Di bulan Ramadhan lalu saya beres-beres buku, mengeluarkan dari rak, mengelap buku dan rak satu persatu kemudian mengelompokkan buku-buku tersebut berdasarkan ukuran dan topik. Terus terang (apakah selama ini tidak berterus terang sehingga perlu disebut?), setelah beli buku kadang langsung dibaca kadang cuma ditaruh begitu saja. Dan ketika dikelompokkan, keluarlah “borok-borok”-nya. Borok pertama, ternyata saya punya lebih 50 judul buku yang sama persis, di antaranya ada yang dobel, tripel bahkan quadrupel (bayangkan, membeli buku yang sama sampai 4 kali!). Tapi bukan “borok” ini yang ingin saya bahas. “Borok” lain yang tidak saya sadari, ternyata saya mengoleksi sekitar 35 buku dengan topik yang sama yaitu Filsafat Ilmu. Sebanyak 25 buku berjudul Filsafat Ilmu tapi mungkin ada sekitar 10 lagi tentang filsafat ilmu dengan judul tidak menggunakan kata tersebut.

Ceritanya, tahun 2014 saya diangkat menjadi dosen tetap di Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Mata kuliah pertama yang ditugaskan kepada saya adalah Sejarah Sains Islam dan Filsafat Sains Islam (Nomenklaturnya: Filsafat Ilmu). Mungkin karena disertasi saya tentang Konsep Sains (Sacred Science) Menurut Seyyed Hussein Nasr maka saya diminta mengampu mata kuliah tersebut. Demi memberikan yang terbaik buat mahasiswa maka saya mengumpulkan buku-buku filsafat ilmu. Maksudnya supaya mahasiswa nanti punya wawasan yang luas. Tanpa disadari, terkumpul 35 buku. Hanya saja, kemudian ada kebijakan kampus bahwa mata kuliah Filsafat Ilmu ditarik ke S3 sedangkan di sana sudah banyak profesor-profesor sepuh yang memang pakar di bidang filsafat ilmu. Saya akhirnya diberikan tugas mengampu mata kuliah Metodelogi Penelitian dan Islamic Worldview sampai saat ini.

Pertanyaannya, betulkah untuk menjadi pakar di bidangnya harus membaca banyak buku, seperti yang saya lakukan? Ternyata jawabnya: TIDAK. Syed M. Naquib al-Attas pemikir besar abad ini, sebagaimana dilaporkan oleh Prof. Wan Mohd Nur Wan Daud, tidak bergantung pada kuantitas buku yang terlalu banyak, tetapi hanya bertumpu pada buku yang sudah disahkan (otoritatif). Hal ini bisa dilihat dari perpustakaan pribadinya yang relatif memiliki kuantitas buku terbatas. Meskipun koleksi bukunya terbatas, tapi isinya “daging” semua.

Maka, perlu seseorang belajar itu melalui seorang guru yang otoritatif (mumpuni) di bidangnya. Guru (dosen) akan membimbing murid (mahasiswa) secara khusus dan selayaknya untuk tidak menyalurkan ilmunya sebelum menyelesaikan bidang yang ia pelajari, sebagaimana bisa dilihat di kitab Ta’limul Muta’alim karya Imam al-Zarnuji. Guru akan membimbing murid menyelesaikan kitab-kitab yang harus diselesaikannya, yang kitab tersebut merupakan kitab rujukan primer di bidangnya. Gurulah yang tahu kitab itu primer atau sekunder, “daging semua” atau “daging campur tetelan”. Dulu di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), menurut penjelasan guru kami di Insists Dr. Ugi Suharto, ada mata kuliah Islamic Sources, yaitu sumber-sumber (kitab) yang otoritatif dalam berbagai cabang ilmu dalam Islam.

Di setiap bidang ilmu pasti ada kita rujukan primer yang otoritatif untuk dikaji pertama. Sama dengan ilmu sains atau sosial. Teman-teman yang belajar ilmu ekonomi (mikro maupun makro) di perguruan tinggi biasanya menggunakan buku karangan Paul A. Samuelson. Nah, dosen ekonomi yang mumpuni pasti tahu di era modern buku ini masih digunakan atau tidak. Dosen yang baik menunjukkan untuk ekonomi klasik baca buku apa saja, untuk ekonomi modern baca buku apa saja, dsb. Artinya tidak semua buku dibaca untuk memahami satu cabang ilmu.

Kalau Anda belajar Ilmu Statistika Anda biasanya diminta baca/belajar buku karangan Ronald E. Walpole. Kami sendiri tidak pakai buku itu karena itu biasanya buku itu untuk mahasiswa di luar jurusan Statistika. Dosen kami waktu itu Prof. Andi Hakim Nasoetion menyuruh kami baca buku Alan H. Kvanli yang ukurannya setebal buku telpon (Yellow Pages). Sedangkan kami juga disarankan baca buku How to Lie with Statistics karangan Darrell Huff sebagai bacaan ringan. Demikianlah belajar yang benar dan begitu pula dalam kajian ilmu-ilmu Islam.

Cendikiawan muslim terkenal sekaligus pakar sejarah dan sosiologi Islam, Ibnu Khaldun, sebagaimana yang sering dikutip al-Attas, juga menyarankan demikian. Dalam kitabnya Mukadimah Ibn Khaldun, yang merupakan bagian pembukaan dari kitabnya berjudul al-‘Ibar wa Diwanul Mubtada’ wal Khabar, pada pasal ke-27 menulis judul khusus yaitu Banyaknya Tulisan dalam Disiplin Ilmu Pengetahuan Menghambat Pengetahuan yang Ingin Dihasilkan. Beliau mengatakan bahwa banyaknya buku yang ditulis, perbedaan istilah, banyaknya metode yang digunakan merupakan penghambat masyarakat dalam memperoleh ilmu. Jika seorang pelajar diharuskan menguasai semua buku-buku itu untuk dikatakan berhasil maka seluruh umurnya tidak akan cukup untuk dapat menguasai buku-buku yang ditulis dalam satu cabang ilmu. Umurnya akan terkuras habis hanya untuk menguasai satu cabang ilmu pengetahuan saja. Kata ustadz Syamsuddin Arif, “Al-Waqtu qashir wal kutubu katsirah. Waktu yang kita miliki sedikit tapi buku yang belum dibaca banyak. Jadi jangan buang-buang waktu membaca buku yang tidak bermutu atau yang pengulangan saja.”

Di situlah gunanya seorang guru yang otoritatif, yang mengajarkan inti suatu cabang ilmu dan menyuruh muridnya membaca buku-buku referensi primer maupun sekunder yang otoritatif, menunjukkan mana buku yang bagus, biasa-biasa atau buruk. Mana buku yang cukup dicicip, buku yang baca sekali habis (seperti masakan Padang) atau buku yang harus dicerna (seperti Steak), dan sebagainya. Maka, silakan toples-toples Anda diisi dengan batu-batu besar. Kalau masih ada waktu tambahkan kerikil-kerikil atau pasir di dalamnya. Tapi jika tidak, jangan fokus pada memenuhi toples, segeralah beralih untuk mengisi toples Anda yang lain dengan batu-batu besar.

Dan untuk bidang Filsafat Ilmu dalam Islam, akhirnya saya menyadari tidak perlu membaca buku sebanyak itu. Cukup buku Filsafat Ilmu – Perspektif Islam dan Barat untuk edisi Indonesia karangan Dr. Adian Husaini et al (termasuk saya sebagai salah satu kontributor tulisan, maaf sekalian promosi) dan buku Islam and The Philosophy of Science edisi Bahasa Inggris (sudah diterjemahkan) karya Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Silakan Anda berkontribusi menyebutkan buku-buku otoritatif di bidang masing-masing agar pembelajar pemula bisa terbantu. Bisa ditulis di bagian komen. Ilmu apa saja, asal bukan ilmu sihir atau ilmu sesat lainnya.

************

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Dr. Budi Handrianto
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)