Kiai Usman Laba seperti itulah sematan gelar penghormatan yang diberikan oleh mahasiswa Indonesia Islamad-Pakistan kepadanya. Lahir di sebuah Desa kecil di pedalaman Sulawesi Selatan, tepatnya di jazirah selatan bagian timur Propinsi Sulawesi Selatan berjarak sekitar 195 km dari Kota Makassar, tepatnya di Dusun Ammessing, Desa Bulu Kamase Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai, pada Tanggal 03 Oktober 1968.

Beliau merupakan anak dari pasangan Bapak Laba (alm) dan ibu Danuwang. KH. Usman Laba Merupakan anak kedua dari 9 bersaudara yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Salah seorang saudarinya meninggal ketika masih berusia 6 bulan di dalam kandungan dan seorang lainnya meninggal ketika berusia 5 tahun.

Usman Laba lahir dalam kondisi prematur pada usia kandungan 7 bulan. Karena prematur ukuran tubuhnya kira-kira hanya sebesar botol sehingga Usman Laba kecil dibungkus daun untuk menghangatkan tubuhnya karena pada masa itu belum ada inkubator. Kecil harapan ibu Danuwang (ibunda KH Usman Laba) anaknya bisa bertahan hidup mengingat kondisinya yang begitu lemah, ditambah ASI sang ibu belum terproduksi.

Dalam kondisi yang demikian rumit, orang tua berinisiatif menjadikan air perasan tebu sebagai pengganti ASI. Karena terlahir dengan kondisi premature dan lemah, tidak seperti anak-anak biasanya sebelum mencapai umur 2 tahun sudah bisa berjalan. Adapun Usman Laba kecil sangat lambat, nantilah pada usia 3 tahun ia mulai bisa berjalan.

Sejak kecil, kedekatannya dengan agama sudah nampak. Walaupun belum masuk usia balig sudah banyak hal yang nampak berbeda dari pilihan-pilihan aktivitas kesehariannya.

Dalam kenangan Ibu Danuang, Usman Laba kecil merupakan anak yang penyabar namun punya semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu agama. Semasa kecil, seringkali ia menolak untuk bermain bersama temannya hanya karena tidak suka melihat temannya berpakaian yang tidak menutup aurat.

Kedua orang tua KH. Usman Laba berprofesi sebagai seorang petani. Karena daerah sinjai merupakan dataran tinggi sehingga pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

Pada awal kali akan menempuh pendidikan, sang ayah kurang mendukung bahkan tidak memberikan izin kepada anaknya untuk menimba ilmu agama. Bapak Laba lebih menginginkan anak-anaknya untuk bersekolah di sekoah umum, dimana hal ini sangat bertolak belakang dengan minat dan keinginan Usman Laba yang sangat tertarik dengan pelajaran-pelajaran agama.

Ketertarikan Usman Laba pada Ilmu agama berawal dari gurunya yang bernama ibu Rabi’. Ibu Rabi’ merupakan guru yang sangat dekat kepada Usman Laba, dialah yang pertama kali menanamkan nilai-nilai Alquran dalam diri KH. Usman Laba mengingat kedua orang tuanya bukan ulama ataupun guru agama.

Di bawah bimbingan Ibu Rabi’, Usman Laba diajarkan membaca Al-Qur’an mempelajari ilmu-ilmu agama lainnya hingga timbullah keinginannya untuk mendalami ilmu agama melalui pendidikan formal.

Berbeda dengan sang ayah, ibu Usman Laba melihat adanya potensi dalam diri anaknya untuk mendalami ilmu-ilmu agama, oleh sebab itu sang ibu mendukung penuh pilihan anaknya. Saking semangatnya menuntut ilmu agama, akhirnya Usman Laba “kabur” dari bangku sekolah lalu mondok di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Puce’e, Sinjai Selatan.

Kondisi ini membuat ayah dan ibu Usman Laba terlibat “cekcok” sang ayah yang ingin anaknya sekolah umum ditentang habis-habisan sang istri yang memberikan pilihan kepada sang anak. Perbedaan ini hampir-hampir menyebabkan perpisahan antara suami dan istri ini. Sehingga sang istri (ibu Danuang) sempat melontarkan kata-kata keras kepada sang suami dengan meminta cerai jika masih saja tidak memberi izin Usman Laba untuk mondok di Pesantren Darul Istiqamah Puce’e.

Setelah mulai masuk ke pondok, perhatian sang ibu begitu sangat besar. Pada masa awal Usman Laba mondok ibu Danuang membesuk Usman Laba dengan alasan membawakan pakaian pramuka.

Di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Puce’e, beliau mulai menghafal Alquran dan beberapa tahun kemudian meninggalkan Darul Istiqamah Puce’e untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Darul Istiqamah pusat yang ada diMaccopa Maros. Disanalah Usman Laba menyelesaikan hafalan Alqurannya 30 juz.

Setelah melalui perjalanan panjang menghafal Alquran dengan kesungguhan, disinilah sang ayah bapak Laba menyadari potensi anaknya lalu mengikhlaskan sang anak untuk terus memperdalam ilmu agamanya.

Setelah menyelesaikan seluruh hafalannya para pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maros hendak menikahkannya, karena belum begitu siap KH. Usman Laba “minggat” meninggalkan pondok lalu “hijrah” ke ibu kota Jakarta.

Di sanalah Ia berjumpa dengan rombongan jamaah yang hendak berangkat ke Pakistan untuk Khuruj. Kesempatan untuk keluar negeri menuntut ilmu itu tidak disia-siakan, ia lalu bergegas menyiapkan diri untuk ikut bersama dengan rombongan tersebut.

***********

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Referensi:
1. Solihin (Adik Kelas K.H. Usman Laba semasa di Islamabad-Pakistan).
2. Skripsi Suci Lia Setiawati dengan beberapa perubahan.

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan