Di tengah wabah corona, mari sejenak kita merenung, sejenak kita melihat ke dalam diri kita. Barangkali kita mendapati ketakutan-ketakutan di dalam diri kita, kekhawatiran-kekhawatiran melanda hati kita. Ada ketakutan anak dan istri tidak makan dengan layak, ada kekhawatiran harga-harga melambung tinggi, khawatir kehilangan pekerjaan dan kekurangan pendapatan.

Saudara Iman

Jauh hari Rasulullah SAW –teladan kita- memberikan penawar atas ketakutan-ketakutan ini. Di dalam hadits riwayat muslim, Aisyah ra berkata:

مَا شَبعَ آلُ مُحمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ خُبْزِ شَعِيرٍ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ

Artinya, “Tidaklah pernah keluarga Nabi Muhammad kenyang dari roti yang terbuat ari gandum selama dua hari berturut turut hingga Rasulullah SAW wafat.” (HR Muslim)

Inilah teladan Rasulullah SAW yang ini beliau tarbiyahkan kepada keluarga beliau. Keluarga beliau tidak pernah kenyang karena roti selama dua hari berturut-turut padahal Rasulullah SAW pemilik seperlima harta rampasan perang?

Saudara Iman

Potongan pendek dari kehidupan Rasulullah SAW di atas mungkin bisa membuat hati tenang, melipur lara dan merubah fokus kita.

Barangkali kekhawatiran-kekhawatiran tadi lahir karena kita terlalu fokus dan terkait kepada dunia dan lalai terhadap akhirat. Dengan merubah fokus kepada akhirat -insya Allah- akan lahir sikap zuhud.

Sebagaimana sahabat Abu Darda’ ketika dikeluhkan kepadanya sedikitnya bekal dunia yg beliau miliki beliau berkata:

إن أمامنا عقبة كؤودا لا يجتازها إلا الأخف

Artinya, “Sesungguhya di depan kita ada rintangan yang sulit dilewati, dan tidaklah melewatinya kecuali mereka yang bebannya sedikit.”

Maka mereka yang ringan beban hidupnya, ringan kebutuhan hidupnya, mereka yang mengambil sedikit dari kenikmatan dunia sebagai bekal untuk akhirat.

Saudara Iman

Mari kita renungkan untaian hikmah dari seorang salaf.

والله ما أبالي لو كانت حبة الشعير بدينارعليّ ان أعبده كما أمرني وعليه ان يرزقني كما وعدني

Artinya, “Demi Allah, meskipun sebiji gandum seharga satu dinar, aku tidak peduli, karena tugasku adalah beribadah kepada Allah dan Bagi Allah menjamin ketercukupan rizkiku sebagaimana yang Dia janjikan.”

Bukankah ketersediaan rizki itu dijamin oleh Allah? Akan tetapi terkadang hati yang terpaut dunia tidak merasa cukup dengan rizki yang diberikan Allah. Maka yang penting bagi kita adalah ketercukupan.

Ketercukupan bukan berarti banyak, tapi cukup untuk melanjutkan ibadah, cukup untuk bertahan hidup, cukup untuk terus melantunkan zikir, doa, munajat taubat dan permohanan ampun dan cukup untuk melaksanakan sholat dan sholawat.

Filosofi ketercukupan bisa kita refeleksikan dari Nabi ketika beliau SAW menegur sahabat Sa’ad yang berlibah-lebihan dalam menggunakan air wudhlu.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ : مَا هَذَا السَّرَفُ يَا سَعْدُ ؟ قَالَ : أَفِي الْوُضُوءِ سَرَفٌ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melewati Sa’ad yang sedang berwudhu, beliau berkata, “Kenapa engkau berlebihan-lebihan wahai Sa’ad?” Saad berkata, “Apaka ada berlebih-lebihan dalam berwudhu?” Beliau menjawab, “Iya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (Ahmad dan Ibnu Majah)

Seperti Thalut yang hanya mengizinkan pasukannya mengambil setangkup air sungai untuk melanjutkan perjalanan ibadah. Semoga Allah karuniakan kepada kita sikap zuhud di tengah wabah melanda yang dengannya kita sabar dan senantiasa mengharap pahala dari Allah.

***********

Penulis: Miftahul Ihsan

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here