Bersuci dan salat bagi seorang muslim adalah dua amalan yang memiliki hubungan erat, bersuci dari hadas merupakan syarat sahnya salat, berdasarkan firman

Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus ) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (QS. al-Ma’idah: 6).

Juga berdasarkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

Artinya: “Kunci salat itu adalah bersuci.” (HR. Ahmad no. 1006, Ibnu Majah no. 275 , Abu Dawud no. 61 , dan Tirmidzi no. 3, dan hadis ini disahihkan oleh al-Albani).

Artinya: “Allah tidak menerima salat salah seorang di antara kalian jika ia dalam keadaan hadas sampai ia bersuci.” (HR. Bukhari no. 6954).

Persoalan yang muncul saat ini adalah ketika seorang tenaga kesehatan (nakes) dalam penanganan Covid-19 diwajibkan untuk mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang berupa pakaian lengkap, yang aturannya tidak dapat ditanggalkan setiap saat kecuali pada saat tertentu, di mana terkadang nakes yang mengenakannya melewati dua waktu salat dan terkadang ia dalam keadaan hadas dan belum waktunya dapat melepaskan pakaian tersebut. Kondisi ini bertambah sulit karena jumlah APD sangat terbatas, dan hanya bisa dewdikenakan satu kali. Maka dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara bersuci dan salatnya? Maka jawabannya dapat disimpulkan dalam beberapa poin berikut ini:

Pertama, kondisi yang digambarkan adalah kondisi yang dapat dikategorikan darurat atau minimal mendekati darurat, di mana kondisi yang ada mengharuskan nakes untuk berada dalam pakaian tersebut dalam waktu yang relatif lama dan jika APD tidak dikenakan maka akan mengancam keselamatan jiwanya yang mana ia rentan tertular virus Covid-19. Maka dalil dan kaidah yang digunakan adalah sebagai berikut, Firman Allah Ta’ala:

Terjemahnya: “Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.” (Q.S. al-Taghabun: 16)

Syekh Abdurrahman al-Sa’di menyebutkan dalam tafsir beliau tentang ayat ini bahwa ayat ini menunjukkan setiap perintah yang seorang hamba tidak bisa melakukannya disebabkan yang dibolehkan dalam syariat maka kewajiban tersebut menjadi gugur baginya, dan jika dia mampu melaksanakan sebagian dari kewajiban tersebut dan tidak mampu melaksanakan sebagian lainnya, maka dia melaksanakan apa yang dia mampu dari kewajiban itu dan gugur baginya bagian yang dia tidak mampu untuk dia laksanakan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis beliau yaitu:

Artinya: “Apabila aku perintahkan kalian satu perkara, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337).

Dan salah satu tujuan dari datangnya syariat Islam adalah untuk memberikan kemudahan kepada manusia, dan tidak mewajibkan sesuatu yang tidak disanggupi oleh mereka, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

Terjemahnya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Q.S. al-Baqarah: 286).

Allah mewajibkan kepada ummat Islam untuk berwudu sebelum melaksanakan salat, dan jika tidak mampu bersuci menggunakan air disebabkan yang dibenarkan dalam syariat maka ada keringanan baginya yaitu tayamum menggunakan tanah atau debu yang suci, dan jika tidak mampu tayamum maka boleh baginya untuk salat tanpa berwudu dan tayamum dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkannya untuk berwudu maupun tayamum, hal ini menunjukkan bagaimana keluasan dari agama Islam yang mulia ini, dan memberikan kemudahan bagi pemeluknya.

Pada ayat yang lain juga Allah Ta’ala menegaskan:

Terjemahnya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 185).

Terjemahnya: “Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.” (Q.S. al-Hajj: 78).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsir beliau berkenaan dengan ayat ini, yaitu Allah tidak mewajibkan kepada kalian sesuatu yang tidak kalian sanggupi, dan apa yang Allah wajibkan kemudian memberatkan kalian kecuali Allah pasti akan memberikan kemudahan dan jalan keluar bagi kalian, salah satu contohnya yaitu salat yang merupakan rukun terpenting setelah 2 kalimat syahadat, yang yang mana salat asar 4 rakaat bagi yang mukim dan ketika bersafar maka ada keringanan dari syariat untuk meringkas salat tersebut menjadi 2 rakaat.

Di dalam hadis pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita bagaimana Allah menginginkan kemudahan dan kebaikan kepada umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara sabda beliau adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahih beliau dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau mengatakan:

Artinya: “Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diberikan dua pilihan kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama hal tersebut bukan termasuk dosa, dan jika dosa maka tentu beliau yang paling jauh dari hal tersebut.” (HR Bukhari no: 6126, Muslim no: 2327).

Imam al-Nawawi menjelaskan hadis tersebut dalam buku beliau Syarhu Shahih Muslim:

Artinya: “Bahwa hadis tersebut menunjukkan anjuran untuk memilih perkara yang lebih mudah dikerjakan selama bukan termasuk perkara yang diharamkan atau dibenci dalam syariat.” (Syarh Shahih Muslim, 83/15).

Adapun kaidah yang disebutkan oleh para ulama kita, di antaranya yaitu:

Artinya: “Kesulitan mendatangkan kemudahan.” (Al- Mantsur fi al- Qawaid al- Fiqhiyyah, 3/19. 38 Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiquha fi al-Madzahib al-Arba’ah, 1/238. 39 Al- Asybah wa al-Nazhair, 1/87).

Kaidah ini termasuk kaidah yang sangat penting dikarenkan sebagian besar hukum syariat itu berputar pada kaidah yang agung ini. Dan maksud dari kaidah tersebut bahwa kesulitan dan kesukaran yang didapatkan oleh seorang hamba ketika ingin menyelesaikan salah satu kewajiban dari Allah, dan kewajiban tersebut tidak akan terlaksana dikarenakan adanya kesulitan yang didapatkan oleh hamba tersebut, maka hal tersebut akan menjadi sebab syariat adanya kemudahan dan keringanan untuk menyelesaikan kewajiban tersebut.

Artinya: “Menolak mudarat lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.” Imam Suyuti menjelaskan tentang kaidah ini bahwa:

Artinya: “Jika terjadi kontradiksi antara keburukan dan maslahat maka didahulukan menolak keburukan tersebut, karena perhatian syariat terhadap perkara-perkara yang dilarang itu lebih tegas dan keras daripada perhatiannya terhadap perkara yang bersifat perintah.”

Imam Al-Izz Ibnu Abdissalam mengatakan, Artinya: “Jika terjadi kesulitan dalam memilih 2 pilihan yang sulit apakah menolak keburukan atau mengambil maslahat, dan pada saat itu keburukan memang lebih bahaya daripada maslahat itu sendiri, maka kami lebih memilih untuk menolak keburukan daripada mengambil manfaat atau maslahat yang ada, dan kami tidak peduli dengan hilangnya maslahat tersebut dikarenakan kami lebih memilih menolak keburukan daripada mengambil manfaat.” (Qawaid al-Ahkam, 98/1).

Karena sesungguhnya menolak keburukan itu lebih utama daripada mengambil manfaat, dan jika terjadi pertentangan di antara keduanya maka tentu lebih utama menolak keburukan daripada mengambil manfaat. (Ghamzu ‘Uyun al-Bashair, 1/290).

Kedua, sebelum menggunakan APD, maka seharusnya tenaga kesehatannya telah bersuci baik dari hadas kecil dengan berwudu atau hadas besar dengan mandi. Dan semaksimal mungkin setelah mengenakan APD, ia berusaha untuk terus menjaga kondisi suci ini semampu mungkin.

Ketiga, jika dalam kondisi suci, belum ada yang membatalkan wudunya maka nakes dapat salat sebagaimana biasanya pada waktunya dengan mengenakan APD. Namun jika tidak mungkin melaksanakan setiap salat pada waktunya, maka dalam kondisi ini ia dapat menjamak 2 salat (salat Zuhur dan Asar serta salat Magrib dan Isya) masing-masing sesuai dengan bilangan rakaatnya (tidak diqasar). Berdasarkan hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak salat Zuhur dan Asar begitu juga salat Magrib dan Isya tanpa ada rasa takut dan tanpa ada hujan”. Ibnu Abbas ditanya, apa yang beliau inginkan dengan hal ini?, beliau berkata: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR. Ahmad no. 3323, Abu Dawud no. 1211, Tirmidzi no. 187, dan hadisnya disahihkan oleh al-Albani).

Keempat, jika wudunya batal dan ia masih harus berada dalam kondisi mengenakan APD sementara dikhawatirkan waktu salat selesai, maka dalam kondisi seperti ini ia salat sesuai keadaannya meskipun dalam keadaan terhalang bersuci. Dan menurut pendapat yang kuat ia tidak perlu mengqada (mengganti) salat tersebut.

Keadaan ini dapat diqiyaskan dengan kondisi orang yang tidak mampu berwudu dan bertayamum (faqidu al-thahurain). Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah dalam masalah ini:

Artinya: “Jika ia dalam semua kondisi tidak mendapatkan apa-apa maka ia salat sesuai dengan keadaannya. Dan ini pendapat Imam Syafi’i.” (Al-Mughni, 1/184).

Berkata al-Hajjawiy rahimahullah:

Artinya: “Barang siapa tidak mendapatkan air atau debu atau ia tidak mampu menggunakan keduanya karena adanya halangan, seperti seseorang yang memiliki luka bernanah yang kulitnya tidak dapat tersentuh dengan wudu dan tayamum maka ia wajib melaksanakan salat sesuai keadaannya dan ia tidak perlu mengulangi salatnya.” (Al- Iqna’, 1/54).

Kelima, jika dalam kondisi tertentu, dengan sebab tugas nakes tidak dapat melaksanakan salat pada waktunya atau tidak dapat menjamak salatnya maka dalam kondisi ini ia segera melaksanakan salat pada saat yang memungkinkan dan menyesuaikan dengan keadaan meskipun waktu pelaksanaanya telah berlalu. Kondisi yang seperti ini berdasarkan apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat pada perang Ahzab/Khandaq, yang terpaksa menunda pelaksanaan salat Asar sampai setelah terbenam matahari karena kesibukan berperang. (HR. Bukhari no. 4533 dan Muslim no. 27).

Berkata Syekh Ibn Baz rahimahullah:

Artinya: “Kewajiban bagi seorang muslim untuk melaksanakan salat pada waktunya, dan jangan sedikitpun disibukkan dengan hal yang lain untuk melaksanakan salat, kecuali sesuatu yang darurat yang tidak mungkin dihindarkan, seperti: tindakan penyelamatan orang yang tenggelam, atau korban kebakaran, serangan musuh, maka dalam keadaan ini tidak mengapa ia mengakhirkan salat meskipun waktunya telah keluar. Adapun dalam kondisi normal yang tidak berbahaya, maka tidak boleh menunda salat. Hal ini berdasarkan apa yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika pasukan kota Makkah mengepung kota Madinah dalam perang Ahzab, beliau menunda pelaksanaan salat Zuhur dan Asar setelah masuk waktu Magrib.” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, 7/94).

Keenam, jika dalam salah satu contoh kasus misalnya, seorang nakes selesai dari tugasnya 5 menit sebelum Magrib, sedangkan dia belum melaksanakan salat Zuhur dan Asar karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk salat pada saat itu, dan dia dalam keadaan berhadas, apakah di lima menit tersisa tersebut dia langsung salat tanpa bersuci terlebih dahulu karena dikhawatirkan waktu Asar yang sudah mau habis, atau tetap dia bersuci membersihkan badannya mengganti pakaiannya walaupun waktu sudah lewat kemudian setelah itu dia salat, maka jawabannya adalah seperti yang difatwakan oleh para ulama kita yaitu jika kasusnya seperti itu maka dia wajib bersuci dan mengganti pakaiannya walaupun waktu sudah lewat kemudian dia salat.

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Artinya: “Barang siapa yang bangun tidur pada akhir waktu dan dia dalam keadaan junub dan dia khawatir jika dia mandi wajib maka akan lewat waktu salat, maka dalam kondisi ini dia tetap mandi wajib kemudian salat walaupun waktunya sudah lewat, begitu pula jika dia lupa maka jawabannya seperti yang sudah dijelaskan.” (Al-Fatawa al-Kubra, 5/309).

Dalam fatwa Ibnu Taimiyyah tersebut bisa dipahami dan dikiaskan kepada masalah nakes yang baru selesai dari tugasnya 5 menit sebelum masuk waktu Magrib sedangkan dia belum melaksanakan salat Zuhur dan Asar dan juga dalam keadaan berhadas, maka dia tetap wajib untuk bersuci menyucikan badannya dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu kemudian salat Zuhur dan Asar walaupun waktunya sudah lewat, hal ini dibolehkan karena memang nakes tersebut berada pada kondisi darurat.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat diberikan kesimpulan sebagai berikut:

1). Kondisi darurat adalah jika APD tidak dikenakan maka akan mengancam keselamatan jiwanya yang mana ia rentan tertular virus.

2). Sebelum menggunakan APD, maka seharusnya tenaga kesehatannya telah bersuci baik dari hadas kecil dengan berwudu atau hadas besar dengan mandi.

3). Jika dalam kondisi suci, belum ada yang membatalkan wudunya maka nakes dapat salat langsung sebagaimana biasanya.

4). Jika wudunya batal, dan ia masih harus berada dalam kondisi mengenakan APD sementara dikhawatirkan waktu salat selesai, maka dalam kondisi seperti ini ia salat sesuai keadaannya meskipun dalam keadaan terhalang bersuci.

5). Jika dalam kondisi tertentu, dengan sebab tugas nakes tidak dapat melaksanakan salat pada waktunya atau tidak dapat menjamak salatnya maka dalam kondisi ini ia segera melaksanakan salat pada saat yang memungkinkan.

************

Sumber: Panduan Ibadah Selama Covid-19 (Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)
Penyusun: Ustadz Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA & Pengurus Dewan Syariah

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan