MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR –  Berbagai lapisan masyarakat mengalami keterbatasan di wabah Covid-19 yang tak kunjung diketahui kapan berakhir. Salah satunya adalah aktivitas belajar mengajar di Sekolah, Madrasah maupun TK TPA. Jum’at (15/05/2020).

Gaji yang sangat kecil diterima tak berbanding dengan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan oleh keluarga guru. Oleh sebab itu, tak sedikit dari mereka yang harus bekerja lagi sepulang mengajar. Usaha ini ia lakukan demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

Di tengah pandemi covid-19, kolaborasi kemanusiaan terus terjalin dengan beberapa beberapa pihak. Di Makassar, sinergi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Selatan dengan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) Regional Sulawesi melalui program Operasi Pangan Gratis (OPG) menyalurkan bantuan untuk guru mengaji dan guru honorer.

Pemberian bantuan ini sebagai upaya memakmurkan para penyiar dakwah Islam yang umumnya masih dalam kondisi prasejahtera. Utamanya di bulan Ramadan dan di tengah masa PSBB Covid-19, di mana kebutuhan pangan kian sulit dipenuhi.

Sejumlah 32 paket berisi Beras 5 kg, ikan kaleng, teh, gula dan minyak telah dipacking rapi dalam kardus dan telah siap didistribusikan kepada guru honorer dan guru mengaji yang ada di Kota Makassar.

Sebelumnya, tim ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sulsel telah melakukan pendataan kepada para penerima manfaat sehingga bantuan yang diberikan betul-betul sampai kepada pihak yang berhak.

Di sela pembagian, Catherin Imran selaku HOM ACT Sulsel mengatakan diberikannya bantuan bagi guru mengaji dan guru honorer karena mereka juga terdampak dari sektor ekonomi akibat wabah Covid-19 karena tidak bisa beraktivitas yang membuat kehilangan penghasilan.

“Dalam program distribusi paket pangan kolaborasi bersama MTT dan ACT kali ini menyasar para guru honorer dan guru mengaji. Kami memilih mereka untuk menjadi penerima manfaat program ini, karena kami sadar betul bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini, mereka juga menjadi bagian yg terdampak secara ekonomi. Bagaimana tidak, para guru honorer dan guru mengaji ini akan mendapat penghasilan hanya ketika mereka beraktifitas, sedangkan dengan adanya penerapan sosial diatancing, physical distancing sampai pada PSBB, mereka otomatis tidak bisa melakukan aktifitas mereka sebagai guru,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan bahwa ditutupnya sekolah dan TPA di masjid membuat para guru honorer dan guru menjadi tidak lagi mendapatkan penghasilan.

“Sekolah-sekolah di tutup, masjid-masjid dan TPA pun di tutup. Mereka para guru honorer dan guru mengaji ini, tanpa adanya Covid-19 pun mereka hanya memperoleh penghasilan seadanya, apalagi dengan adanya pandemi ini. Di sisi lain mereka juga memiliki keluarga yang juga harus dipenuhi kebutuhannya. Hal inilah yg menjadi alasan bagi kami menyalurkan bantuan ini kepada mereka,” sambungnya.

Laporan: Mustafa Mathar
Editor: Muhammad Akbar