Rasulullah saw bersabda: “Jahidul mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”. (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu, dan lisan-lisanmu). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa‘i, Ahmad, al-Darimi, dengan sanad yang sangat kuat. Ibn Hibban, al-Hakim, and an-Nawawiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih. (Musa b. Ismail, Sunan Abu Dawud, (Istanbul: Kitab al-Jihad, bab. 17, 1992), 22-23).

Melalui hadits tersebut, Rasulullah saw menekankan pentingnya kaum Muslimin melakukan jihad secara komprehensif, dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki, baik harta, jiwa, maupun lisan. Dalam arena perjuangan, atau arena jihad, sebenarnya tiga aspek: harta, jiwa, dan lisan, saling terkait satu dengan yang lain. Peperangan fisik adalah salah satu bagian dari sebuah perjuangan yang luas dan panjang antara al-haq dan al-bathil.

Bahkan, dalam hadits lainnya, Rasulullah saw juga menekankan pentingnya jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda: “Al-Mujahid man jahada nafsahu fi-Allah ‘Azza wa-Jalla”. (Mujahid adalah seseorang yang melakukan jihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah). Al-Iraqiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih, dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Jadi, dalam arena perjuangan atau arena jihad, kaum Muslim sebenarnya diminta untuk menggabungkan seluruh kemampuan atau potensi – baik potensi jiwa, harta, maupun lisan (intelektual) dan menempatkan masing-masing pada proporsi yang sebenarnya. Kapan kekuatan fisik digunakan, kapan kemampuan intelektual, dan kapan potensi harta benda diperlukan. Semua itu harus dilandasi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT.

Semua potensi jihad itu tidak bisa digunakan jika manusia dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka, perang melawan hawa nafsu secara otomatis menjadi faktor penting dalam bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Jika kaum Muslim mampu menggabungkan semua potensi tersebut, maka dalam sejarahnya, kaum Muslim mampu tampil sebagai umat yang hebat, gemilang dan terbilang. Jika potensi itu terpecah belah dan tidak teratur dengan baik, maka kekalahan menimpa kaum Muslimin.

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam ditinggali dua perkara, yang jika keduanya dipegang teguh, maka umat Islam tidak akan tersesat selamanya. Keduanya, yakni, al-Quran dan Sunnah Rasululullah. Tapi, di samping itu, Rasulullah saw juga mewariskan para ulama kepada umat Islam. Ulama adalah pewaris nabi. Ulama-ulamalah yang diamanahkan untuk menjabarkan, mengaktualkan, membimbing, menerangi, dan memimpin umat dalam bidang kehidupan. Banyak ulama yang mensyaratkan kemampuan berijtihad‘ bagi kepala negara (khalifah).

Adalah ideal jika ulama dan umara sama-sama baik. Dalam sejarahnya, Islam akan cepat berkembang jika ulama dan umaranya baik. Tapi, ada fase-fase dalam sejarah, dimana salah satu dari dua pilar umat itu bobrok atau rusak. Ketika itu, keberadaan ulama yang baik lebih diperlukan. Ketika Khalifah al-Makmun memaksakan paham Muktazilah, para ulama Ahlu Sunnah melakukan perlawanan yang gigih. Umat selamat, dan lebih mengikuti ulama ketimbang umara. Di zaman penjajahan Belanda, umaranya jelas rusak. Tetapi, ulama-ulama Islam ketika itu gigih mempertahankan ad-Dinul Islam. Alhamdulillah, meskipun Belanda berusaha sekuat tenaga menghancurkan Islam, umat Islam lebih mengikuti ulamanya.

Maka, yang perlu diperhatikan dan dicermati, – di samping kerusakan umara (penguasa) – adalah kerusakan ulama. Lahirnya ulama-ulama yang jahil, yang korupsi ilmu agama, yang berfatwa tanpa ilmu yang memadai, yang akhlaknya rusak, yang cinta dunia, dan bahkan yang mendukung kemungkaran, dan sebagainya, adalah bencana terbesar yang dihadapi oleh umat Islam. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi, maka umat Islam harus bersiap-siap mengalami kebangkrutan. Lebih rusak lagi jika para ulama sudah mencintai dunia, menjual agama dengan harta benda dunia, dan yang merusak ilmu-ilmu agama dengan dalih menyesuaikan Islam dengan tuntutan zaman.

Sesungguhnya, Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi” sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergukan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS al-Hadid: 25).

Sudah tidak diragukan lagi, bahwa musuh abadi dan utama bagi manusia adalah syaithan (setan).

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara keseluruhan, dan jangan ikuti langkah-langkah (garis-garis) setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah: 208).

Setan itu musuh yang nyata bagi umat manusia. Setanlah yang menggoda manusia agar mengikuti hawa nafsunya, sehingga terjebak dalam kemaksiatan dan melupakan Allah SWT. Dan Iblis – moyangnya setan – sudah bersumpah saat diusir dari sorga, bahwa ia akan menyesatkan manusia secara keseluruhan.

Bisa dikatakan, setiap aspek dan gerak kehidupan manusia tak lepas dari tantangan setan, sebab setan tak pernah berhenti berusaha untuk menyesatkan manusia.

“Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS az-Zukhruf:62).

Salah satu cara setan dalam menyesatkan manusia adalah dengan menjadikan manusia memandang baik perbuatan-perbuatan maksiat.

Iblis berkata: Ya Rabbi, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS al-Hijr:39).

“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk); maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan untuk mereka azab yang pedih. (QS an-Nahl:63)…”Setan pun menjadikan indah dalam pandangan mereka, apa yang mereka kerjakan.” (QS al-An‘am:43).

Logika dan aktivitas setan memang bertentangan dengan logika dan tindakan orang mukmin. Jika orang mukmin senantiasa melaksanakan aktivitas amar makruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, maka setan justru sebaliknya. Kerja mereka yang utama adalah memerintahkan manusia agar mengerjakan kemungkaran dan membenci kebaikan (al-ma‘ruf). Disebutkan dalam al-Quran:

“Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuata keji dan munkar.” (QS an-Nuur: 21).

Al-Quran (al-An‘am:112) mengingatkan, bahwa sesungguhnya musuh para nabi adalah setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin, yang pekerjaan mereka adalah menyebarkan “kata-kata indah” (zukhrufal qawli) dengan tujuan untuk menipu manusia. Malik Bin Dinar, seorang ulama terkenal (m. 130 H/748 M) pernah berkata: “Sesungguhnya setan dari golongan manusia lebih berat bagiku daripada setan dari golongan jin. Sebab, setan dari golongan jin, jika aku telah membaca ta‘awudz, maka dia langsung menyingkir dariku, sedangkan setan dari golongan manusia dapat mendatangiku untuk menyeretku melakukan berbagai kemaksiatan secara terang-terangan.” (dikutip dari Imam al-Qurthubi, 7/68 oleh Dr. Abdul Aziz bin Shalih al-Ubaid, Menangkal Teror Setan (Jakarta: Griya Ilmu, 2004), hal. 88).

Setan – baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin – memiliki ambisi utama untuk menyesatkan manusia, seluruhnya.

“Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu.” (QS al-Ghafir:5).

Sebenarnya, sangatlah mudah mengenali logika dan tipudaya setan. Yakni, siapa saja yang menjadi pendukung kebatilan dan kemunkaran, pasti ia telah menjadi setan, atau mengikuti langkah setan.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan munkar.” (QS an-Nur: 21).

Dalam kasus promosi lesbianisme Irshad Manji, upaya pagelaran konser Lady Gaga, dan juga pementasan Miss World di Indonesia, tampak dengan sangat nyata, bagaimana peran setan dalam mengemas perbuatan mungkar menjadi indah. Jika Allah SWT memerintahkan agar wanita-wanita menutup auratnya, kontes Miss World justru memerintahkan peserta agar melucuti pakaian seseksi mungkin sehingga memungkinkan jutaan pasang mata laki-laki menikmati tubuh wanita-wanita yang memang tergolong cantik. Jika Rasulullah saw memberitahukan bahwa “al-hayaa‘u minal iman”, malu itu sebagian dari iman, maka setan justru mendorong agar para wanita itu hilang rasa malu untuk mempertontonkan auratnya.

Coba kita renungkan! Bukankah tindakan melawan Allah dan Rasul-Nya itu sebuah pembangkangan yang nyata. Bandingkan dengan sikap Iblis yang hanya sekali saja menolak petintah Allah, maka ia langsung diusir dan dilaknat Allah. Dengan kecanggihan media, perbuatan jahat diopinikan sebagai kebaikan. Hebatnya lagi, kemungkaran itu kemudian dipromosikan sebagai bentuk kecintaan dan kebaikan bagi bangsa Indonesia. Sungguh cara kerja yang sangat hebat dan sungguh-sungguh dalam menyesatkan umat manusia.

Katanya, bangsa Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah Tuhan Yang Maha Esa (yaitu Allah SWT) telah memerintahkan manusia untuk mengikuti perintah-Nya, seperti menutup aurat dan tidak mengikuti langkah-langkah setan? Jika manusia hanya mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi tidak mau taat dan tunduk kepada Tuhan, maka apa bedanya manusia itu dengan Iblis? Bukankah Iblis juga mengakui Allah itu Tuhannya, tetapi Iblis membangkang, tidak mau tunduk dan patuh kepada Allah? Tentu, kita berharap, para pemimpin bangsa ini lebih mentaati Allah SWT, dan menjadikan Iblis dan setan-setan sebagai musuh yang nyata.

Mengapa manusia bisa diperbudak oleh setan? Padahal kita diingatkan oleh Allah SWT dalam Surat Yasin:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu dan hendaklah kamu menyambah-Ku. Inilah jalan yang lurus!” (QS Yasiin: 60-61).

Mengingat begitu berat dan sulitnya menghadapi tipudaya setan, di samping mengajarkan seluk-beluk tipu daya setan dan cara mengatasinya, Rasulullah SAW juga mengajarkan sejumlah doa, diantaranya: “A‘uudzu billaahi as-samii‘il ‗aliimi min asy-syaithaani ar-rajiimi.” (aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk).

Demikianlah, semoga paparan ringkas sedikit membuka mata hati kita semua, khususnya para pemimpin bangsa kita, khususnya yang muslim, agar mereka senantiasa membuka pintu hatinya untuk menerima kebenaran. Sungguh, kontes Miss World yang diselenggarakan di Indonesia 2013, adalah sebuah kejahatan serius dan satu bentuk pembangkangan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara terang-terangan. Tindakan menantang Tuhan semacam ini tidak ada gunanya sama sekali, dan merupakan perbuatan yang amat sangat keterlaluan. Bagaimana jika nanti di akhirat, para pemimpin kita itu akan berhadapan dengan Allah SWT, satu-satunya Hakim dan Raja di Hari Perhitungan.

Risalah singkat, yang merupakan kumpulan berbagai artikel ini, hanyalah sebuah ekspresi kecintaan dan kewajiban untuk mengingatkan diri dan keluarga, serta para pemimpin kita, agar kita semua diberi perlindungan oleh Allah SWT, dari godaan setan yang terkutuk. Buku ini pun hanyalah sepercik usaha untuk mengenal berbagai tipu daya setan di era modern ini, yang selalu menyebarkan kata-kata indah, dan mengemas tindakan kejahatan kepada Yang Maha Kuasa, agar tampak indah sehingga dapat menyesatkan manusia. Semoga bermanfaat. Amin.

***********

Penulis: Dr. Adian Husaini

(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)