KH. Abdullah, Ketua Muhammadiyah Sulsel 1931-1938

KH. Abdullah lahir di Maros pada sekitar tahun 1895, ayahnya bernama Abdur Rahman dan Ibunya bernama Halimah. Kepada putranya Abdullah, Abdur Rahman menaruh harapan agar anaknya kelak dapat menjadi ulama.

Oleh karena itu, Abdullah kecil diajari mengaji oleh ayahnya sendiri. Setelah bacaan Alquran dan pengetahuan dasar-dasar agamanya dirasa cukup, Abdulah remaja dikirim oleh orang tuanya belajar ke Petta Kalie di Maros.

Berbekal pengetahuan agama yang diperolehnya dari Petta Kalie Maros, Abdullah berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk tinggal belajar memperdalam bahasa Arab dan ilmu agama.

Di Mekah, Abdullah menetap lebih kurang sepuluh tahun. Di sana, dia belajar kepada berbagai guru. Konon, di sana dia pernah bertemu dengan Darwis yang kemudian berubah nama menjadi Ahmad Dahlan.

Setelah beberapa tahun tinggal di Mekah, Haji Abdullah kawin dengan Hajjah Fatimah yang juga berasal dari Maros. Hj. Fatima datang ke Mekah bersama ayahnya untuk menunaikan ibadah haji. Sebagai seorang pedagang kaya yang sangat prihatin terhadap perkembangan Islam di daerahnya.

Ayah Hj. Fatimah mendorong dan membantu Haji Abdullah agar tetap tinggal di Mekah memperdalam pengetahuan agama hingga kelak dapat menjadi ulama dan kembali ke kampung halamannya. Harapan dan cita-cita mertuanya itulah yang membuat Haji Abdullah betah tinggal di Mekah selama lebih kurang sepuluh tahun.

Setelah bekal ilmu pengetahuan agamanya dirasakan telah memadai, pulanglah Haji Abdullah bersama isterinya ke kampung halamannya di Maros. Sekembalinya ke Maros, mertua yang sangat menyayanginya itu pun mendorongmnya hijrah ke Makassar. Haji Abdullah pun dibelikan rumah oleh mertuanya di Kampung Butung, dekat Masjid Kampung Butung.

Bersama isteri tercintanya, Haji Abdullah tinggal di rumah tersebut hingga akhir hayatnya. Di rumahnya itulah, Haji Abdullah mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sehingga masyarakat pun memberinya gelar sebagai kiai. K.H. Abdullah dikabarkan aktif bersalat jamaah di masjid dan sangat rajin bersilaturahim dengan sahabat-sahabatnya yang ada di sekitar Kampung Butung, Kampung Melayu, dan Kampung Wajo.

Keaktifan Kiai Haji Abdullah mengajar, berjamaah, dan bersilaturahim itulah sehingga dia banyak berkenalan dengan orang-orang yang telah menerima paham Muhammadiyah melalui hubungan dagang dengan orang-orang dari Jawa (Yogyakarta, Surabaya, Pekalongan, dan lain-lain).

Di antara orang yang telah menerima bahkan telah menjadi anggota Muhammadiyah yang menjadi sahabatnya ialah Mansyur Al-Yamani. Atas inisiatif Mansyur Al Yamanilah sehingga diadakan pertemuan di rumah Haji Muhammad Yusuf Daeng Mattiro, pada malam tanggal 15 Ramadan. Pertemuan tersebut melahirkan Muhammadiyah Group Makassar yang KH. Abdullah menjadi salah seorang bestuur-nya, dengan posisi Vice Vorsitter.

Lebih kurang satu tahun kemudian, KH. Abdullah malah menjadi Voorsitter Muhammadiyah Group Makassar. Dalam masa kepemimpinannyalah Muhammadiyah Group Makassar ditingkatkan statusnya menjadi Cabang.

Dalam statusnya sebagai Vorsitter Muhammadiyah Cabang, KH. Abdullah sekaligus menjadi Coordinator Group-group yang terbentuk di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, yaitu: Labbakkang, Pangkajene, Maros, Sengkang, Limbung, Bantaeng, Belawa, Majene, Balangnipa, Mandar, Rappang, Pinrang, Palopo, kajang, Soppeng Riaja, Takkalasi, Lampoko, Ele Tanete, Tabba, Batu-batu (Soppeng), Campalagian, dan lain-lain.

Sejak terbentuknya Cabang pada tahun 1927, secara berturut-turut diadakanlah Konferensi Muhammadiyah. Pertama di Makassar tahan 1928; yang kedua di Sengkang pada tahun 1929; ketiga di Majene tahun 1930; keempat Bantaeng tahun 1930; kelima di Labbakkang tahun 1931; dan keenam di Palopo tahun 1932. Pada konferensi ke-6 inilah K.H. Abdullah terpilih menjadi konsul Muhammadiyah Celebes Selatan yang pertama.

Menurut keputusan konferensi, KH. Abdullah didampingi oleh Mansyur Al-Yamani selaku vice voorsitter (wakil konsul) , H. Nurdin Dg Magassing selaku secretaris, Daeng Manja selaku penning meester (bendahara), Andi Sewang Daeng Muntu, Saloko Daeng Malewa, Syahadat Daeng Situju, Ali Seilalla, dan Hajjah Daeng Rampu, sebagai commissaris (pembantu umum).

KH. Abdullah memegang jabatan konsoel dari konferensi ke-7 hingga konferensi ke-13, setelah Haji Andi Sewang Daeng Muntu terpilih menggantikan K.H. Abdullah pada konferensi ke-13 di Selayar, tahun 1938. Meskipun ia tidak terpilih lagi sebagai konsul, K.H. Abdullah dengan kebesaran jiwanya tetap menjadi commissaris konsul hingga akhir hayatnya.

KH. Abdullah meninggal dunia bertepatan dengan serangan bom oleh serdadu sekutu terhadap kapal-kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan pada tanggal 24 April 1944 pukul 12.00 menjelang salat Zuhur.

Beberapa pesan KH. Abdullah yang sering disampaikan dalam bahasa Bugis, dituturkan kembali oleh Drs. Muhammad Yamin Data, yaitu “Aja muallejjai tauwe mu enre, tanrerei padammu rupa tau nawatakko menreq” (Janganlah engkau injak orang untuk kau naik, junjunglah orang agar engkau ditarik naik). “Nigi-nigi piarai bere jamaqna risempoangngi dalleqna pole ri Puangnge” (Barang siapa yang memelihara salat jemaahnya, Allah memudahkan rezekinya).

************

Sumber: Dikutip dari Buku “Menapak Jejak, Menata Langkah: Sejarah Gerakan dan Biografi Ketua-ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan”, diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah dan Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel.

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan