Gerakan pemurnian ajaran Islam KH Fathul Muin Dg Maggading merupakan salah satu gerakan yang sangat terkenal diera tahun 1980-an di sekitar Makassar, ia terkenal merupakan ulama yang sangat keras menyuarakan tentang pemurnian Islam.

Gerakan pemurnian Islam merupakan fenomena penting dalam perkembangan pemikiran dan gerakan Islam. Ia seringkali muncul, tampaknya secara periodik, dalam situasi mana banyak terjadi penyimpangan baik dalam moral, pemahaman maupun pengalaman agama.

Penyimpangan itu dipandang oleh para penganjur purifikasi (pemurnian) sebagai kemerosotan agama dan masyarakat Islam, dan mereka menyatakan bahwa agar agama itu mencapai kejayaan, agama itu sendiri harus dibersihkan dari segala penyimpangan, pengaburan, dan pengotoran yang berjangkit di kalangan umat Islam.

Pemurnian dalam Islam akan terus menerus ada pada setiap zaman, sebagaimana disampaikan oleh Nabi saw dalam hadisnya bahwasanya pada setiap penghujung seratus tahun, Allah swt mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbaharui agama mereka. (Abu Dāud Sulaimān bin Al Asya’ṡ Al Sijastānī, Sunan Abī Dāud, Juz 5, Bairūt: Dār Al Kitāb Al Arābī, 2009), h.109). Hadis ini sangat jelas menunjukkan adanya orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan di tengah-tengah umat.

Di Indonesia, pemurnian ajaran Islam silih berganti disuarakan dari generasi ke generasi, tidak terkecuali Makassar. Dari beberapa ulama yang melakukan purifikasi (pemurnian) di Sulawesi Selatan yang sangat terkenal adalah KH Fathul Muin Dg Maggading, akan tetapi sangat disayangkan kematiannya seakan menguburkan segala sumbangsinya dalam bidang ini. Ia merupakan sosok cikal bakal munculnya gerakan-gerakan Islam puritan di kawasan Indonesia Timur yang di mulai dari Makassar.

Ini juga memberikan gambaran bahwa perjalanan Islam di Sulawesi Selatan tidak pernah kering dari peran para ulama dan da’i. Sejak awal kali masuk di Sulawesi Selatan, ulama yang dalam bahasa Arab berasal dari akar kata īlim, berarti sebuah tanda atau kekhususan sesuatu. (2Abi al Husain Ahmad bin Fāris bin Zakaria, Mu’jam Maqayīs Al-Lugah, (Cet. I; Bairut: Dār Uhyā al-Turāṡ Al Arabi, 2001), h. 663).

Adapun dalam kamus bahasa besar Indonesia diartikan sebagai orang yang ahli dalam bidang agama. (Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa,
2008), h.1774).

Para ulama memiliki peran yang signifikan di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan Indonesia. Mereka dipandang memerankan kepemimpinan regional yang efektif, ahli (memiliki kemampuan) dalam menghubungkan Islam kepada masyarakat, dan membawa ajaran Monoteistik Islam terserap dan tersebar ke daerah-daerah pinggiran. Ulama juga menghubungkan masyarakat desa dengan budaya nasional dan international. (Abd.Kadir Ahmad, Ulama Bugis, (Makassar: Indobis Publishing, 2008), h. 1-2).

Proses Islamisasi yang terjadi di Sulawesi Selatan sejak masuknya Islam pada tahun 1605, sebagaimana disebutkan bahwa awal kedatangan Islam secara terang-terangan di wilayah Sulawesi Selatan di bawah oleh tiga dai yang berasal dari Minangkabau yang terkenal dengan Datu’ Tellue. Mereka Adalah: Abdul Qadi Datuk Tunggal dengan julukan Datuk ri Bandang, Sulung Sulaeman sebagai Datuk Patimang, dan Khatib Bungsu sebagai Datuk Ritiro. (A. Matullada, Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, (Makassar: Hasanuddin University Press, 1998), h. 150).

Selain tiga dai dan ulama pelopor Islam di Sulawesi Selatan ini, raja-raja Muslim pun memberikan sumbangsi yang begitu besar, sebut saja raja Gowa Bone La Tenri Ruwa yang tiga bulan setelah dilantik menjadi raja Bone menerima ajakan koleganya yaitu Sultan Alauddin untuk memeluk Islam, dan selanjutnya mengajak rakyatnya untuk menerima Islam sebagai agama resmi. (Hannabil Rizal, dkk., Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan, (Makassar: YAPMI, 2004), h.
114).

Seperti itulah upaya penyebaran Islam dan manjadi agama panutan resmi raja-raja serta masyarakat, pada tahap awal yang sangat sederhana, dapat dikatakan Islam batin, hanya sekadar formal, namun belum aplikatif, atau pemahaman agama terutama pada tahap akidah belum maksimal dan mendalam.

Sebagaimana wilayah lainnya di Indonesia, Makassar diwarnai oleh kehidupan yang penuh dengan kesufian dan tarekat dan memang Islamisasi yang pertama sudah berbau Sufi. Kisah sufi selalu diwarnai dengan hal-hal yang ajaib atau kejadian yang luar biasa, hal yang sama terjadi ketika proses Islamisasi pertama di Makassar, dimana orang-orang yang membawa Islam dilengkapi dengan hal-hal yang luar biasa. (Ilham Hamid, dkk, Matahari Pembaharuan di Serambi Madinah Menelusuri Tapak Sejarah Muhammadiayah Kota Makassar, (Makassar: Majelis Pustaka PDM Kota Makassar dan LSQ Makassar, 2015), h. 69).

Di kecamatan Galesong Utara (termaksud suku Makassar) penduduknya 100 persen beragama Islam, tetapi mereka masih mempunyai kepercayaan nenek moyang, sebagaimana kutipan berikut:

Mereka percaya bahwa disekeliling mereka seperti gunung, di pohon-pohon, di sungai atau di lautan terdapat kekuatan-kekuatann gaib yang tidak dapat dihadapi oleh kekuatan manusia. Kekutan-kekutan gaib ini sewaktu-waktu dapat marah dan mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu mereka berusaha supaya kekuatan-kekuatan gaib yang berada di sekelilingnya dapat memberi ketenangan hidup baginya.

Mereka berusaha mengharmoniskan hidupnya dengan kekuatan gaib tersebut. Untuk mencapai keharmonisan ini mereka mengadakan upacara-upacara mereka mempercayai bahwa dengan upacara itu kekuatan-kekuatan gaib tersebut menjadi tenang dan diharapkan akan memberikan ketenangan dan kesejahteraan masyarakat Galesong Utara. (Ilham Hamid, dkk, Matahari Pembaharuan di Serambi Madinah menelusuri Tapak Sejarah Muhammadiyah Kota Makassar, h. 70-71).

Kondisi seperti ini bertahan terus dalam kehidupan masyarakat Makassar, bahkan sampai sekarang ini masih didapati, terutama dalam kehidupan masyarakat desa.

Secara umum, keadaan umat Islam ketika itu dapat dikatakan masih bergelimang dalam kemusyrikan dan kejahiliyahan diselimuti takhayyul, bi’dah-bi’dah, dan khurafat. Kehidupan umat Islam pada umummnya masih dikendalikan oleh pangaddakang/pangadereng (Pangadakkang (Makassar) Pangngadereng (Bugis) berarti sistem pranata sosial yang berisi kitab undang-undang dasar tertinggi orang Bugis Makassar, lihat; Ilham Kadir, http://ilhamkadirmenulis.blogspot.co.id/2013/04/syariat-islam-di-sulsel-sebuvah,pranata.(17Oktober 2016). yang bebasis dan bertumpuh pada hal yang disebut sebagai gaukang dan kalompoang.

Dalam bidang pendidikan, sama sekali belum memiliki lembaga pendidikan modern yang ditandai dengan sistem klasikal, ada kurikulum, dan ada proses pembelajaran yang teratur. lembaga pendidikan tradisional yang ada hanyalah lembaga
pendidikan mangaji tudang untuk mempelajari al Quran.

Transformasi ilmu pengetahuan keagamaan lainnya, seperti thahara, belajar shalat, belajar paraele (kewarisan), dan sebagainya lebih banyak dilakukan melalui keluarga atau melalui guru tarekat atau melalui Daengta Kalia, Daeng Imang (Qadhi), dan petugas parewa sara (perangkat syariat) lainnya.

Bersama dengan berjalannya waktu penyebaran
Islam terus mengalami perkembangan, gerakan dakwah pun mulai bermunculan, gerakan-gerakan tersebut umumnya terbagi dalam dua golongan yaitu gerakan modernis dan reformis.

Yang dimaksud dengan reformis adalah gerakan yang menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya, disamping gerakan ini menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya, juga berusaha memurnikan Islam dan membangun kembali Islam dengan pikiran-pikiran baru, sehingga Islam dapat mengarahkan dan membimbing umat manusia dalam kehidupan mereka, misalnya: Muhammadiyah dengan melahirkan banyak tokoh di antaranya KH Fathul Muin Dg Maggading.

Ia merupakan salah satu ulama kharismatik diera tahun 1960an sampai 1980an yang dikenal dengan aktivitas dakwah dan ceramahnya di sebuah masjid yang bernama Ta’mirul Masājid yang berlokasi di jalan
Banda kota Makassar.

***********

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan