MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA – Wacana pelaksanaan salat Jumat dua gelombang di tengah pandemi virus Corona mengemuka. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya sempat membuat fatwa bahwa salat Jumat dua gelombang hukumnya tidak sah.

Fatwa MUI itu bernomor 5/MUNAS VI/MUI/2000 tentang pelaksanaan salat Jumat dua gelombang. Fatwa dibahas dalam Musyawarah Nasional VI MUI yang berlangsung pada 23-27 Rabiul Akhir 1421 H/ 25-28 Juli 2000. Ketetapan fatwa itu diteken oleh Ketua MUI Umar Shihab dan Sekretaris MUI Din Syamsuddin.

Begitu pun dengan ketetapan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 24 Rabi’Al-Tsani 1422 H, bertepatan dengan tanggal 16 Juli 2001 M, yang membahas tentang Hukum Melaksanakan Shalat Jum’at Dua Kali di Satu Masjid (Tempat) karena terbatasnya kapasitasnya untuk menampung jamaah shalat Jum’at atau karena alasan lain.

Dalam pembuatan fatwa tersebut, MUI menimbang sejumlah hal sebagai berikut:

  1. Bahwa terdapat sejumlah industri yang sistem operasionalnya bersifat nonstop 24 jam, tanpa henti, serta harus ditangani secara langsung dan terus menerus; dan jika operasionalnya dihentikan beberapa saat saja, atau tidak ditangani (ditunggu) secara langsung, mesin industri menjadi rusak yang pada akhirnya timbul kerugian besar dan para pekerja kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber ma’isyahnya;
  2. Bahwa dengan sifat industri seperti itu, muslim yang bekerja di industri tersebut tidak dapat melaksanakan shalat Jum’at kecuali jika dilakukan dengan dua gelombang, sehingga mereka bertanya-tanya tentang status hukumnya;
  3. Bahwa oleh karena itu, MUI dipandang perlu untuk menetapkan fatwa tentang hukum dimaksud.
  4. Milik Shalat Jum’at merupakan salah satu agama yang dipeluk Islam atas orang-orang yang beriman ( mukmin ), dewasa ( baligh ), merdeka, sehat jasmani dan ruhani, serta tidak bisa bepergian jauh ( musafir ). Oleh karena itu, orang-orang yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at tidak boleh meninggalkannya.
  5. Berkenaan dengan shalat Jum’at dapat dilakukan dengan sempurna, maka Allah SWT meminta orang-orang yang beriman untuk mendapatkan segala bentuk perdagangan atau pekerjaan lain yang dapat dihalang-halangi atau dilakukan dengan melaksanakan ibadah shalat Jum’at.
  6. Bahwa shalat Satu tujuan dilaksanakannya ibadah shalat Jum’at Beroperasi Berjamaah Adalah untuk review menghimpun Umat Islam hearts Satu Tempat sehingga DAPAT melaksanakan ibadah DENGAN khusyu’ , creates syiar Islam, memperkuat ukhuwah islamiyah , memperkokoh persatuan Dan Kesatuan Umat Serta menumbuhkembangkan ruh di-ta’awun KARENA menerima sama-sama menjadi hamba Allah yang beribadah dan mengabdi kepada-Nya.
    Terkait untuk mewujudkan tujuan di atas, maka pada masa Rasulullah SWT shalat Jum’at hanya dilaksanakan dalam satu masjid. Kemudian, sesuai dengan jumlah pemeluk agama Islam sehingga tidak dapat ditampung dalam satu masjid, maka shalat Jum’at dilaksanakan dalam beberapa masjid sesuai dengan kebutuhan.

Atas hal itu, MUI menetapkan bahwa salat Jumat dua gelombang itu hukumnya tidak sah. Berikut ini isi lengkap ketetapan MUI mengenai fatwa terkait pelaksanaan salat Jumat dua gelombang:

