A. Renungan Pertama:

Sebagai seorang Muslim, dalam semua keadaan, kita wajib berpegang teguh dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertawakal dan berkeyakinan bahwa semua urusan ada di tangan Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” [QS. At-Taghabun/64: 11]

B. Renungan Kedua:

Wajib atas setiap Muslim untuk menjaga Allah Azza wa Jalla dengan menjaga ketaatannya kepadaNya, baik dengan melaksanakan perintaaNya maupun dengan menjauhi laranganNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wasiat Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah! Niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah! Niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu.” [HR. Tirmidzi]

C. Renungan Ketiga:

Sesungguhnya syariat Islam datang menyodorkan sarana-sarana dan anjuran serta mendorong untuk untuk berobat. Dan sesungguhnya berobat dan berusaha mencari kesembuhan itu tidaklah bertentangan dengan tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.

Tentang terapi pencegahan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنَ اصْطَبَحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ، وَلَا سِحْرٌ

“Barangsiapa di pagi hari mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwa, niscaya tidak celaka oleh bahaya racun dan pengaruh sihir pada hari itu.” [HR. Bukhari dan Muslim]

D. Renungan Keempat:

Sebagai seorang Muslim, dia tidak boleh larut terbawa arus berita dusta. Karena sebagian orang, dalam kondisi seperti ini, terkadang menyebarkan atau menyebutkan perkara-perkara yang tidak benar dan tidak ada hakikatnya. Mereka hanya ingin menyebar ketakutan dan kegelisahan yang tidak ada dasarnya di tengah masyarakat.

E. Renungan Kelima:

Semua musibah yang menimpa seorang Muslim, baik pada kesehatannya, keluarganya, anaknya, hartanya, bisnisnya atau lain sebagainya, jika dia menghadapinya dengan sabar dan mengharapkan pahala, maka hal itu akan mengangkat derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. Al-Baqarah: 155-157]

F. Renungan Keenam:

Sesungguhnya musibah paling besar (paling berbahaya) adalah musibah di dalam agama.

Ini merupakan puncak kerugian yang tidak ada keuntungannya sama sekali, kegagalan yang tidak disertai harapan sama sekali. Ketika seorang Muslim ditimpa musibah pada kesehatannya atau hartanya, lalu dia mengingat bahwa musibah terbesar adalah musibah yang menimpa agama, dia akan memuji Allah Azza wa Jalla atas keselamatan agamanya.

*************

Penulis: Ustadz dr. Faizal Abdillah Shahib
(Direktur Al Quran Memorization Training Centre Indonesia)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here