Menyelenggarakan jenazah adalah di antara hak muslim dengan muslim lainnya, sedangkan memandikan jenazah hukumnya fardu kifayah, Imam al-Syafi’i
rahimahullah menjelaskan:

حَقٌّ عَلَى النَّاسِ غُسْلُ الْمَيِتِ، وَالصَّالَةُ عَلَيْهِ، وَدَفْنُهُ َل يَسَعُ عَامَّتَهُمْ تَكرُْهُ، وَِإذَا قَامَ بِذَلِكَ مِنْهُمْ مَنْ فِيهِ كِفَايَةٌ لَهُ أَجْزَأَ إنْ شَاءَ اَّللُ تَعَاىلَ

Artinya: “Merupakan hak wajib seseorang atas manusia lainnya adalah memandikan mayat, menyalatinya, dan menguburkannya, meski kewajiban ini tidak berlaku bagi semua orang. Jika sudah ada pihak yang melakukannya, maka hal itu sudah cukup bagi kewajiban sebagian lainnya, insyaallah.” (Al-Umm, 1/312).

Imam al-Nawawi rahimahullah, salah satu ulama otoritatif dari kalangan Mazhab Syafi’i menjelaskan:

وَغُسْلُ الْمَيِتِ فَرْضُكِفَايَةٍّ ِبمجَِْاعِ الْمُسْلِمِنيَ وَمَعْىنَ فَرْضِ الْكِفَايَةِ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيهِكِفَايَةٌ سَقَطَ احلَْرَجُ عَنْ الْبَاقِنيَ وَِإنْ تَكرَُوهُكُلُّهُمْ أَِثُِواكُلُّهُمْ وَاعْلَمْ أَنَّ غُسْلَ الْمَيِتِ وَتَكْفِينَهُ وَالصَّالَةَ عَلَيْهِ وَدَفْنَهُ فُرُوضُكِفَايَةٍّ بِالَ خِالَفٍّ

Artinya: “Memandikan mayat adalah fardu kifayah berdasarkan ijmak kaum muslimin. Makna fardu kifayah ini adalah bahwa bila sudah ada seseorang yang melakukannya, maka gugur tanggungan bagi yang lain. Namun jika sama sekali tidak ada yang melakukannya, maka semuanya berdosa. Ketahuilah, sesungguhnya memandikan mayat, mengafaninya, menyalatinya, adalah fardu kifayah, tanpa adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat).” (Al-Majmu’ Syarh al- Muhadzdzab, 5/128).

Sedangkan menurut informasi dari dokter, virus Covid-19 ini dapat menular kepada orang yang masih hidup jika interaksi langsung dengan jenazah penderitanya, sehingga sulit memandikan jenazahnya sebagaimana tuntunan yang sempurna. Oleh sebab itu, perlu penanganan khusus dan kehati-hatian dalam memandikannya.

Agama Islam adalah agama yang mudah, syariatnya tidak membebankan melebihi kemampuan seseorang. Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيْدُ اَّللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وََل يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Terjemahnya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu.” (QS. al-Baqarah/2: 185).

 َل يُكَلِفُ اَّللهُ نَفْسًا ِاَلَّ وُسْعَهَا

Terjemahnya: …dengan sesuai “Allah tidak membebani seseorang melainkan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah/2: 286).

وما جعل عليكم ِف الدين من حرجٍّ

Terjemahnya: “Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.” (Q.S. al-Hajj/22: 78).

Agama Islam juga sangat memperhatikan keselamatan dalam menjalankan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

وََل تُلْقُوْا ِبَيْدِيْكُمْ ِاىلَ التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْۛا ِانَّ اَّللهَ حيُِبُّ الْمُحْسِنِنيَْ

Terjemahnya: “Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah/2: 195).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

Artinya: “Tidak (boleh) membahayakan (diri sendiri atau orang lain).” (HR. Malik 2/745, Ibn Majah no. 2341, dan al-Hakim no. 2345, dengan sanad yang hasan).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, penyelenggaraan jenazah penderita Corona bisa dilakukan dengan cara berdasarkan urutan berikut ini:

1). Memandikan jenazah dengan cara minimal, hanya sekadar kewajiban, tidak dengan cara sempurna karena ada uzur yang menghalangi; yaitu hanya dengan sekali siraman air yang membasahi seluruh tubuhnya walaupun tidak menyentuhnya.

2). Jika tidak bisa dimandikan, maka dengan cara ditayamumkan sebagaimana tayamumnya orang yang masih hidup. Begini penjelasan Ibn Hajar al-Haitami:

وَمَنْ تَعَذَّرَ غَسْلُهُ لِفَقْدِ مَاءٍّ أَوْ لِنَحْوِ حَرْقٍّ أَوْ لَدْغٍّ وَلَوْ غُسِلَ َتَرَّى أَوْ خِيفَ عَلَى الْغَاسِلِ وََلْ ميُْكِنْهُ التَّحَفُّظُ ميُِمَ وُجُوِبً كَاحلَْيِ

Artinya: “Jenazah manapun yang tidak memungkinkan untuk dimandikan disebabkan karena ketiadaan air, atau karena korban kebakaran, atau gigitan ular, yang yang mana jika dimandikan maka akan terkoyak, atau dikhawatirkan bahaya atas orang yang memandikan yang mana sulit baginya untuk terjaga dari bahaya itu, maka wajib ditayamumkan sebagaimana tayammumnya orang yang masih hidup.”

Al-Kurdi mengomentari dalam Hasyiahnya penjelasan ibn Hajar al-Haitami di atas:

أو خيف على الغاسل من سراية السمِ إليه… يدخلُ فيه ما لو خيفَ على الغاسل العدوى، وَل ميكنه التحفُّظِ.

Artinya: “Atau dikhawatirkan bahaya atas orang yang memandikan tertular racun… termasuk juga jika dikhawatirkan tertular penyakit, yang mana sulit baginya untuk terselematkan darinya.” (Tuhfah al-Muhtaj, 3/189).

3). Namun jika tidak bisa tayamum karena tetap khawatir tertular virusnya, maka langsung dimakamkan saja tanpa dimandikan dan tanpa dikafani berdasarkan pendapat muktamad dalam mazhab Syafi’i, karena memandikan dan mengkafani jenazah adalah syarat sah menyalatinya. Sedangkan menurut sebagian ulama Syafi’iyah tetap disalati. Al-Haitami menjelaskan:

فَلَوْ مَاتَ ِبَدٍّْم وََنْوِهِكَوُقُوعِهِ ِيف عَمِيقٍّ أَوْ َبْرٍّ وَ قَدْ تَعَذَّرَ إخْرَاجُهُ مِنْهُ وَغَسْلُهُ وَتَيَمُّمُهُ َلْ يُصَلَّ عَلَيْهِ لِفَوَاتِ الشَّرْطِ.

Artinya: “Jika jenazah itu meninggal disebabkan benturan atau semisalnya, seperti terjatuh di dalam jurang yang dalam, atau tenggelam di lautan, kemudian sulit diangkat (dari jurang atau dalam laut) sehingga tidak bisa dimandikan dan ditayamumkan, maka (jenazah itu) tidak disalati, karena syarat (sahnya) tidak terpenuhi (tidak dimandikan dan tidak dikafani).” (Tuhfah al-Muhtaj, 3/189).

Namun menurut al-Khatib al -Syarbini, jenazah itu tetap disalati walaupun tidak dimandikan dan dikafani, berikut penjelasan beliau:

Artinya: “Sebagian ulama (Syafi’iyah) mutaakhirin berpendapat, tidak ada alasan untuk tidak menyalatinya, sebab perkara yang mudah (dilakukan) tidak gugur disebabkan karena alasan kesulitan, hal ini berdasarkan (hadis) sahih “Jika aku perintahkan sesuatu atas kalian, maka lakukanlah semampunya.” Juga karena alasan salat adalah doa dan syafaat atas si mayat. Al-Darimi dan lainnya juga memastikan bahwa jenazah yang tidak memungkinkan untuk dimandikan, maka tetap disalati. Beliau (al-Darimi) mengatakan: “Sekiranya (jenazah yang tidak dimandikan, tidak perlu disalati) maka seharusnya mayat korban kebakaran yang sudah jadi abu dan atau dimakan hewan buas juga tidak perlu disalati, namun saya tidak menemukan pendapat seperti ini dari ashabuna (ulama Syafi’iyah). Al-Adzra’i juga membahas panjang masalah ini. Akan tetapi hati saya (al-Syarbini) lebih condong kepada pendapat sebagian mutaakhirin, walaupun yang kami pelajari dari guru-guru kami sebagaimana disebutkan dalam matan (Minhaj al-Thalibin karya al-Nawawi).” (Mughni al-Muhtaj, 2/50).

Al-Syirwani juga mengarahkan31 agar mengikuti pendapat sebagian ulama mutaakhirin itu, sebagai tindakan menghargai jenazah dan menjaga perasaan keluargannya, berikut penjelasan beliau:

وَيَنْبَغِي تَقْلِيدُ ذَلِكَ اجلَْمْعِ َل سِيَّمَا ِيف الْغَرِيقِ عَلَى ُمْتَارِ الرَّافِعِيِ فِيهِ حتََرُّزًا عَنْ إزْرَاءِ الْمَيِتِ وَجََبًْا خلَِاطِرِ أَهْلِهِ

Artinya: “Selayaknya mengikuti sebagaian ulama mutaakhirin itu, apatah lagi jika jenazahnya tenggelam sebagaimana pendapat al-Rafi’i, sebagai tindakan tidak menyia-nyiakan jenazah dan menjaga perasaan keluarganya.” (Hasyiah al-Syirwani, 3/189).

Berdasarkan beberapa penjelasan para ulama di atas, maka disimpulkan sebagai berikut:

1). Jenazah virus Covid-19 tetap dimandikan jika memungkinkan walaupun hanya sekali siraman yang menyeluruh. Sebaiknya air dicampur disinfektan sesuai anjuran ahli.

2). Jika tidak bisa dimandikan, maka ditayamumkan sebagaimana tayamumnya orang yang masih hidup dengan memakai APD (alat perlindungan diri) sesuai anjuran ahli.

3). Jika tidak bisa ditayamumkan karena tidak adanya APD, maka jenazah tidak dimandikan, tidak dikafani, tapi langsung dibungkus, kemudian disalati dan dikuburkan berdasarkan SOP penanganan korban Covid-19 oleh tim medis.

************

Sumber: Panduan Ibadah Selama Covid-19 (Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)
Penyusun: Ustadz Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA & Pengurus Dewan Syariah

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan