Qiyamullail dari setelah isya sampai subuh menyelisihi sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam, kecuali pada Bulan Ramadhan, karena yang sunnah adalah menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah) bagi yang mampu. Adapun tidur, maka bagi ahli ibadah, tidur pada siang hari Ramadhan lebih utama daripada tidur pada malam harinya.

Orang yang qiyamullail boleh berwitir dengan satu rakaat, atau tiga rakaat, atau lima rakaat dengan satu kali salam dan tanpa tasyahud awal, akan tetapi bila ia ingin membaca Surat Al-A’la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam shalat witirnya, maka sunnahnya adalah shalat witirnya tiga rakaat dengan sekali salam saja.

Sebagian imam terus menerus membaca Surat Al-A’la, dan Al-Kafirun dalam dua rakaat pertama shalat witir (lalu bersalam), lalu bangun kerakaat ketiga dengan membaca Surat Al-Ikhlas. Padahal yang sunnah adalah ia membaca tiga surat tersebut masing-masing disetiap rakaat dengan sekali salam saja, bukan dua kali salam.

Yang sunnah setelah witir adalah membaca doa “Subhaanal-malikil-qudduus” sebanyak tiga kali, dengan mengeraskan suaranya, adapun istighfar dan tahlil setelah witir maka tidaklah disunnahkan.

Pada zaman Khilafah Abu Bakr radhiyallahu’anhu, shalat tarawih tidak dilakukan karena kesibukan beliau dalam memerangi kaum murtad, dan jihad tentu lebih utama daripada shalat tarawih, kemudian Khalifah Umar lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhuma. Dan Ubay bin Ka’ab tidak melakukan qunut kecuali dari pertengahan ramadhan hingga akhir.

Lebih utama untuk tidak qunut terus menerus dalam shalat witir setelah tarawih, karena hal ini tidak shahih dari amalan sahabat, kecuali pada pertengahan ramadhan sampai akhir ramadhan, mereka baru melakukannya terus menerus.

Dinamakan shalat tarawih, karena mereka (para sahabat) selalu melakukan istrahat (tarwiih) diantara rakaat-rakaat shalatnya lantaran panjangnya shalat mereka. Dahulu Umar radhiyallahu’anhu memberikan waktu orang-orang untuk istrahat dengan jangka waktu orang berjalan dari Masjid Nabawi menuju Sala’ sebuah bukit yang berjarak 700 meter dari Masjid Nabawi.

Mereka para sahabat memperpanjang shalat tarawih. Umar radhiyallahu’anhu selalu memberikan mereka waktu untuk istrahat disela-sela shalat mereka. Diriwayatkan dari Ayub As-Sikhtiyani bahwa ia memberikan waktu istrahat se-lama membaca 30 ayat, 62 adapun lama shalat tarawihnya sebagian orang dizaman ini, maka kadang menyamai lamanya istrahatnya para salaf disela-sela tarawih mereka.

Jika dalam qunut, Sang Imam menyebutkan lafaz pengagungan kepada Allah (bukan doa), maka tidak mengapa bagi makmum untuk mengucapkan “aamiin”, karena saat qunut adalah moment untuk memohon, dan berdzikir yang mesti ada doanya, sebagaimana dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan berdzikir kepada-Ku, sehingga tidak sempat memohon padaku akan kebutuhannya, niscaya Aku akan memberinya karunia paling utama yang diberikan pada orang-orang yang memohon pada-Ku”. Hadis ini diriwayatkan dari jalur yang banyak dalam Kutub Sunan dan selainnya.

Orang yang mengucapkan “aamiin” dibelakang orang yang mengucapkan doa, maka ia dihukumi sebagai orang yang berdoa dengan doa itu juga, sebagaimana dalam Al-Quran (ayat 88 Surat Yunus), ketika Musa berdoa “Dan Musa bedoa: “Wahai Tuhanku…”. Sedangkan saat itu Harun mengaminkan,, Allah lalu berfirman padanya: “Doa kalian berdua telah dikabulkan” (Yunus 89). Dalam ayat ini, yang berdoa adalah Musa sendiri, namun pengkabulannya untuk dua orang yaitu Musa dan Harun yang mengaminkannya.

Tidak apa-apa bagi imam atau yang shalat sendiri/munfarid untuk shalat dengan membaca mushaf bila ia tidak hafal Al-Quran, hal ini telah dilakukan oleh Aisyah dan Anas radhiyallahu’anhuma. Az-Zuhri berkata: “Dahulu, orang-orang terbaik kami (Sebagian sahabat dan tabiin) membaca Al-Quran dari Mushaf dalam (shalat qiyamullail) dibulan Ramadhan”.

Perniagaan akhirat, sama halnya dengan perniagaan dunia, masing-masing memiliki musim dimana didalamnya keuntungan yang banyak hanya dihasilkan dengan pekerjaan yang ringan, (dan Ramadhan adalah musim perniagaan akhirat tersebut).

************

Untaian Tweet Syaikh Muhaddits Abdul’Aziz Al-Tharifi

Penulis: Ustadz Dr. Maulana Laeda, Lc., MA
(Penulis Buku, Alumnus Ilmu Hadits Universitas Islam Madinah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)