Situasi dan kondisi sebagian masyarakat dunia akibat Covid-19 telah meremukkan nilai-nilai sosial. Di Amerika Serikat pusat perbelanjaan telah kehabisan stok, sedangkan masyarakat yang akan berbelanja begitu banyak.

Indonesia sendiri sempat mengalami kelangkaan masker, bahkan beberapa komoditi seperti kunyit, jahe, juga demikian. Jika pun ada, harganya meroket, tidak wajar dan sangat mengganggu rasio sosial kita. Dalam situasi sulit kok ada keadaan seperti itu.

Ironinya, seorang pejabat negara malah berkata ringan, “Ya, sudah kalau mahal tidak usah dibeli. Yang gak sakit, ya gak usah pakai masker. Masker itu untuk digunakan orang sakit.”

Sekarang Covid-19 seakan mulai menjadi virus ekonomi, karena belakangan yang ditarget kena infeksi bukan sebatas manusianya, tetapi juga nilai mata uang. Ya, Rupiah disebutkan telah “terinfeksi” Covid-19.

Kondisi ini tentu sangat berdampak luar biasa bagi semua kalangan, termasuk negara, sebab utang luar negeri yang harus dibayar dengan dolar sudah otomatis akan membengkak. Biaya impor barang juga akan lebih mahal. Bagi masyarakat juga sama, ujung-ujungnya harga komoditi yang ada menjadi ikut mahal.

Fakta ini benar-benar horor sebenarnya secara empirik. Sebab pada saat yang sama, bisa dianggap pemerintah gagap dan gugup menangani Covid-19. Korban terus berjatuhan, bahkan terbaru dari garda terdepan yang membantu penanganan Covid-19, yakni para tenaga medis. Sisi lain, nilai Rupiah melemah dan melemah.

Tetapi, ini Indonesia. Sebuah bangsa yang rakyatnya sudah terbiasa dibanting-banting oleh keadaan. Diberi janji dan disuruh gigit jari. Hebatnya, namanya orang Indonesia ya, tetap hepi. Soal rezeki Gusti Alloh yang mengatur.

Kultur spiritual rakyat memang sangat tinggi. Bahkan, situasi ini pun boleh jadi direspon biasa-biasa saja oleh sebagian besar rakyat. Selain karena tidak mengerti, tidak punya kekuatan mengatasi soal, juga karena yakinnya kepada Allah yang sangat tinggi. Sudahlah pasrah, Allah pasti menolong.

Namun, benarkah ke depan ini situasinya akan benar-benar dihadapi dengan keyakinan semata? Atau seperti Covid-19 kita harus punya pertahanan sosial?

Kalau merujuk pada sistem Islam, sebaiknya sekarang orang-orang kaya itu sedekah besar-besaran. Sebab kalau nunggu negara, pemerintahan lagi banyak PR. Sudahlah umat Islam turun. Seperti kemarin, owner Wardah yang gelontorkan dana miliaran Rupiah untuk bantu Rumah Sakit bisa atasi pasien positif Covid-19.

Langkah itu perlu ditiru, oleh pengusaha, orang yang lebih lah uangnya untuk hidup sampai dua tahun ke depan, lebih-lebih para menteri yang beragama Islam. Pejabat dan lain sebagainya, ayo lomba-lomba sedekah.

Rasulullah bersabda, “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi).

Insya Allah ini cara terbaik untuk selamatkan bangsa dan negara kita. Selain Allah akan datangkan rahmat-Nya, publik juga akan melihat bahwa Allah selalu datangkan pertolongan-Nya untuk kita. Semoga hari-hari ke depan, sekalipun mendung tebal masih menggelayut di bumi pertiwi, setidaknya angin mulai menggiring awan itu untuk bumi kita dapat merasakan sinar mentari seperti sedia kala, hangat dan menghidupkan semua yang dibumi. Insya Allah.

Bogor, 22 Maret 2020

*************

Bogor, 22 Maret 2020

Penulis: Ustadz Imam Nawawi
(Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here