Virus Corona makin mengganas. Virus ini dikabarkan telah menyebar di 18 negara dan menewaskan 231 orang di Cina. Menurut laporan CNN pada Kamis (30/1/2020), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ditemukan 9.692 kasus terdeteksi di seluruh dunia. Karena itulah, pada hari Jumat (31/1/2020), WHO mengumumkan status Darurat Internasional Virus Corona.

Kita berharap, wabah virus Corona itu segera bisa diatasi. Dalam dunia medis, virus dikenal sebagai makhluk yang hidup salam sel tubuh. Dia berkembang biak, membajak, dan merusak fungsi-fungsi sel tubuh. Virus bisa dijinakkan dengan metode tertentu, sehingga dia bisa disuntikkan kembali ke dalam tubuh, untuk merangsang tumbuhnya anti-bodi tubuh.

Belajar dari virus yang menyerang tubuh manusia, begitu juga “virus pemikiran” yang menyerang pikiran manusia. Jika suatu virus pemikiran sudah mewabah, maka perlu diciptakan ‘anti-bodi’ pemikiran dalam diri seorang Muslim, sehingga ia kebal terhadap serangan virus pemikiran yang merusak pemikiran dan keimanannya.

Layaknya ‘virus’, pemikiran-pemikiran keliru yang merusak bisa menjadi manfaat bagi pemikiran Islam, jika telah “dijinakkan” terlebih dahulu. Pemikiran itu bisa menjadi alat untuk memperkuat keyakinan. Sebab, jika tidak berhasil dijinakkan, maka virus akan mengganas, bahkan bisa merusak sistem pertahanan tubuh, seperti virus HIV, virus Corona, dan sebagainya.

Setiap muslim bukan hanya harus tahu masalah keimanan, tetapi juga harus tahu masalah kekufuran, kemusyrikan, atau kejahiliyahan. Muslim wajib tahu hal yang hal yang wajib, tetapi juga harus tahu hal-hal yang haram. Muslim wajib tahu akhlak mulia. Pada saat yang sama, ia harus tahu akhlak tercela. Tujuannya adalah untuk menghindarkan hal-hal yang buruk. Kita perlu tahu makanan yang menyehatkan, sekaligus perlu tahu makanan yang merusak tubuh.

Karena itu, pemahaman tentang virus-virus pemikiran yang merusak pemikiran dan keimanan, sangat diperlukan, jika pemikiran yang merusak itu sudah mewabah. Itu ibarat menciptakan ‘anti-bodi’ pemikiran dalam diri seorang Muslim, sehingga ia kebal terhadap serangan virus pemikiran yang merusak pemikiran dan keimanannya.

*****

Dalam berbagai acara perkuliahan, pelatihan, dan pengajian, saya mengedarkan serangkaian daftar pernyataan yang cukup dijawab: ”SETUJU” atau ”TIDAK SETUJU”. Melalui daftar pernyataan itu saya berharap dapat mendapatkan data seberapa jauh pemikiran-pemikiran liberal telah merasuki benak kaum Muslimin, khususnya kalangan yang terlibat aktif dalam aktivitas kegiatan keislaman.

Hasilnya, ternyata cukup banyak aktivis pengajian yang secara tidak sadar telah ’terinveksi’ paham-paham liberal, khususnya paham ’humanisme sekuler’ dan ’relativisme kebenaran’. Misalnya, banyak responden yang menjawab ’SETUJU untuk sebuah pernyataan berikut:

”Manusia adalah makhluk yang relatif, sedangkan Tuhan adalah Yang Maha Mutlak. Karena itu, setiap pendapat manusia adalah relatif, sehingga tidak boleh memutlakkan pendapatnya. Jadi, hanya Tuhan yang tahu akan kebenaran yang hakiki. Manusia tidak tahu dengan pasti suatu kebenaran, sehingga tidak boleh merasa benar sendiri dan menghakimi orang lain sebagai sesat atau kafir. Masalah sesat atau kafir adalah urusan Allah, dan serahkan saja kepada Allah. Tidaklah patut manusia menempatkan diri sebagai Tuhan.”

Persepsi RELATIVISME kebenaran semacam itu sudah sering saya jumpai dalam berbagai dialog dengan mahasiswa di sejumlah Perguruan Tinggi. Tampaknya, paham semacam ini kemudian disebarluaskan secara masif melalui berbagai media massa, sehingga banyak yang kemudian terasuki, mungkin tanpa sadar.

