”Kebebasan, Konsep Penting Worldview Sekular” Oleh: Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud   PROF. Wan Mohd Nor Wan Daud saat ini adalah Felo Peneliti Utama, Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia. Sosoknya sebagai pakar pemikiran Islam dikenal di berbagai belahan dunia Islam melalui karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Berikut ini petikan wawancara Islamia-Republika tentang masalah ”kebebasan” dengan doktor lulusan Chicago University yang bulan ini meluncurkan sebuah buku berjudul ”Knowledge, Language, Thought and The Civilization of Islam: Essays in Honor of Syed Muhammad Naquib al-Attas”.

Apa beda konsep ”Kebebasan” dalam Islam dan dalam konsep kaum Sekular?

Semua penafsiran konsep-konsep kunci dan amalan yang terlahir darinya mencerminkan sesuatu worldview (pandangan alam). Kebebasan adalah konsep yang amat penting dalam worldview sekuler, tetapi tidak begitu penting dalam worldview berbasis agama, terutama agama Islam, kecuali jika worldview berbasis agama itu sudah dipengaruhi oleh worldview sekuler.

Masalahnya, apakah kerangka atau prinsip-prinsip utama worlview sekuler ini? Berdasarkan rumusan sarjana Barat dan seperti yang terbukti dari pengalaman kebudayaan dan tamadun (peradaban) mereka, bisa dipahami, pertama bagi mereka, alam jagad raya — yaitu universe — ini adalah satu-satu alam yang ada.

Dalam pandangan mereka, jagad raya ini juga tidak mempunyai kewujudan dan makna rohani. Tidak ada alam rohani, alam arwah, alam malakut, jabarut. Tidak ada syurga, neraka. Cuma ada jagad raya atau universe ini; bukan saja terbatas kepada jagad raya yang berputar mengelilingi matahari kita. Malah setiap bintang itu adalah matahari dan pusat bagi universenya sendiri. Kononnya, hampir tak terhitung jumlahnya.

Prinsip-prinsip lain dalam pandangan alam mereka, semua terlahir dari yang pertama ini.

Kedua, dalam pandangan-alam sekular, semua nilai dianggap tidak memiliki watak sakral, suci, dan kekal abadi. Ketiga, kegiatan dan tujuan politik hanya terbatas kepada kepentingan kehidupan dalam dunia ini, tiada tujuan ukhrawi. Malah kegiatan keagamaan dibenarkan dan dikembangkan untuk men-capai kesejahteraan dan kejayaan duniawi. Keempat, alat bagi mencapai kesejahteraan dalam hidup duniawi ini hanyalah akal fikiran manusia dan saling membantu antara mereka. Dalam konteks ini, ilmu sains, perekonomian, perubatan dan teknologi adalah yang paling dibutuhkan.

Bagaimana peradaban Barat dapat me-miliki pandangan alam seperti itu?

Prinsip-prinsip ini disimpulkan setelah Barat melalui pengalaman yang amat me-milukan dengan agama Kristen selama lebih seribu tahun.

Pengalaman pahit ini ke-mudiannya digeneralisasikan sebagai satu hukum tabii perkembangan manusia, seperti yang diuraikan oleh Max Weber dan lain-lain. Maksudnya, sebelum manusia mencapai tahap evolusi intelektual dan saintifik, me-reka amat memerlukan worldview berbasis magis, kemudian yang berbasis agama bagi menghuraikan segala fenemona alam dan memaknakan jatuh-bangun roda kehidupan yang tidak menentu.

Dari sini semua orang Islam yang berakal sehat, walaupun tidak berpendidikan formal tinggi, sudah dapat memahami perbedaan mendasar antara konsep kebebasan dalam Islam dan dalam worldview sekular. Begitu juga dengan konsep-konsep kunci lain seperti konsep pembangunan, kepimpinan, pendidikan, kemajuan, kebahagiaan dan lain-lain..

”Kebebasan” dalam Islam ialah pelepasan dari segala ikatan rohani, akli, nafsu, dan sosial agar manusia berupaya mencapai potensinya sebagai abid, makhluk terbaik (ahsanal taqwin), sebagai khalifah Allah di bumi, untuk mencapai keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Sedangkan ”kebebasan” dalam worldview sekuler ialah pelepasan dari segala ikatan yang dapat menghalang manusia mencapai kesenangan dan kejayaan pribadi dan sosial di dunia ini.

