MUJAHIDDAKWAH.COM, ⁣ISTANBUL — Ketua Gerakan Islam Palestina, Syaikh Raed Salah, menekankan pada Senin (20/7/2020), bahwa posisi yang diwujudkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan membuka masjid Hagia Sophia lagi untuk ibadah “adalah apa yang dibutuhkan oleh Masjid Al-Aqsa yang diberkati untuk mengembalikan kedaulatan kepadanya”. Mencatat pada saat yang sama, ia juga mengatakan bahwa “posisi Turki pada masalah Palestina tidaklah keluar tiba-tiba”.

Syaikh Salah berbicara dalam wawancara khusus dengan Kantor Berita Turki, melalui layanan Skype. Ia menyampaikan sejumlah poin terkait dengan masjid Hagia Sophia dan posisi orang-orang Palestina terhadap Erdogan, di samping praktik-praktik penjajahn ‘Israel’ terhadap Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem.

“Saya percaya dengan pernyataan yang dikatakan Presiden Erdogan, keyakinan sepenuh hati ketika ia menyatakan bahwa pemulihan kedaulatan untuk Hagia Sophia adalah syiar yang dekat untuk mengembalikan kedaulatan ke Masjid Al-Aqsa yang diberkati,” ujar Syaikh Salah.

Ia juga menyampaikan bahwa penduduk Palestina haus akan posisi bebas dan mandiri ini yang tidak menerima tekanan dari orang lain, dan oleh karena itu ia sepenuhnya yakin bahwa pembukaan Hagia Sophia yang diwujudkan oleh Erdogan adalah apa yang dibutuhkan oleh Masjid Al Aqsa, untuk mengembalikan kedaulatan ke masjid yang diberkati ini.

“Langkah besar ini, mengembalikan kedaulatan ke masjid Hagia Sophia, tidak ada keraguan bahwa ia membawa kabar baik bahwa selama ada seorang pria bernama Erdogan di negara Islam ini, dan selama ia memiliki posisi bebas yang tidak takut terhadap tekanan, inilah yang dibutuhkan oleh Masjid Al-Aqsa yang diberkati sekarang sehingga kita dapat mendukungnya dengan izin Tuhan,” ungkapnya.

Hal ini, menurut Syaikh yang telah berulangkali dipenjara oleh ‘Israel’ ini, memberi tahu kita bahwa penjajahan Israel, tidak peduli seberapa agresifnya terhadap Masjid Al-Aqsa yang diberkati, tidak akan mengubah identitas Masjid Al-Aqsa atau realitasnya.

“Masjid Hagia Sophia berada di bawah ketidakadilan yang berlangsung selama puluhan tahun, tetapi ketidakadilan ini tidak mengubah identitas Masjid Hagia Sophia dan kembali ke asalnya setelah tahun-tahun yang panjang ini di mana paksaan dari luar negeri berubah menjadi museum,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan keyakinan bahwa posisi Turki ini tidak berasal dari kekosongan, juga tidak mendarat pada masalah Palestina seolah-olah itu adalah pengganggu, sama sekali tidak, karena memiliki akar historisnya.

“Kita tidak dapat menyangkal bahwa posisi Erdogan memiliki ekstensi yang mewujudkan peran Kekhalifahan Islam Utsmani yang melindungi Palestina, Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa yang diberkati, dan merupakan inkubator dan pelindungnya selama 500 tahun.

Akar historis ini tidak dapat dicabut, dan akarnya akan tumbuh dan tumbuh, dan di antara buah-buahan ini mereka menghasilkan buah dari posisi Turki sekarang yang mengkonfirmasi kemenangan abadi posisi Turki bebas untuk tujuan Palestina secara umum dan masalah Yerusalem dan khususnya Masjid Al-Aqsa yang diberkati,” ia mengungkap.

Ia menambahkan bahwa Erdogan membuat orang-orang Palestina merasa bahwa mereka tidak sendirian dan tidak dibiarkan sendirian untuk menyembuhkan luka-lukanya dengan tangannya, tetapi ada orang-orang yang memeluknya, ada orang-orang yang tinggal bersamanya, dan ada orang-orang yang mengangkat suaranya.

Syeikh Salah menekankan bahwa, kekuatan umat Islam pertama-tama adalah dengan mengandalkan Allah SWT. Ia juga menyebutkan peran ulama terdahulu seperti Ibnu Taimiyyah hingga Izzuddin bin Abdul Qasam dalam pembaharuan dan perjuangan membebaskan umat Islam yang ditindas.

“Semua elemen kebaikan ada di negara ini, kita mungkin perlu menyentuh kebaikan ini untuk merumuskan kehendak, keputusan, posisi dan pawai suatu bangsa yang menaklukkan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa yang diberkati,” tutupnya.

Sumber: Anadolu Agency
Editor: Muhammad Akbar