1. Peradaban Islam

Berbicara tentang peradaban Islam, maka tidak terlepas dari dua sebab dan proses pertumbuhan peradaban Islam, baik dari dalam maupun luar islam. Dari dalam Islam, perkembangan peradaban itu karena bersumber langsung dari Alquran dan sunnah. Sedangkan, dari luar Islam, peradaban itu berkembang dari proses penyebaran Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan, perkembangan istitusi negara, perkembangan ilmu pengetahuan dan perluasan daerah Islam.

Dari proses seperti inilah, peradaban Islam terus berkembang salah satunya pada ilmu pengetahuan. Menurut Direktur Institute For the Study Of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy zaikasyi, mengatakan, peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

Pokok terpenting dalam membangun peradaban islam adalah agama, keimanan, serta nilai-nilai spritualitas. Dimana asas dasar peradaban islam adalah Laa Ilaha Illallah… “keyakinan manusia hanyalah kepada Allah, bukan kepada benda, hawa nafsu, atau kemegahan. Semua yang dikerjakan manusia hanyalah untuk Allah. Tidak ada yang perlu dijadikan sembahan kecuali Allah.” Jadi, menolak agama sebagai inti peradaban berarti sama halnya dengan membangun rumah tanpa pondasi.

Peradaban Islam adalah sebuah peradaban yang sangat menjunjung nilai ketuhanan (tauhid) dan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tauhid dan ilmulah peradaban islam terbangun. Selama akidah dan ilmu rusak, selama itu pula tak akan bangun peradaban islam.

Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan bahwa berdakwah melalui tulisan merupakan cara membangun peradaban Islam. Hal ini serupa dengan firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Qalam : 1 dalam terjemahannya: “Nun. Perhatikanlah Al-Qalam dan apa yang dituliskannya.”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendorong umatnya untuk pandai menulis.

Karena berdakwah melalui tulisan tidak dibatasi oleh waktu, bisa menjangkau daerah yang luas, dan keakuratan isi dakwah lebih terjamin.

Buktinya, dapat kita lihat dari cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah yaitu selain menyampaikan (tablig) secara langsung kepada umatnya, beliau juga berdakwah melalui surat menyurat. Meskipun Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis, beliau sangat cerdas memilih Zaid bin Tsabit sebagai sekertaris pribadinya yang terkenal sebagai ahli bahasa asing dunia kala itu. Gagasan Nabi ditulis oleh Zaid bin Tsabit lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan strategis. Dimana surat itu berisi ajakan untuk memeluk agama islam.

Hal ini membuktikan bahwa dalam melaksanakan dakwah dan membangun peradaban itu sangat dibutuhkan adanya tulisan.

Alquran adalah sumber pedoman utama bagi orang islam. Sehingga para cendikiawan islam yang banyak berinteraksi dengan Alquran dan telah menerapkan menulis sebagai suatu tradisi maka lahirlah cabang-cabang ilmu yang bersumber dari Alquran seperti halnya ilmu tafsir, fiqh, hadits, mawaris, astronomi, sosial, peternakan, pertanian, dan sebagainya.

2. Ilmu Membangun Peradaban Islam

Ilmu adalah suatu perkara yang sangat diperhatikan Allah Subhanahu Wata’ala dan juga oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat banyak dalil di dalam Alquran maupun Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang tingginya kedududukan ilmu.

Diantara ayat yang menunjukkan akan tingginya kedudukan ilmu adalah Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa meminta tambahan ilmu. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku,tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Taha : 114).

Dan tidak ada di dalam Alquran Allah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa meminta tambahan selain daripada tambahan ilmu sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Maka ini menunjukkan agungnya ilmu, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan oleh Allah untuk berdoa meminta ilmu.

Di antara ayat lain yang menunjukkan tentang agungnya ilmu adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala

“Wahai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11).

Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang yang beriman akan diangkat derajatnya, dan orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya di atas derajatnya orang-orang yang beriman. Oleh karenanya tatkala Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimassalam diberikan ilmu, merekapun bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas karunia tersebut.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman (dengan ilmu)”. (QS. An-Naml : 15).

Lihatlah bahwa dalam ayat di atas Allah memuliakan Nabi Sulaiman dan Nabi Daud ‘alaihissalam. Sehingga orang yang beriman akan Allah tingkatkan derajatnya. Namun orang yang beriman lagi berilmu, akan lebih tinggi derajatnya dari orang-orang yang hanya sekedar beriman. Oleh karenanya pula, bahwa tidaklah Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam kecuali sebab ilmu.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka (malaikat) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah : 31-32).

Jadi di antara kemuliaan Nabi Adam ‘alaihissalam adalah dengan ilmu yang Allah ajarkan kepadanya. Oleh karenanya ayat yang menyebutkan pengangkatan derajat orang-orang yang berilmu di atas orang-orang beriman dalam surah Al-Mujadilah ayat 11 maksudnya adalah Allah akan mengangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun dalil-dalil dari hadits yang menyebutkan tentang tingginya kedudukan ilmu diantaranya adalah,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan buat dia faqih (paham) terhadap perkara agama.” (HR. Bukhari no. 71).

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa, jika Allah menginginkan kebaikan yang besar bagi seorang hamba, Allah akan buat paham tentang agama. Oleh karenanya jika ada seseorang yang tertarik untuk belajar agama, tertarik untuk menghadiri majelis-majelis ilmu maka itu tanda kebaikan bahwa Allah masih sayang kepada hamba tersebut.

Inilah sebagian kecil dalil-dalil yang ada dalam Alquran dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tingginya kedudukan ilmu.

Karena begitu penting dan tingginya kedudukan ilmu serta besarnya balasan yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang berilmu, maka tidak sedikit dari orang Islam yang berlomba-lomba dalam menuntut ilmu agama. Bahkan, sampai mereka rela berkorban harta dan jiwa mereka demi mendapatkan ilmu agama.

Ketika seseorang telah memiliki ilmu pengetahuan yang melimpah, maka ia perlu mendakwahkannya kepada orang lain, agar ilmu yang didapatkannya yang merupakan salah satu nikmat dari Allah bisa menjadi kebaikan bagi dirinya maupun orang lain.

Karena semakin banyak kita menebarkan kebaikan, maka semakin banyak dan besar pula pahala untuk kita, dan kebaikan itu akan terus mengalir pahalanya kepada kita baik ketika kita masih hidup di dunia maupun ketika kita sudah meninggal dunia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “jika manusia mati maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Dan pada hakikatnya, ilmu bagaikan bejana. Seperti satu botol, yang ia pasti terisi, kalau ia tidak terissi dengan air atau dengan cairan lainnya. Maka, ia akan terisi dengan udara. Demikian juga dengan ilmu, ketika kita tidak mengisinya dengan menyebarkan dinullah (agama Allah), semangat untuk berdakwah, maka yang akan mengisinya adalah perkara-perkara yang melalaikan kita dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Olehnya itu, benarlah apa yang dikatakan seorang salafush shalih “di dalam pergerakan, ada berkah”. Bagaikan air kata Imam Syafi’i “bagaikan air, jika ia mengalir, maka ia akan jernih. Dan jika tinggal saja tidak mengalir, bagaikan air di kubangan, maka ia akan kotor dan tempat berkumpulnya segala macam penyakit.”

Oleh sebab itu, dakwah, mengajak orang pada kebaikan adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim.

Selain dakwah disampaikan secara lisan atau langsung, dakwah juga dapat disampaikan secara tulisan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para cendikiawan islam yang telah menjadikan menulis sebagai suatu tradisi sehingga karya dan ilmu mereka dapat dirasakan oleh generasi islam masa kini.

3. Aktivis Dakwah kampus Millennial

Millennial dikenal dengan generasi muda yang memiliki tingkat keakraban dan penggunaan komunikasi dan teknologi digital yang tinggi.

Seorang aktivis dakwah kampus juga merupakan generasi millennial, karena seiring berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, yang dapat dijadikan alat untuk berdakwah masa kini.

Di zaman millennial ini, seorang aktivis dakwah bisa dengan mudah menjalankan dakwahnya, hanya dengan mempergunakan media sosial yang banyak digunakan masayrakat, baik itu masayrakat dalam kampus maupun masayrakat luar kampus seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dan media sosial lainnya.

Berdakwah di Zaman Millennial sangat bagus melalui tulisan karena menulis merupakan salah satu media dakwah yang efektif dan efisien. Sifatnya tidak dibatasi oleh waktu, bisa menjangkau daerah yang luas, dan keakuratan isi dakwah lebih terjamin.

Dan yang paling luar biasa adalah secara tidak langsung kita menjadi bagian dari peradaban islam. Karena tulisan yang telah kita karyakan karyakan menjadi lebih bermakna dan memiliki dampak positif bagi pembaca, masayrakat, dan dunia. Karena nafasnya seorang aktivis dakwah adalah perjuangan.

***********

Penulis: Wahyuni Subhan
(Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Pengurus Mujahid Dakwah Media)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)