Ada yang mengatakan, bahwa negara sekuler yang netral agama lebih baik dan lebih adil berbanding dengan negara yang berbasis satu agama?

Bergantung pada agama mana yang di-maksudkan itu. Memang terdapat keadilan dalam pelbagai sistem bernegara, sama saja apakah negara sekular atau berbasis agama. Sejarah penindasan terhadap wanita, terhadap Yahudi dan Islam, serta terhadap sains di Eropa, penghancuran bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan memang lebih teruk (parah) dalam sejarah, ketika agama Kristen mendominasi.

Tetapi, negara yang “netral agama” di Barat juga membunuh lebih banyak orang dalam pelbagai peperangan di Eropa, terutama dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua, dalam Perang Vietnam dan Korea, di Iraq dan Afghanistan. Begitu juga rezim Komunis yang menolak agama, terutama di bawah Stalin, Mao Zedong dan Pol Pot melakukan pelbagai kezaliman dan membunuh jutaan rakyat mereka sendiri.

Sepanjang sejarah Islam, tidak pernah berlaku pembunuhan atas dasar agama atau demokrasi atau negara yang begitu kejam dan berjumlah begitu besar, walau pun memang terdapat sejumlah khalifah, sultan dan petinggi negara yang zalim dan jahat.   Kenapa orang-orang Barat memilih untuk bernegara secara “netral”agama?  

Karena pengalaman pahit mereka sendiri selama sekian lama dan dalam semua bidang kehidupan. Malah sekarang ini pun, otoritas kaum agamawan di Eropa, AS dan Australia semakin terancam, ketika semakin banyak orang yang diperkosa oleh petinggi gereja seperti pendeta yang menuntut keadilan setelah sekian lama menderita batin dan ditutup oleh hirarki gereja.

Bahkan, banyak pelakunya adalah petinggi gereja yang senior. Kebanyakan korban ini adalah anak-anak lelaki yang datang dan aktif di gereja. Orang-orang Barat yang sinis kemudian berkata, jika kami tidak bisa mempercayakan keselamatan anak-anak kami kepada kalian, apa jaminan kami boleh mempercayai kesejahteraan roh kami di hari akhirat melalui tuan-tuan yang mewakili Tuhan?

Sekali lagi, di kalangan petinggi agama Islam-pun ada yang korup, tetapi kadarnya amat rendah, dan bentuknya amat berbeda. Dalam konteks Negara Cina di bawah Mao Zedong, mereka melihat agama tradisional Cina sebagai sebab kemiskinan dan penderitaan rakyat terbanyak dan feodalisme bangsa selama ribuan tahun. Pandangan mereka itu tidak tepat seluruhnya, tetapi mempunyai alasan-alasan yang menyakinkan sebahagian golongan cendekiawan yang serius.

Bagi kita, kaum Muslim, yang lebih penting bagi kita ialah untuk memancarkan nilai dan worldview Islam dalam semua bidang kehidupan berbangsa, tetapi haruslah dihuraikan dan diamalkan dengan bijak, adil serta moderat. Kita harus menolak extremisme dalam semua hal.

Apakah pengalaman-pengalaman sejarah orang-orang Barat itu dapat diterapkan kepada seluruh manusia?

Kejayaan penerapan sesuatu pengalaman atau nilai asing ke dalam sesuatu budaya atau bangsa lain, tidak semestinya bergantung kepada nilai hakiki pengalaman atau nilai itu sendiri. Ini juga banyak bergantung kepada kekuatan pengaruh pihak pengekspor dan kelemahan dalam diri pihak pengimpor. Apabila pihak pengekspor itu kuat pengaruh-nya, kegagalan dan kerusakan nyata hasil dari penerapan pengalaman dan nilai yang tidak sesuai atau yang salah, tidak akan diakui.

Bahkan, kerusakan itu akan disebut sebagai tantangan-tantangan yang wajib dilalui untuk menjadi maju dan bertamadun. Sebaliknya, karena kekuatan pihak pengekspor paham mereka, maka potensi dan kekuatan internal pihak pengimpor, akan didiamkan. Bahkan, yang akan dibesar-besarkan adalah kelemahan-kelemahan pihak pengimpor paham tersebut. Ini untuk menimbulkan rasa tidak percaya diri dan ragu terhadap kekuatan-kekuatan yang telah terbukti berjaya sekian lama.

***********

Penulis: Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah