Kejadian viral dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak. Jika secara sengaja, biasanya dilakukan oleh sesosok artis dengan timnya untuk membuat viral. Sementara yang tidak sengaja, bisa jadi dari orang-orang biasa.

Viral yang disengaja juga dapat berasal dari orang-orang yang berlagak mau jadi artis. Berharap mendapatkan followers yang banyak. Kalau sudah banyak begitu, rasa-rasanya ada kebanggaan tersendiri. Misalnya, followers di Instagram sampai ribuan orang akan berbeda rasanya jika cuma puluhan atau ratusan saja.

Namun, justru makin banyak bikin konten yang aneh-aneh dan tidak sesuai syariat Islam, tanggung sendiri akibatnya lho! Karena pastinya ada yang mencontoh. Makin banyak yang mencontoh, hal itu akan menjadi dosa jariyah. Inilah yang kita khawatirkan. Beruntunglah mereka yang sudah meninggal dan dosa-dosanya pun ikut mati. Sementara yang masih ada simpanan dosa jariyah, orangnya sudah meninggal, tetapi dosa-dosanya masih tersebar di muka bumi. Naudzubillah min dzalik.

Lalu, apa yang menjadi fokus dalam tulisan ini? Mungkin Anda sendiri sudah tahu, mungkin pula Anda sudah mengamati di dalam lini masa media sosial Anda. Atau, mungkin juga Anda sudah berpendapat atau berkomentar dalam kasus ini.

Peserta Bercadar

Jika menyangkut cadar, maka selalu kaitannya dengan perempuan. Orang sering memberikan istilah cadar ini sebagai penutup muka atau wajah, kelihatan tinggal dua bola matanya. Mengapa perempuan mengenakan cadar? Salah satu alasannya adalah menutupi kecantikan mereka dari pandangan laki-laki yang bukan mahrom.

Nah, yang katanya viral tadi bagaimana? Menurut berita-berita yang beredar beberapa hari ini, ada seorang peserta MTQ di Sumatra Utara yang bercadar. Dia diminta oleh juri untuk membuka cadar tersebut saat sudah berada di dalam bilik perlombaan. Mungkin kalau di kuis televisi, namanya kursi panas.

Apa alasan juri agar cadar peserta tersebut dibuka? Ternyata, alasannya adalah hal itu sudah menjadi aturan nasional. Selain itu, dewan juri ingin melihat pengucapan huruf-huruf Al-Qur’an dari mulut peserta tersebut. Jadi, tidak cuma suara yang mau didengar, tetapi cara melafadzkan huruf. Padahal, juri juga tidak berada persis di dekat peserta itu ya? Kecuali duduk berhadapan seperti menyetor hafalan, misalnya. Eits, tetapi itu harus sesama jenis saja lho!

Ada lagi alasan cadar perlu dibuka. Hal ini dijelaskan dalam sebuah video klarifikasi dewan juri MTQ ke-37. Katanya, hal itu untuk menghindari kecurangan. Siapa tahu yang tampil beda orang dengan di daftar peserta atau kecurangan lainnya dalam pemakaian alat komunikasi khusus yang diselipkan di cadarnya.

Peserta yang bercadar semestinya diperiksa terlebih dulu oleh hakim yang juga perempuan sebelum tampil, masih tentang video klarifikasi tersebut. Dan, dua orang di video itu juga memberikan kesempatan kepada peserta tadi untuk tampil kembali keesokan harinya.

Respons Warganet

Kepala sama hitam, pendapat boleh berbeda. Itulah peribahasanya. Meskipun yang berbeda pendapat tersebut kepalanya sudah banyak uban atau justru banyak ketombenya, tetapi isi pemikirannya memang tidaklah sama. Termasuk orang kembar sekalipun. Apalagi yang tidak kembar atau sengaja dikembar-kembarkan?

Peserta bercadar tersebut banyak dibela oleh kalangan warganet. Mereka menyesalkan tindakan dewan juri yang mendorong agar si peserta membuka cadar. Meskipun peserta tersebut menawarkan pilihan terakhir, yaitu: mikropon dimasukkan ke dalam cadarnya, tetapi dewan juri tetap menolak. Diskualifikasi yang diterima peserta tersebut sebagai jalan terakhir.

Insiden viral itu disesalkan terjadi di negara yang mayoritas muslim ini, Indonesia. Bukankah momen MTQ adalah puncak dari perlombaan nasional yang bernafaskan agama Islam? Mengapa peserta yang mengenakan atribut dan itu bagian dari busana muslimah malah tidak boleh? Itulah yang disesalkan warganet. Meskipun yah, yang berkomentar juga masih tergolong awam, tetapi dalam hatinya ada kerisauan seperti itu. Masya Allah.

Warganet yang mendukung memberikan tanggapan bahwa peserta akhwat tersebut lebih memilih ridha Allah daripada manusia. Bisa jadi dalam hatinya, ada harapan untuk memenangkan lomba demi mendapatkan hadiah. Namun, ketika memilih Allah, maka itulah hadiah yang lebih besar baginya. Ini tidak mudah, karena godaan dunia selalu menari-nari di mata maupun pikiran.

Hal ini mirip dengan artis yang telah berhijrah untuk menjadi muslim atau muslimah yang baik. Dari yang tadinya pergaulan bebas, glamor, tidak menutup aurat, kini belajar menjadi orang sholeh dan sholihah.

Sementara godaan untuk tampil seperti sebelum berhijrah tetap akan muncul. Dijanjikan honor yang sangat besar, terkenal, dipuja para penggemar dan selalu dibicarakan lewat media memang tidak gampang untuk diacuhkan. Buktinya, masih banyak anak muda yang mengikuti audisi-audisi di televisi demi mendapatkan harapan untuk menjadi artis dan terkenal di dunia. Ya, dunia saja.

Ketika mereka sudah dalam proses audisi, ikut dalam acara-acara televisi yang sangat tidak bermutu. Canda tawa yang cuma diri mereka yang menikmati. Atau tawa-tawa yang dipaksakan dan disetting sedemikian rupa. Namun, justru, acara-acara semacam itu yang sangat dinikmati masyarakat. Menghabiskan waktu dari awal hingga tengah malam. Bahkan, terkadang sampai tertidur. Kalau sudah begini, ibaratnya bukan lagi menonton televisi, melainkan televisi yang “menonton” orang tersebut!

Mungkin Baru Kali Ini

Wa’allahu alam. Dari kejadian tersebut, kelanjutannya seperti apa? Ada yang mengatakan bahwa akhwat tersebut mendapatkan hadiah uang serta umroh gratis karena dia telah istiqomah mempertahankan cadar yang tetap melekat.

Adanya kejadian video viral ini, justru sebenarnya makin mengenalkan tentang cadar itu sendiri. Era pandemi covid-19 ini juga mendorong orang untuk menutupi wajah, terutama hidung dan mulut dengan mengenakan masker. Nah, cadar lebih dari sekadar masker! Perempuan pakai masker belum tentu pakai jilbab, tetapi perempuan bercadar, tentu sudah dengan jilbabnya, lebar lagi. Ya ‘kan?

Kegiatan MTQ memang rutin diadakan. Namun, momen tersebut mendapatkan perhatian yang jauh lebih sedikit dari masyarakat muslim sendiri. Ambil contoh, kejadian di Bombana sendiri. Waktu ada artis nasional, jumlah penontonnya sangatlah membludak. Padahal acara baru akan dimulai sekitar jam 8 atau 9 malam, tetapi dari sebelum Maghrib, sudah berbondong-bondong orang ke tempat acara.

Sedangkan perlombaan MTQ atau STQ untuk level kabupaten, mendapatkan respons yang minim sekali. Penontonnya dihitung dengan jari saja. Sepi. Sunyi. Sangat njomplang dengan penonton acara musik atau panggung hiburan lainnya.

Begitulah sifat manusia pada umumnya. Lebih menyukai memenuhi hawa nafsu yang terlihat menyenangkan. Sementara acara semacam MTQ atau STQ dianggap sangat tidak menarik dan membosankan. Lebih nyaman bagi mereka untuk joget-joget maupun foto-foto dengan artis penghibur. Lalu dipostinglah di media sosial sebagai simbol eksis dan narsis.

Dapat Menjadi Renungan

Video viral tentang peserta MTQ bercadar yang didiskualifikasi memang mesti disikapi dengan bijaksana. Meskipun media sosial itu gratis seperti yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya, tetapi tetap harus dengan akhlak yang baik, terlebih memberikan tanggapan maupun komentar.

Membela peserta bercadar dan mencela juri yang dianggap kurang ilmu, mesti mendudukkan permasalahan dengan benar. Bercadar itu bagus, demi menjaga agama. Namun, menjaga agar perlombaan tetap sportif itu juga patut dilaksanakan. Menghindari segala bentuk kecurangan yang bisa membuat hasil pertandingan menjadi tidak murni lagi. Tidak sempurna lagi.

