Ekspresi cinta dan kasih sayang sudah disyari’atkan oleh ajaran Islam sepanjang masa, bentuk cinta dan kasih sayang ke sesama dalam Islam adalah saling mendo’akan, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan ini tidak mengenal hari.

Lalu dari manakah VD ini berasal? Sejarahnya adalah dimulai dari sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks bebas. Jadi VD memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati satu hari dimana didalamnya dilakukan apa yang namanya seks bebas.

Dan mengenai nama Valentine pun, beragam kisah dan semuanya hanyalah dongeng tentang sosok Valentine ini. Sedangkan menurut Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan nya bangsa Romawi yang berbentuk berhala.

Maka disadari atau tidak, bagi yang ikut merayakannya berarti menghidupkan budaya ini.

Walaupun pada prakteknya tidak demikian, namun kenapa mesti ikut-ikutan? Adapun Cupid (the desire), dalam keyakinan mereka. Bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena dia rupawan sehingga diburu wanita bahkan dia pun berzina dengan ibunya sendiri, naudzubillahi min dzalik.

Apakah kita sebagai seorang muslim mau ikut-ikutan juga? hanya karena terkesan mendunia??

Allah berfirman

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تقوم الساعة حتى تأخذ أمتي بأخذ القرون قبلها، شبراً بشبر, وذراعاً بذراع. فقيل: يا رسول الله، كفارس والروم؟ فقال: ومن الناس إلا أولئك

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?”. (HR. Bukhari no. 7319).

Kitapun sudah diperingatkan, secara umum bahwa kita dilarang menyerupai kaum kafir dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Dan tentunya hal ini jangan disepelekan, karena tidakkah kita nantinya tidak mau dijauhkan dari telaganya nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan tidak diakui sebagai umatnya?

Tetapi, apakah pantas jika kita berharap bertemu dengannya di telaganya, jika kebiasaan dan gaya hidup kita jauh dari sunnah-sunnahnya? Atau bahkan kita malah lebih memilih membuat amalan-amalan ibadah baru yang bukan darinya.

Mudah-mudahan kita bukanlah orang-orang yang terusir dari telaganya tersebab tidak diakui sebagai umatnya, aamiin Ya Rabb.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku menunggu kalian di telaga. Sungguh ditampakkan kepadaku beberapa orang diantara kalian, kemudian dia disimpangkan dariku. Lalu aku mengatakan, “Ya Rabbi, itu umatku.” Kemudian disampaikan kepadaku, “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat setelah kamu meninggal.” (HR. Ahmad 4180 dan Bukhari 6576).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata,

“Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya.

Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.

Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran. Padahal dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan, “Merayakan hari Valentine itu tidak boleh.

Ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku!! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

************

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)