Alhamdulilah, pada kesempatan ini kembali kita lanjutkan pembahasan tentang pedoman atau panduan menuntut ilmu yakni pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Sebagaimana para salaf telah memberikan contoh tentang hal tersebut.

Hal yang tak kalah pentingnya bagi seorang penuntut ilmu adalah memperhatikan adab dan akhlak. Pencari ilmu hendaklah mendahulukan kebersiharn jiwa dari akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat buruk, karena ilmu adalah ibadah hati.

Dia harus memutuskan hubungan-hubungan yang menyibukkan dari segala sesuatu, karena bila konsentrasi sudah bercabang, ia tidak sanggup mengetahui hakikat ilmu.

As-Salaf mendahulukan (lebih memprioritaskan) ilmu di atas segalanya. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau baru menikah seorang budak wanita dihadiahkan kepada Abu Bakar bin al-Anbari, manakala dia masuk kepadanya, pikirannya tertuju kepada sebuah masalah, namun dia gagal menemukan jawaban dari masalah tersebut, maka dia berkata, “Bawalah dia ke penjual budak.” Wanita tersebut bertanya, “Dosa apa yang telah aku lakukan?” Dia menjawab, “Tidak ada, hanya saja hatiku sibuk denganmu. Orang sepertimu seharusnya tidak menghalangiku dari ilmu. “

Pencari ilmu patut menyerahkan kendali dirinya kepada gurunya seperti orang sakit yang memasrahkan dirinya kepada seorang dokter, bertawadhu’ kepadanya dan berusaha berkhidmat kepadanya semaksimal mungkin.

Ibnu Abbas memegang pijakan pelana tunggangan Zaid bin Tsabit sambil berkata, “Seperti inilah kita diperintahkan untuk kita lakukan kepada para ulama kita.” Bila seorang pencari ilmu menyombongkan diri untuk mengambil ilmu dari orang yang belum memiliki keterkenalan keunggulan, maka dia adalah orang bodoh, karena hikmah adalah barang yang hilang dari seorang Mukmin, di mana pun maka sepatutnya dia mengambilnya. Hendaknya pencari ilmu meninggalkan pendapatnya karena pendapat gurunya, kesalahan guru lebih berguna bagi pencari ilmu daripada kebenaran dirinya.

Hal ini menunjukkan pentingnya nilai-nilai adab di bagi seorang penuntut ilmu kepada gurunya. Insya Allah pembahasan tentang adab kita akan sampaikan dalam beberapa tulisan kedepannya. Mulai dari adab kepada guru, kepada ilmu, kepada buku dll.

Ali radhiallahu anhu berkata, “Sesungguhnya di antara hak seorang ulama atasmu adalah hendaknya kamu mengucapkan salam kepada hadirin secara umum, dan mengkhususkannya dengan perhormatan, lalu duduk di depannya, jangan menunjuk di depannya dengan tanganmu, jangan memberi isyarat dengan matamu, jangan banyak bertanya kepadanya, jangan membantunya menjawab, jangan merajuknya bila dia sedang malas, jangan membantahnya bila dia menolak, jangan memegang bajunya bila dia bangkit, jangan menyebarkan rahasianya, jangan mengghibah seseorang di depannya, jangan mencari-cari kesalahannya, bila dia salah, maka maafkanlah, jangan berkata kepadanya, ‘Aku mendengar fulan berkata begini.’ Jangan pula berkata, ‘Aku mendengar fulan mengucapkan berbeda dengan ucapanmu.’ Jangan membicarakan ulama lain di depannya, jangan bosan menjadi muridnya dalam waktu yang panjang, jangan menolak untuk berkhidmah kepadanya. Bila dia mempunyai hajat yang harus ditunaikan, maka dahuluilah orang-orang dalam menunaikannya, karena dia ibarat pohon kurma yang ditunggu kapan sebagian darinya jatuh kepadamu.

Pencari ilmu di awal langkahnya patut menjauhi mendengar perbedaan pendapat orang-orang, karena hal itu dapat membingungkan akalnya dan menumpulkan pikirannya. Dia patut mengambil terbaik dari segala sesuatu, karena umur tidak cukup yang panjang untuk menguasai semua ilmu, kemudian memberikan mayoritas waktunya kepada ilmu-ilmu yang paling mulia, yaitu berkaitan dengan akhirat yang dengannya keyakinan direngkuh sebagaimana ia telah direngkuh oleh Abu Bakar ash
Shiddiq sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wassalam mengakui hal itu padanya, di mana beliau bersabda,

Abu Bakar tidak mengungguli kalian dengan banyaknya puasa dan shalat, akan tetapi dengan sesuatu yang bersemayam dalam dadanya.” (HR. Al-Hakim & At Tirmidzi).

Adab merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan seorang penuntut ilmu baik seorang guru dan murid, adab tidak bisa terlepas dalam aktivitas sehari-hari. Ibadah kepada Allah, menghormati guru dan orang tua, bermuamalah. Maka semuanya membutuhkan adab yang baik. Dan para ulama kita dahulu, lebih mendahulukan adab dibandingkan dengan ilmu.

Mempelajari adab lebih di dahulukan di bandingkan dengan ilmu. Telah di lakukan oleh para ulama dan tokoh-tokoh cendekiawan muslim dahulu, sebagaimana mereka mencontohkan.

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.”

Imam Ibnu Wahab berkata, “Aku lebih mengutamakan belajar adab kepada Imam Malik dibandingkan dengan belajar ilmu darinya.”

Imam Abu Hanifah (Imam Hanifah) berkata, “Kisah-kisah tentang kehidupan para ulama dan duduk dalam majelis mereka lebih aku sukai dari mempelajari banyak ilmu, karena kisah-kisah itu penuh dengan ketinggian adab dan akhlak mereka.”

Olehnya itu, perhatian seorang penuntut ilmu harusnya lebih besar terhadap adab dan akhlak sebelum ilmu. Karena ilmu akan susah untuk diraih tanpa dihiasi oleh adab yang baik dan mulia.

Sebagaimana nasehat Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin bahwa, “Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak mulia. Maka tidak ada faedah menuntut ilmu.”

Asy-Syahid Nasyiruddin telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut sangat bermutu, dan perlu dibaca. Karena setiap orang wajib memelihara akhlaknya. Begitu juga dengan ulama-ulama yang lainnya seperti Imam Bukhari yang menulis Kitab Adabul Mufrad dll.

Demikian secara singkat gambaran tentang pentingnya adab bagi seorang penuntut ilmu. Insya Allah pembahasan secara terperinci tentang adab dan yang lainnya akan disampaikan secara berseri di Panduan Menuntut Ilmu. Semoga memberikan manfaat dan pencerahan kepada ummat dan doakan penulis agaf terus istiqomah dalam kebaikan dan aktifitasnya. Jazakumullahu lahiran…

***********

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pengurus Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)

Referensi: Buku Mukthasar Minhajul Qashidin, Kitab Adabul Alim Wal Mutaallim, Kitab Ta’lim Muta’allim, Kitab Ihya Ulumuddin, Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, dan Kitab Hadits Lainnya.

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)