  1. Pelaksanaan salat Jum’at dua gelombang (lebih dari satu kali) di tempat yang sama pada waktu yang berbeda hukumnya tidak sah, walaupun terdapat ‘uzur syar’i (alasan yang dibenarkan secara hukum).
  2. Orang Islam yang tidak dapat melaksanakan salat Jum’at disebabkan suatu ‘uzur syar’i hanya diwajibkan melaksanakan salat Zuhur.
  3. Menghimbau kepada semua pimpinan perusahaan/industri agar sedapat mungkin mengupayakan setiap pekerjanya yang muslim dapat menunaikan salat Jum’at sebagaimana mestinya.
  4. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap muslim yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Hal tersebut juga dibahas lain oleh MUI DKI Jakarta tentang hukum pelaksanaan shalat Jumat yang dilakukan 2 gelombang. Berikut keputusan fatwanya yang diterima mujahiddakwah.com dalam keterangan tertulisnya.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Shalat Jum’at wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang berkewajiban melaksanakannya satu kali dalam satu minggu; yaitu pada hari Jum’at yang selesai sama dengan waktu shalat Dz Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat al-Jumu’ah, ayat 9:

يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون (9)

“Hai orang-orangutan Yang beriman, diser apabila u untuk review menunaikan sembahyang PADA hari Jum’at, Maka bersegeralah kamu tidak ditunjukan kepada mengingat Allah Dan tinggalkanlah jual beli.Yang demikian ITU LEBIH Baik Bagimu JIKA kamu mengetahui”. [QS. Al-Jumu’ah, ( 62 ) : 9 ]

Demikian sabda Rasulullah SAW Yang diriwayatkan Imam Abu Dawuddari Thariq bin Syihab: “Shalat Jum’at Adalah Suatu Kewajiban differences SETIAP orangutan Islam Yang Harus dilaksanakan Beroperasi Berj sebuah maah, kecuali differences Empat orangutan; hamba sahaya, wanita, anak kecil dan orang yang sedangsakit ”. Demikianjuga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah, sebagai berikut: “Hendaklah kaum muslimin (umat Islam) menghentikan kebiasaan mereka pergi shalatJum’at, atau Allah akan menutup pintu hati mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang lupa (kepada Allah SWT)”. Demikian pula sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, dari sahabat Abu al-Ja’ad, sebagaiberikut: “Barangsiapa pergi tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, maka Allah SWT akan membuka pintu pembicaraan”.

  1. Jika diizinkan, shalat Jum’at hanya dilaksanakan satu kali dalam satu masjid di setiap kota atau desa. Hal ini diperlukan untuk menghimpun umat Islam dalam satu tempat sehingga dapat dilakukan shalat dengan khusyu ‘, menciptakan syiar Islam, memperkuat ukhuwah Orang Islamiyyah , memperkokoh persatuan dan menabungkembangkan populasi manusia dengan menumbuhkan perkembangbiakan ruh at-ta’awun, karena sama-sama dapat membuat hamba Allah yang beribadah dan mengabdi kepada-Nya.
  2. Jika tidak memungkinkan karena ada persyaratan tingkat tinggi, sulitnya menghimpun umat Islam dalam satu masjid, sulitnya mempertemukan dua kelompok umat Islam yang saling bermusuhan, dan jumlah jamaah Jum’at tidak dapat ditampung di dalam satu masjid, sesuai kebutuhan. antara satu wilayah dengan umat Islam dengan pemukinan yang lain dan sebagainya, maka shalat Jum’at dapat dilakukan di beberapa masjid atau bangunan sesuai dengan kebutuhan (hajat).
  3. Jika kaum muslimin yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at tidak dapat melaksanakannya dalam waktu bersamaan karena tugas-tugas penting yang tidak dapat dilanggar dan harus berganti, maka shalat Jum’at dapat dilakukan dua shift, dengan persyaratan, waktu pengiriman bantuan shalat Jum’at ini masih dalam batas waktu Dzuhur. Semua pelaksanaan shalat Jum’at ini disetujui sah sehingga tidak perlu dilakukan I’adah shalat Dzuhur. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil sebagai berikut:

Para imam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali) telah menyetujui, sehingga shalat Jum’at tidak dapat dilaksanakan beberapa kali ( ta’addud al-jumu’ah ) di beberapa masjid atau bangunan lain di satu kota atau desa, misalnya Karena ada hajat (kebutuhan) seperti luasnya wilayah kota atau desa, sulitnya menghimpun umat Islam dalam satu masjid, sulitnya mempertemukan dua kelompok umat Islam yang saling bermusuhan, banyaknya jumlah jamaah Pemukiman umat Islam dengan pemukinan yang lain dan sebagainya. (Lihat Wahbahaz-Zuhaili, Al-Fiqh al-IslamiWaAdillatuhu , (Beirut: Dar al Fikr, 1999), juz ke-1, hal. 279-282. 433-434).

Reporter: Muhammad Akbar
Editor: Admin MDcom