“Feminisme adalah Ideologi (Isme) paling berbahaya di Dunia yang sedang berkembang saat ini. Ideologi Feminis jauh dari pembelaan terhadap kepentingan perempuan, tetapi hanya membela kelompok elite tertentu saja. Feminisme mengancam perempuan karena memaksa mereka menjalani sesuatu yang berlawanan dengan insting mereka dan menyebabkan perempuan bergantung pada dunia kerja untuk bertahan hidup (economic survival). Feminisme juga menjadi penyebab berbagai penderitaan dan mengganggu kesehatan mental, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih berpengaruh pada perempuan”. (Mike Buchanan : Feminism, The Ughly Truth)

Indonesia, negeri indah dan kaya dengan penduduknya yang ramah, berwajah polos, dan khas cara pandang yang harmoni. Selain beberapa ciri itu, masyarakat negeri ini juga telah dikenal mudah terbuka dengan hal baru yang dengan khas cara pandang harmoninya memungkinkan ia mengambil bagian dalam pergaulan budaya dengan bangsa-bangsa yang telah lebih dulu mapan secara sistem nilai kemasyarakatan yang bersifat Universal.

Berdasarkan ciri khas budaya di atas, masyarakat negeri ini juga dikenal amat besar penghargaannya, bahkan mudah takjub pada hal-hal baru, unik, dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Lantas sejauh mana kemapanan budaya yang telah kita capai ? dari penghargaan bahkan mudah takjubnya kita pada hal-hal baru, unik, dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang sebagai ciri khas, sejauh mana kepribadian kita sebagai individu dan bangsa harapan itu terbentuk ?

Perasaan terkucilkan dan dianggap rendah memang menjadi tradisi dan sejarah traumatik tersendiri yang melingkupi kehidupan wanita di Barat.

Menurut McKay, decade 1560 dan 1648 merupakan penurunan status perempuan di masyarakat eropa… Perempuan dianggap sebagai sumber dosa dan masyarakat kelas dua di dunia… Bahkan pada tahun 1595, seorang professor dari wittenberg Uniersity, melakukan perdebatan serius mengenai apakah perempuan manusia atau bukan. Pelacuran merebak dan dilegalkan oleh Negara.

Dari tokoh Agama, St. John Chrysostom (345-407) berkata, “Perempuan adalah setan yang tidak bisa dihindari, suatu kejahatan…”

Begitu pula dengan Filsuf empirisisme seperti Francis Bacon mengatakan, “Hidup tanpa menikah ini merupakan kehidupan ideal seorang laki-laki, jauh dari pengaruh buruk dan beban anak-anak sehingga laki-laki bisa konsentrasi pada dunia publiknya”

Adalah lazim dikalangan intelektual masyarakat barat, baik dimasa yunani, Roman, skolastik, dan Renesance-Modernisme, bahwa perempuan adalah makhluk cacat dan irrasional.

Sebagaimana yang dikemukakan filsuf Skolastik terkenal seperti Thomas Aquinas dalam karyanya Summa Theologia (1266-1272), Aquinas sepakat dengan Aristoteles, bahwa perempuan adalah laki-laki yang cacat, atau memiliki kekurangan (defect male). (Gadis Arivia, Pembongkaraan Wacana Seksis Filsafat, menuju filsafat perspektif Feminis, Disertasi, hlm 95)

Dalam disertasi Gadis Arivia diatas, beliau melanjutkan bahwa, “Menurut Aquinas, bagi para filsuf, perempuan adalah laki-laki yang diharamkan, dia diciptakan dari laki-laki dan bukan dari binatang. Sementara itu Immanuel Kant (wakil Filsuf Modern, Pen), berpendapat bahwa perempuan mempunyai perasaan kuat tentang kecantikan, keanggunan dan sebagainya, tetapi kurang dalam aspek kognitif dan tidak dapat memutuskan tindakan moral.

Berbanding terbalik dengan sejarah peradaban Islam, wanita justru ditempatkan sebagai sosok sentral perbaikan sebuah masyarakat. Iya, mereka adalah Rahim peradaban.

Maka tidak heran, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menekankan bahwa bakti seorang anak kepada Ibunya adalah tiga kali lipat atas Ayahnya, dan berlipat-lipat dari guru, sanak keluarga, dan teman-temannya.

Penghargaan ini sejalan dengan tanggung jawab besar seorang Ibu, Muhammad Qutb Rahimahullah mengatakan, “Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya”.

Karena menurut beliau lebih lanjut, “Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, / memiliki karakter yang buruk hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya”.

Tentu ada masa-masa dimana seorang anak akan mengenali eksistensi kedewasaannya, bahkan kadang kala terpuruk karena pergaulan yang ia pilih, namun hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan, karena “Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.” (Muhammad Qutb Rahimahullah).

Simpulan Induktif dan mengomoditaskan isu ketertindasan wanita kaum feminis akibat konstruk sosial yang cenderung Patriarki, merupakan penilaian terburu-buru dan syarat akan pubertas intelektual.

Justru ide-ide Feminisme inilah yang menstimulus ketertindasan wanita, tidak lain akibat kerusakan konsep mereka tentang Manusia dan kebahagian. Bahkan menjadikan kemarahan sebagai sumber epistemologi utamanya.

Konsep kebebasan yang diagungkan feminis ternyata semu. Kaum perempuan yang ingin bebas dari kodratnya sebagai perempuan, sehingga banyak mengalami Cinderella coplex (Entah ingin Cari perhatian kemana, Pen), yaitu kaum perempuan yang bebas yang justru semakin mendambakan perlindungan dari sang pangeran. Kebebasan untuk berkiprah disektor publik juga membuat perempuan bergantung pada bantuan-bantuan diluar dirinya, seperti tempat pengasuhan anak dan orang yang dapat membantu pekerjaan rumah tangga. (Ratna Megawangi, Feminisme menindas peran Ibu rumah tangga).

Feminisme atau neofeminisme tidak mampu menutup scheur (retak) yang meretakkan perikehidupan dan jiwa kaum perempuan, sejak perempuan terpaksa mencari pekerjaan ke perusahaan-perusahaan sebagai buruh.

Sebagaimana Kata Ir. Soekarno dalam Buku Sarinah : Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia, Menekankan tentang, “Scheur antara perempuan juga istri dan perempuan sebagai pekerja di masyarakat, jiwa perempuan dahaga akan kebahagiaan sebagai Ibu dan Istri, tetapi perikehidupan sebagai buruh tidak memberi waktu yang cukup kepadanya untuk bertindak sebagai Ibu dan Istri”

Kerusakan konsep manusia dan kebahagiaan, mendorong para feminis radikal justru cenderung anti laki-laki dan ketergangguan mental akibat perasaan serba curiga dan was-was atas penafsiran liar mereka terhadap realitas yang bahkan mungkin tidak ada, atau karena fenomena biasa yang diakibatkan karena faktor keterjajahan budaya dan kebodohan yang harusnya menjadi isu yang kita selesaikan bersama.

Walhasil tulisan singkat ini kami tutup dengan curahan hati seorang Ibu peradaban R.A Kartini dalam suratnya kepada Prof dan Nyonya F.K Anton di Jena, tertanggal 4 oktober 1904.

R.A Kartini menulis “Apabila kami dengan sangat meminta pendidikan dan pengajaran bagi gadis-gadis, bukan sekali-kali karena kami ingin menjadikan perempuan menjadi saingan bagi orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini , melainkan kami ingin menjadikan kaum perempuan lebih cakap melakukan kewajibanya, yaitu kewajiban yang diserahkan oleh alam sendiri kedalam tangannya, menjadi Ibu pendidik manusia yang pertama, Ibulah yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga, dan kepada ibulah kewajiban mendidik anak-anak yang berat itu, yaitu pendidikan yang membentuk budi pekertinya… Untuk keperluan keluarga yang lebih besar, yang dinamakan masyarakat, dimana ia kelak akan menjadi anggotanya…” (Sartono kartodirdjo, Sejarah Nasional Indonesia, Departemen Pendidikan dan kebudayaan, 1975, hal 244-245).

Lantas jawablah pertanyaan ini, “Wahai Ibu Peradaban, Apa yang kau Cari ?”

**********

New York, 5 Maret 2020

Penulis: Sayyid Fadhlillah
(Ketua Kastra PD LIDMI Makassar)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)