Agar semakin tidak menimbulkan polemik, maka lebih baik memang kejadian ini jangan terlalu dibahas lagi. Jangan dijadikan konsumsi publik lagi. Meskipun harus menjadi bahan evaluasi yang betul-betul dilakukan terhadap penyelenggaraan kegiatan. Jangan sampai terulang atau terjadi kembali di masa yang akan datang.

Meskipun sudah ada permohonan maaf dari panitia, harus memang ada sanksi sebagai efek jera telah memperlakukan muslimah yang berusaha untuk istiqomah. Semestinya pula ada konsekuensi lain yang tidak bisa hilang begitu saja.

Terlepas dari itu semua, apakah ada hal yang bisa direnungkan? Salah satu hal penting yang mampu jadi bahan renungan adalah seberapa besar minat kita untuk menghafal Al-Qur’an? Akhwat peserta MTQ tersebut mengikuti ajang perlombaan Al-Qur’an tentunya dengan modal hafalan yang sangat banyak. Sedangkan kita sendiri? Bagaimana?

Ada seorang yang pernah mengeluh, bahwa betapa sulitnya untuk menghafal Al-Qur’an, terlebih di era sekarang. Menurutnya, lebih bagus untuk menghafal itu fokus, misalnya di dalam pesantren yang sering dikatakan sebagai penjara suci tersebut.

Ketika berada di lingkungan pesantren, maka suasana batin akan lebih terjaga untuk lebih dekat dengan Allah. Bergaul dengan sesama penghuni yang bersama menghafal Al-Qur’an. Dipandu oleh pembimbing atau pembina yang belum menikah. Lah, kalau sudah menikah, otomatis tidak tinggal di pesantren lagi, ikut dengan suaminya.

Pesantren dengan dunia luar juga terbatasi. Tidak boleh sembarang yang belajar di pesantren bergaul dengan masyarakat luas. Kondisi tempat, suasana belajar, kurikulum maupun metodenya benar-benar membuat kita menjadi mudah untuk menghafal Al-Qur’an.

Makanya, sangat pantas dan wajar jika dari pesantren, seseorang bisa hafal, sampai 10, 20 maupun 30 juz. Pada akhirnya, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua, karena Insya Allah dia akan mendapatkan mahkota kemuliaan di akhirat. Sebagaimana dalam hadits berikut:

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

يجيء القرآن يوم القيامة كالرجل الشاحب يقول لصاحبه : هل تعرفني ؟ أنا الذي كنتُ أُسهر ليلك وأظمئ هواجرك… ويوضع على رأسه تاج الوقار ، ويُكسى والداه حلَّتين لا تقوم لهما الدنيا وما فيها ، فيقولان : يا رب أنى لنا هذا ؟ فيقال لهما : بتعليم ولدكما القرآن

Al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Saya yang membuat kamu begadang tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” Lalu dijawab, “Karena anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 6/51, dan dishahihkan al-Albani).

Ambil yang Ada

Meskipun pesantren itu tempat terbaik untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi ‘kan tidak semua orang bisa ke sana. Hal ini tentu berkaitan dengan daya tampung, sekaligus faktor usia. Pesantren lebih cocok untuk anak-anak sampai remaja, sedangkan orang tua dengan cara yang berbeda.

Orang tua masih diberikan kewajiban untuk mencari nafkah. Makanya, butuh yang namanya interaksi dengan dunia luar. Hal itulah yang bisa menjadi penghalang untuk menghafal Al-Qur’an. Sebab, sangat susah dihindari untuk berikhtilat, padahal sedang berada di tempat kerja, yang notabene tempat umum juga.

Selain itu, pandangan yang bagi sebagian orang sulit untuk dialihkan. Ketika berada di jalan, akan tampak sebagian pengendara lain yang tidak menutup aurat. Sementara ketika kita mau mengalihkan pandangan, jelas akan berbahaya karena kita butuh fokus ke jalan. Oleh karena itu, memang lebih bagus, kita memperbanyak istigfar di jalan-jalan, karena dosa-dosa dari pandangan tersebut.

Dalam keadaan seperti itu, apakah betul-betul tidak bisa menghafal Al-Qur’an? Eits, tunggu dulu! Jangan menyerah! Ibaratnya, seorang anak muda yang tidak menyerah untuk mendapatkan jodohnya, meskipun sering ditolak dan punya kendala dalam hal finansial. Lho, kok malah ini yang dibahas sih?

Jika sudah ada niat dalam diri kita untuk menghafal Al-Qur’an, akan lebih bagus dan joss untuk melakukannya secara bersama-sama. Sendirian dapat melemahkan niat. Membuat kurang semangat. Membuat hati menjadi lemah. Perasaan rapuh. Sedih. Gundah. Ini lebih cocok memang untuk orang yang statusnya masih sendirian saja sampai sekarang.

Lalu, dengan cara apa menghafal Al-Qur’an secara bersama-sama dan mengasyikkan tersebut? Ada satu metode yang diterapkan oleh Wahdah Islamiyah, yaitu: melalui tarbiyah. Sebuah sistem halaqoh, duduk melingkar, dengan seorang guru atau ustadz yang membimbing para peserta untuk menghafal Al-Qur’an. Eits, sebelum menghafal, diperbaiki terlebih dulu bacaannya. Huruf, panjang pendek, tajwid mesti mantap dulu sebelum mulai menghafal.

Cara belajar Al-Qur’an yang benar, praktis dan mudah juga telah dikembangkan oleh Wahdah Islamiyah. Melalui metode Dirosa atau dirasah orang dewasa. Menggunakan buku yang tidak terlalu tebal, orang yang belum lancar membaca Al-Qur’an mulai belajar. Insya Allah, dalam 20 kali pertemuan, sudah bisa lancar mengaji.

Apabila Anda tertarik, maka silakan bergabung bersama kami, Wahdah Islamiyah Bombana. Namun, untuk saat ini, dirosa maupun tarbiyah tersebut belum dibuka secara langsung atau tatap muka. Berniat saja dulu, agar nantinya ketika sudah betul-betul ada, Insya Allah nilai amalnya akan dilipatgandakan.

Menjadi penghafal Al-Qur’an juga bisa dengan memberikan dukungan atau donasi kepada mereka yang sedang belajar menghafal kitab suci mulia tersebut. Anda bisa memberikan donasi kepada pesantren penghafal Al-Qur’an, mau 20 juta, 50 juta, 100 juta sampai 1 miliar pun boleh-boleh saja, tergantung kemampuan Anda. Donasi yang sangat banyak, tetapi ikhlas lebih baik daripada sedikit namun tidak ikhlas.

Harapannya, dari sedekah Anda, akan dibelikan Al-Qur’an, lalu dibaca oleh para santri penghafal. Setiap huruf yang mereka baca, Insya Allah Anda akan mendapatkan pahalanya. Dan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Adi Hidayat, tidak pernah ada ceritanya menghafal Al-Qur’an itu membaca ayat cuma sekali. Pasti berkali-kali. Akan terus diulang sampai betul-betul hafal dan terjaga hafalannya. Bayangkan, berapa pahala yang akan Anda dapatkan?

Mau tahu cara mudahnya? Alhamdulillah, Anda sudah membaca sampai di sini. Maka kesempatan bagi Anda untuk langsung menjadi bagian dari para penghafal Al-Qur’an. Anda bisa klik link berikut ini: Menjadi Bagian Penghuni Surga Melalui Al-Qur’an.

Donasi sudah, sedekah beres. Berikutnya adalah doa. Jika kita merasa sulit untuk menghafal Al-Qur’an, berdoalah kepada Allah. Atau doakan untuk orang lain. Mudahkan mereka dalam menghafal Al-Qur’an. Insya Allah doa Anda tetap juga berpahala. Malaikat akan mengaminkan dan mendoakan Anda pula karena doa Anda kepada orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut.

Peluang lagi, tentunya adalah mendidik anak untuk mulai menghafal. Jika masih terasa berat, maka biasakan mereka dengan rumah-rumah Allah sejak kecil. Suasana ibadah di dalam masjid untuk sholat berjamaah, Insya Allah akan sangat membekas di hati mereka, meskipun di dalam masjid, cuma main-main atau bahkan ribut luar biasa.

Sampai di sini, tadi judulnya tentang cadar, tetapi sampai di sini sudah tidak dibahas lagi. Mengenai hal ini, Insya Allah akan lanjut di part 2 ya!

*************

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Rizky Kurnia Rahman
(Ketua Departemen Infokom DPD Wahdah Islamiyah Bombana, lulusan Sarjana Ilmu Politik (S.I.P) dari Fisipol UGM, Yogyakarta).

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)