Terlepas dari kontroversi hukum berfilsafat dalam perspektif Islam, saya sebagai pengajar filsafat mengajak pembaca untuk menyikapi Wabah Covid-19 ini secara filosofis. Dalam hal ini, saya merujuk pada pandangan Ikhwanu ash Shafaa’ (إخوان الصفاء) dalam kitab Rasaa-ilu Ikhwaani ash Shafaa’ (رسائل إخوان الصفاء). Dalam kitab ini dikemukakan definisi berfilsafat sebagai berikut.

الفلسفة هي أولها محبة العلوم وأوسطها معرفة حقائق الموجودات بحسب الطاقة الإنسانية وآخرها القول والعمل بما يوافق العلم

Berdasarkan definisi ini, dapat dikatakan bahwa berfilsafat itu, secara umum, ibarat menaiki tangga yang terdiri dari 3 (tiga) anak tangga, yaitu awal, tengah, dan akhir. Oleh karena itu, menurut hemat saya, menyikapi sesuatu secara filosofis berarti menyikapi sesuatu seperti menaiki tangga itu secara bertahap.

Dalam diskusi ini, kita ingin melihat bagaimana seseorang menyikapi Wabah Covid-19 ini secara filosofis.

Pertama, cinta terhadap banyak ilmu (محبة العلوم). Menurut Prof. Dr. Muhammad Utsman Najati, pakar psikologi dari University of Cairo, Mesir, dalam kitabnya, “al Qur’anu wa ‘Ilmu an Nafsi (القرآن و علم النفس)”, cinta adalah salah satu jenis emosi yang Allah subhanahu wata’ala berikan kepada makhluk Nya. Menurutnya, emosi selalu mengiringi motivasi. Beliau dengan tegas mengatakan, “إن الانفعال يقوم بتوجيه السلوك مثل الدافع”. Artinya, sungguh emosi itu berfungsi mengarahkan perilaku, seperti halnya motivasi.

Dengan demikian, seseorang yang ingin meninjau wabah ini dan penanganannya secara filosofis terlebih dahulu harus cinta terhadap banyak ilmu terkait dari sumber yang terpercaya. Cinta yang ia miliki akan mengarahkannya pada perilaku selanjutnya untuk menaiki anak tangga kedua dalam menyikapi wabah ini.

Kedua, mengetahui realitas atau hakikat objek sesuai dengan batas kemampuannya sebagai manusia (معرفة حقائق الموجودات بحسب الطاقة الإنسانية). Dalam hal ini, objeknya adalah Wabah Covid-19. Bekal cinta yang dimiliki pada anak tangga pertama akan membawanya pada perilaku berikutnya, yaitu mengetahui hakikat wabah itu dan cara penanganannya semaksimal mungkin sesuai dengan batas kemampuannya sebagai manusia. Dengan demikian, ia akan menjadi orang yang kaya akan informasi akurat dan komprehensif tentang wabah ini dan penanganannya.

Ketiga, berkata dan berbuat berdasarkan ilmu (القول والعمل بما يوافق العلم). Inilah anak tangga terakhir dalam berfilsafat. Al Imam Al Bukhariy rahimahullah juga berkata, “العلم قبل القول والعمل” atau “Berilmu sebelum berkata dan berbuat”. Mengapa berdasarkan ilmu (علم)? Karena ilmu adalah cahaya yang akan menerangi perkataan dan perbuatan kita tentang wabah dan penanganannya itu agar membawa maslahat bagi diri dan sesama, di dunia dan akhirat.

Informasi akurat dan komprehensif tentang wabah ini dan penanganannya yang secara relatif kita telah miliki saat berada pada anak tangga kedua dalam berfilsafat adalah landasan bagi kita untuk mendukung seruan ulil amri, dalam hal ini pemerintah dan ulama, bersama dengan mereka menangani wabah ini. Hal ini karena mengikuti seruan ulil amri adalah perintah dari Rabb Yang Maha Berilmu (Lihat QS. An Nisa: 59), perintah dari Sumber Ilmu sekaligus Pemilik kebenaran absolut menurut Epistemologi Islam.

Filsafat, sejatinya, adalah kendaraan bagi seseorang untuk tahu diri sebagai makhluk, mengenali hakikat, potensi, dan kompetensi dirinya di hadapan Khalik bahwa ilmu yang ia miliki tentang wabah ini dan penanganannya begitu sedikit.

Orang Arab berkata, “هلك امرء لم يعرف قدره” atau “kebinasaan bagi seseorang yang tidak mengenali potensi dan kompetensi dirinya”. Orang yang berfilsafat mestinya jauh dari kebinasaan itu, karena dia adalah orang yang tahu betul ukuran dirinya.

Filsuf sejati itu mengagungkan Allah subhanahu wata’ala dan menghinakan diri di hadapan Nya. Akalnya tunduk pada ketentuan wahyu dalam menyikapi segala sesuatu. Pengagungannya pada Rabb nya membawanya pada ikhtiar yang sempurna dalam menyikapi wabah ini disertai tawakkal kepada Nya.

*************

Penulis: Syahrullah Asyari, M.Pd
(Alumni Ma’had Al Birr Makassar, Dosen Sejarah dan Filsafat Matematika Jurusan Matematika FMIPA UNM)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here