Bahkan, di sejumlah forum pengajian, ada juga yang menjawab ’SETUJU’ terhadap pernyataan berikut: ”Perkembangan Islam yang pesat di negara-negara Barat menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang universal, dan juga merupakan indikasi bahwa sudah saatnya umat manusia berpikir lintas agama serta tidak berpikiran sempit dengan meyakini kebenaran agamanya sendiri”.

Virus RELATIVISME KEBENARAN ini memang sangat ganas dalam melumpuhkan sendi-sendi keyakinan seseorang terhadap agamanya. Virus ini kemudian menanamkan satu jenis sikap keberagamaan yang – kata kaum liberal – “toleran”, “moderat”, “inklusif” dan sejenisnya.

Padahal, ungkapan-ungkapan indah itu seringkali dimaksudkan sebagai tipuan untuk meruntuhkan keyakinan dan keimanan seorang Muslim. Konsep iman dalam Islam harus didahului dengan pengingkaran terhadap kekufuran dan kemusyrikan. Iman mensyaratkan satu keyakinan, ketiadaan keraguan terhadap perkara-perkara yang wajib diimani.

*****

Wabah virus RELATIVISME KEBENARAN atau juga RELATIVISME IMAN pernah dinyatakan oleh pemimpin tertinggi kaum Katolik, yaitu Paus Benediktus XVI. Bahkan, Paus menyatakan perang terhadap paham relativisme, yang ia sebut sebagai, “Battling dictatorship of relativism”.

Dalam buku berjudul, Paus Benediktus XVI: Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), disebutkan, “Paus melihat di Eropa kini sedang terjadi bahaya besar yakni relativisme iman secara mendalam.” (hlm. 32)… “Relativisme iman dapat membawa orang tidak lagi komit pada imannya. Ia mengatakan bahwa relativisme iman merupakan musuh terbesar yang bisa menghambat terciptanya toleransi dalam kehidupan bersama. (hlm. 34-35).

Karena menilai hal yang membahayakan agama Katolik, maka pastor-pastor Katolik yang terkena penyakit Pluralisme Agama, dicabut lisensi teologi-nya oleh Vatikan. Pada 1998, seorang pastor bernama Jacques Dupuis mendapatkan notifikasi dari Kongregasi untuk Ajaran Iman, Vatikan, yang menyatakan, bahwa ia “Tidak bisa dipandang sebagai seorang Teolog Katolik”.

Surat itu ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI. Sebelum menjabat sebagai Paus, pada tahun 2004, Kardinal Ratzinger juga mengeluarkan sanksi terhadap Roger Haight, seorang Yesuit Amerika, penulis buku Jesus Symbol of God, karena pandangan-pandangannya yang dianggap berbeda dengan ajaran pemuka Katolik. (Lihat, Rm. Gregorius Tulus Sudarto Pr, Daftar Hitam Gereja Katolik, (Jakarta: Fidei Press, 2009).

*****

Jika seorang terkena paham relativisme iman, maka ia akan menjadi Pluralis Agama, dan menganggap semua agama sama-sama benarnya. Ia akan berpendapat bahwa: “Each and every religion is equally valid way to God.” Jika seorang menyatakan, semua agama adalah sama-sama benar, maka sejatinya ia sudah tidak beragama. Logikanya sederhana: jika seorang mengatakan antara iman dan kufur sama saja, maka apa artinya keimanan? Jika ada yang menyatakan bahwa antara polisi dan koruptor dianggap sama, maka orang itu nilainya sama dengan koruptor.

Korban VIRUS RELATIVISME itu harus diobati. Caranya diberikan “anti-bodi” pemahaman, bahwa manusia bukan hanya bisa tahu kebenaran yang pasti, tetapi juga wajib tahu. Memang, sumber kebenaran itu adalah Allah SWT. Tetapi, kebenaran dari Allah itu telah diturunkan kepada para Nabi-Nya, untuk disampaikan kepada manusia. Karena itulah, manusia wajib beriman kepada Allah dan juga kepada para utusan-Nya.

Karena itu, jika kita secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan badan, maka seyogyanya, kita juga melakukan pemeriksaan terhadap pemikiran kita. Jangan sampai ada VIRUS-VIRUS PEMIKIRAN yang menjangkiti pemikiran kita. Secara lebih rinci, kiat-kiat menangkal “virus pemikiran liberal” sudah saya tulis dalam Trilogi NOVEL KEMI. Wallahu A’lam bish-shawab.

*************

Sukabumi, 1 Februari 2020

Penulis: Dr. Adian Husaini

(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)