Menghadapi serbuan paham Pluralisme Agama ini, maka para tokoh agama­ agama tidak tinggal diam. Paus Yohannes Paulus II, tahun 2000, mengeluarkan Dekrit ‘Dominus Jesus’. Berikut ini kita kutipkan pendapat tokoh Katolik Prof. Frans Magnis Suseno, tentang Pluralisme Agama, sebagaimana ditulis dalam bukunya, Menjadi Saksi Kristus Di Tengah Masyarakat Majemuk.16  

Pluralisme agama, kata Frans Magnis Suseno, sebagaimana diperjuangkan di kalangan Kristen oleh teolog­teolog seperti John Hick, Paul F. Knitter (Protestan) dan Raimundo Panikkar (Katolik), adalah paham yang menolak eksklusivisme kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri yang benar merupakan kesombongan. Agama­agama hendaknya pertama­pertama memperlihatkan kerendahan hati, tidak menganggap lebih benar daripada yang lain­lain.

Teologi yang mendasari anggapan itu adalah, kurang lebih, dan dengan rincian berbeda, anggapan bahwa agama­ agama merupakan ekspresi religiositas umat manusia. Para pendiri agama, seperti Buddha, Yesus, dan Muhammad merupakan genius­genius religius, mereka menghayati dimensi religius secara mendalam.

Mereka, mirip dengan orang yang bisa menemukan air di tanah, berakar dalam sungai keilahian mendalam yang mengalir di bawah permukaan dan dari padanya segala ungkapan religiositas manusia hidup. Posisi ini bisa sekaligus berarti melepaskan adanya Allah personal. Jadi, yang sebenarnya diakui adalah dimensi transenden dan metafisik alam semesta manusia.

Namun, bisa juga dengan mempertahankan paham Allah personal. Masih menurut penjelasan Frans Magnis Suseno, pluralisme agama itu sesuai dengan “semangat zaman”. Ia merupakan warisan filsafat Pencerahan 300 tahun lalu dan pada hakikatnya kembali ke pandangan Kant tentang agama sebagai lembaga moral, hanya dalam bahasa diperkaya oleh aliran­aliran New Age yang, berlainan dengan Pencerahan, sangat terbuka terhadap segala macam dimensi “metafisik”, “kosmis”, “holistik”, “mistik”, dsb.

Pluralisme sangat sesuai dengan anggapan yang sudah sangat meluas dalam masyarakat sekuler bahwa agama adalah masalah selera, yang termasuk “budaya hati” individual, mirip misalnya dengan dimensi estetik, dan bukan masalah kebenaran. Mengkliam kebenaran hanya bagi diri sendiri dianggap tidak toleran. Kata “dogma” menjadi kata negatif. Masih berpegang pada dogma­dogma dianggap ketinggalan zaman.  

Paham Pluralisme agama, menurut Frans Magnis, jelas­jelas ditolak oleh Gereja Katolik. Pada tahun 2000, Vatikan menerbitkan penjelasan ‘Dominus Jesus’.17 Penjelasan ini, selain menolak paham Pluralisme Agama, juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu­satunya pengantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus.

Di kalangan Katolik sendiri, ‘Dominus Jesus’ menimbulkan reaksi keras. Frans Magnis sendiri mendukung ‘Dominus Jesus’ itu, dan menyatakan, bahwa ‘Dominus Jesus’ itu sudah perlu dan tepat waktu. Menurutnya, Pluralisme Agama hanya di permukaan saja kelihatan lebih rendah hati dan toleran dariupada sikap inklusif yang tetap meyakini imannya. Bukan namanya toleransi apabila untuk mau saling menerima dituntut agar masing­masing melepaskan apa yang mereka yakini. Ambil saja sebagai contoh Islam dan kristianitas.

Pluralisme mengusulkan agar masing­masing saling menerima karena masing­masing tidak lebih dari ungkapan religiositas manusia, dan kalau begitu, tentu saja mengklaim kepenuhan kebenaran tidak masuk akal. Namun yang nyata­nyata dituntut kaum pluralis adalah agar Islam melepaskan klaimnya bahwa Allah dalam al­Quran memberi petunjuk definitif, akhir dan benar tentang bagaimana manusia harus hidup agar ia selamat, dengan sekaligus membatalkan petunjuk­petunjuk sebelumnya.

Dari kaum Kristiani, kaum pluralis menuntut untuk mengesampingkan bahwa Yesus itu ‘Sang Jalan’, ‘Sang Kehidupan’ dan ‘Sang Kebenaran’, menjadi salah satu jalan, salah satu sumber kehidupan dan salah satu kebenaran, jadi melepaskan keyakinan lama yang mengatakan bahwa hanya melalui Putera manusia bisa sampai ke Bapa.  

Terhadap paham semacam itu, Frans Magnis menegaskan: “Menurut saya ini tidak lucu dan tidak serius. Ini sikap menghina kalau pun bermaksud baik. Toleransi tidak menuntut agar kita semua menjadi sama, mari kita bersedia saling menerima.

Toleransi yang sebenarnya berarti menerima orang lain, kelompok lain, keberadaan agama lain, dengan baik, mengakui dan menghormati keberadaan mereka dalam keberlainan mereka! Toleransi justru bukan asimilasi, melainkan hormat penuh identitas masing­masing yang tidak sama.”18

Referensi:

16. Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus Di Tengah Masyarakat Majemuk, (Jakarta: Penerbit Obor, 2004), hal. 138­141.

17. Dominus Jesus dikonsep dan semula ditandantangani oleh Kardinal Ratzinger – sekarang Paus Benediktus XVI – dan dikeluarkan pada 28 Agustus 2000. Dokumen ini telah menimbulkan perdebatan sengit di kalangan Kristen, termasuk intern Katolik sendiri. Dokumen ini dikeluarkan menyusul kehebohan di kalangan petinggi Katolik akibat keluarnya buku Toward a Christian Theology of Religious Pluralism karya Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma. Dalam bukunya ini, Dupuis menyatakan, bahwa ‘kebenaran penuh’ (fullnes of thruth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Jadi, katanya, semua agama terus berjalan– sebagaimana Kristen – menuju kebenaran penuh tersebut. Semua agama disatukan dalam kerendahan hati karena kekurangan bersama dalam meraih kebenaran penuh tersebut. (Perdebatan tentang Dominus Jesus bisa dilihat, misalnya, dalam John Cornwell, The Pope in Winter, (London: Penguin Books, 2005), hal. 192­199. Dalam Dominus Jesus disebutkan: “Indeed, God ‘desires all men to be saved and come to the knowledge of the truth’ (1 Tim 2:4); that is, God wills the salvation of everyone through the knowledge of the truth. Salvation is found in the truth. Those who obey the promptings of the Spirit of truth are already on the way of salvation. But the Church, to whom this truth has been entrusted, must go out to meet their desire, so as to bring them the truth. Because she believes in God’s universal plan of salvation, the Church must be missionary.” (http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/ rc_con_cfaith_doc_20000806_domin us­iesus_en.html, 5 Maret 2005)  

18. Sikap Katolik yang menolak paham Pluralisme Agama sangatlah logis, sebab – meskipun dalam Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah mengubah sikapnya terhadap agama­agama lain, tetapi Konsili juga menetapkan Dekrit Ad Gentes (kepada bangsa­bangsa) yang mewajibkan seluruh Gereja untuk menjalankan kerja misionaris. Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk­petunjuk Konsili dan dengan pernyataan­pernyataan Magisterium sesudahnya. Kesulitan­kesulitan baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar, telah memperlemah daya dorong karya misioner Gereja kepada orang­orang non­ Kristen, suatu kenyataan yang mestinya membangkitkan kepedulian di antara semua orang yang percaya kepada Kristus. Sebab dalam sejarah Gereja, gerakan misioner selalu sudah merupakan tanda kehidupan, persis sebagaimana juga kemerosotannya merupakan tanda krisis iman.”

***********

Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)