HR Muslim)

Banner ini bukan untuk pajangan, apalagi hiasan dinding. Bukan sekedar untuk dipandang, tapi untuk untuk dipikirkan, direnungkan dan diamalkan. Pesan di dalamnya mengandung peringatan, dua perintah dan dua larangan. Sabda Kanjeng Nabi ini luar biasa. Sayang sekali jika dilewatkan, apalagi diabaikan. Bagi yang mendambakan lahir kembali peradaban yang unggul, maka sabda ini salah satu petunjuknya.

Mu’min yang kuat dalam Sabda ini bukan hanya sebatas fisik. Tapi mencakup banyak hal. Kuat aqidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Jika boleh diterjemahkan bebas, Nabi Muhammad SAW ingin umatnya menjadi berkualitas. Karena kualitas manusia adalah faktor utama yang menentukan kejayaan sebuah peradaban. Sayangnya, kadang banyak yang terlena dengan kuantitas, tapi lupa dengan kualitas. Persis seperti buih di lautan. Jumlahnya berlimpah, tapi tidak punya kekuatan.

Pertanyaannya, bagaimana agar umat Islam menjadi berkualitas. Dalam sabdanya itu, Nabi Muhammad SAW memberikan resep peradaban untuk kita amalkan. Memang tidak diragukan, beliau adalah arsitek peradaban terhebat yang pernah ada. Bukan hanya secara teori, tapi juga sudah terbukti. Dalam masa dua puluh tiga tahun, Islam telah menjadi agama sekaligus peradaban yang disegani. Bukan bangunan fisik yang menjadi prioritas program kerjanya, tapi bangunan jiwa. Seperti apa langkah beliau membangun jiwa sahabat ketika itu? Mari kita bahas sebagian resepnya yang terkandung dalam sabda di atas.

Pertama, menanamkan kesungguhan untuk menghasilkan hal-hal yang bermanfaat. Langkah ini diawali dengan mencari ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, lalu menyebarkannya. Tengoklah kembali buku-buku sejarah peradaban Islam. Bagaimana Rasulullah SAW berhasil mengubah sahabat, dari tradisi jahiliyyah menjadi tradisi ilmiah. Kesungguhan semacam inilah yang harus diteladani oleh setiap Muslim. Setiap waktu, setiap keadaan, bahkan setiap tarikan nafas, harus ada hal yang bermanfaat. Sejak bangun tidur sampai tidur kembali, jangan ada waktu yang terbuang sia-sia. Ini bukan berarti terus bekerja tanpa istirahat, tapi dalam istirahat pun mereka tetap mendapatkan hal-hal yang bermanfaat.

Kini kita hidup di era disrupsi. Kemajuan teknologi begitu cepat dan tidak terbendung. Menurut Rhenald Kasali, perubahan yang terjadi bersifat tiba-tiba (sudden), cepat (speed) dan mengejutkan (surprise). Pola kehidupan manusia banyak berubah. Mulai dari cara makan, pergaulan, belanja, sampai hal lain yang bersifat pribadi. Banyak kemudahan kita rasakan, tapi tapi tidak selalu disertai manfaat. Dalam pandangan Islam, manfaat itu bukan hanya membawa kemudahan, tapi juga kebaikan. Jika minus kebaikan, itu bukan manfaat, tapi mudharat. Ironinya, banyak diantara kita, menghabiskan waktu dengan hal-hal yang mudharat, tapi merasa mendapatkan manfaat. Tidak perlu menyalahkan orang lain, cukup tunjuk diri sendiri.

Kedua, mohon pertolongan Allah SWT. Istilah lainnya adalah doa. Jika pesan yang pertama lebih dominan aspek lahir, maka pesan kedua ini lebih dominan aspek batin. Meminjam dawuh almarhum KH Hasyim Muzadi “ikhtiyar itu doa lahir, dan doa itu ikhtiyar batin”. Kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa. Satu-satunya tempat bersandar yang benar bagi orang beriman. Silakan minta pertolongan kepada-Nya dalam segala usaha yang kita lakukan. Surat al-Fatihah memberi isyarat bahwa setelah kita menjalankan kewajiban sebagai hamba (na’budu) kita berhak memohon pertolongan-Nya (nasta’in). Minimal tujuh belas kali dalam sehari kita diingatkan. Oleh karena itu jangan sia-siakan lagi kesempatan yang berharga ini.

Doa adalah senjata orang yang beriman ( al-du’a silaah al-mu’min). Sayang sekali jika kita diberi senjata, tapi tidak digunakan. Ikhtiyar tanpa doa adalah sebuah keangkuhan. Doa tanpa ikhtiyar adalah kedunguan. Ikhtiyar plus doa adalah bukti kebenaran dalam menghamba kepada-Nya. Meminta pertolongan kepada Allah SWT bukan berarti memutuskan hubungan dengan sesama. Sebab Allah SWT juga memerintahkan kita untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Yang penting, jangan sampai kita lupa, bahwa Allah SWT yang menentukan segalanya.

Ketiga, jangan merasa lemah. Pesan ini menguatkan pesan pertama dan kedua. Allah SWT melarang hamba-Nya merasa lemah, mudah menyerah, apalagi putus asa. Jangan pernah bosan untuk berbuat hal yang bermanfaat, dan memohon pertolongan-Nya. Setan saja tidak pernah bosan menggoda dan berusaha menyesatkan manusia. Tidak bisa lewat depan, dia datang lewat belakang. Gagal dari sebelah kanan, pindah ke sebelah kiri. Tidak berhasil mencegah manusia beramal, dia datang lagi untuk merobohkan amal yang sudah dikerjakan. Kalau merasa lemah, maka kita akan kalah. Jika semangat patah, maka kita akan kehilangan arah. Sementara setan dan para punggawanya akan berpesta pora dengan sangat meriah.

Tetaplah semangat dan istiqamah di jalan kebaikan. Apapun komentar orang, jangan sampai menghalangi ikhtiyar kita berbuat kebaikan. Kata orang bijak, ridho semua orang itu adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai ( ridha al-naas ghayatun laa tudrak). Tujuan tertinggi yang ingin kita capai adalah ridha Allah SWT. Apapun pekerjaan yang kita jalani, jika tidak ada ridha Allah SWT di dalamnya, maka tidak akan ada nilainya. Jika ada yang meremehkan, jadikan itu sebagai pemicu semangat untuk berprestasi.

Jika ada yang nyinyir, cukup dijawab dengan karya yang bermutu. Ketika ada yang mengkritik, manfaatkan itu untuk memperbaiki kualitas diri. In syaaAllah itu semua akan membuat kita semakin kuat, dan semakin dekat dengan cita-cita yang ingin kita capai. Orang-orang hebat dan shaleh sebelum kita telah membuktikan. Bahwa setiap perjuangan memang butuh kesabaran. Pahit di awal, tapi manis pada akhirnya.

Keempat, jangan berandai-andai. Setelah ikhtiyar dan doa, mungkin terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Bahkan kadang jauh dari harapan. Di sinilah sikap baik sangka ( husnuzzhan) kepada Allah SWT harus tetap dijaga. Jangan berubah menjadi buruk sangka ( su’uzhan). Karena buruk sangka kepada Allah SWT adalah sikap yang tidak beradab. Kewajiban kita adalah ikhtiyar dan doa. Hasilnya, biar Allah yang menentukan. Apapun hasilnya, itu pasti yang terbaik buat kita. Itulah yang harus tertanam dalam hati setiap orang beriman. Jika sesuai harapan kita wajib bersyukur, jika gagal kita wajib bersabar. Di balik kesuksesan atau kegagalan, ada pelajaran berharga untuk langkah kita selanjutnya.

Selain baik sangka kepada Allah, tutuplah pintu masuk setan ke hati kita. Jangan buka pintu itu dengan berandai-andai. Tidak perlu kita berkata “seandainya begini, mungkin hasilnya begini” atau “seandainya tidak begini, mungkin tidak akan terjadi begini”. Apa yang terjadi, itulah takdir dari Allah SWT ( qadarullah). Ini adalah bagian dari rukun iman yang tidak boleh kita lupakan. Kita tidak pernah tahu rahasia di balik takdir yang telah ditentukan. Bisa jadi, awalnya terasa menyakitkan, tapi akhirnya bisa membahagiakan. Atau sebaliknya, ada yang awalnya tampak membahagiakan, ternyata berakhir dengan menyakitkan. Walhasil, kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan? Jawabannya, kembalilah ke langkah yang pertama. Teruslah bergerak, jangan berhenti di tengah jalan. Perjuangan untuk berbuat yang bermanfaat dan meraih ridha Allah SWT tidak boleh berhenti. Sampai waktunya kita kembali kepada-Nya, dan hasil ikhtiyar itu kita nikmati.

Sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW di atas sangat relevan sepanjang masa. Pesan pendidikan yang terkandung di dalamnya harus sampai kepada anak kita. Sekolah mungkin bisa dibuat sistem zonasi, tapi pendidikan tidak boleh dibatasi. Jadi tanamkan nilai kebaikan ini di rumah, sekolah, pesantren, masjid dan di mana saja. Jika bisa dipahami dan diamalkan dengan baik, In syaaAllah akan lahir generasi baru di masa mendatang. Generasi yang bukan hanya siap memimpin negara, tapi memimpin peradaban dunia.

************

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)