Dalam sebuah cuitannya di twitter, Prof. Rizal mengatakan: “Teori Gelembung (bubbles): Gelembung tidak didukung oleh fundamental yang kuat, tapi oleh persepsi, PR, doping dan goreng-gorengan. Gelembung akan meletus sebagai bagian dari koreksi alamiah. Untuk meledak, tidak perlu linggis atau kampak, hanya butuh peniti-peniti kebenaran dan fakta riel”. Saya tidak tahu persis dalam konteks apa beliau menge-twit seperti itu. Tetapi berdasarkan standing position beliau dalam setiap argumen di media, kelihatannya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan rezim sekarang.

Cuitan ini sangat relevan dengan apa yang saya baca dalam QS ar-Ra’d: 17. Dalam ayat itu disebutkan:

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”

Dalam ayat ini Allah bercerita tentang perumpamaan wahyu Allah yang turun dari langit dengan air hujan dan tanah atau permukaan bumi dengan hati manusia. Bahwa manusia menerima wahyu (kebenaran) itu sesuai dengan ‘kadar’ yang dimiliki oleh masing-masing manusia. Luas dan dalamnya hati manusia akan menentukan seberapa besar penerimaannya terhadap kebenaran yang turun dari langit.

Yang menarik dalam ayat ini adalah air yang mengalir tersebut membawa buih. Buih atau bubbles seperti yang disebut oleh Prof. Rizal tersebut mengapung di atas permukan air. Buih itu menggelembung, membesar dan membawa ikut bersamanya kotoran. Demikian halnya ketika emas dilebur, juga akan menghasilkan kotoran yang sama. Ada air, ada buih. Ada emas, ada karat.

Al-Qur’an kemudian membawa kita pada dua perumpamaan itu dengan kalimat “Kadzalika yadhribullahu al-Haqqa wa al-Bathil”. Demikianlah Allah mengumpamakan kebenaran dan kebathilan. Air yang jernih serta emas yang murni menjadi simbol kebenaran. Serta buih dan karat menjadi simbol kebathilan.

Tentu kita memahami bahwa pertentangan antara kebenaran dan kebathilan akan selalu ada di muka bumi. Tetapi yang pasti adalah, kebenaran selalu membawa kejernihan dan nilai seperti halnya air dan emas. Sedangkan kejahatan dan kebathilan akan selalu merusak dan tidak mendatangkan manfaat.

Dalam ayat itu Allah sepertinya ingin menegaskan kepada para pejuang yang berada di pihak yang benar untuk selalu optimis. Sebab Allah menyebutkan, “Wa amma az-Zabad Fa Yadzhabu Jufaa’an wa amma maa Yanfa’u an-Naas Fa Yamkutsu fi al-Ardh”. Buih dan busa akan hilang, sementara yang bermanfaat akan abadi. Bahwa kebenaran tetaplah benar meski ia ditutupi oleh data, opini, isu atau seperti yang disebutkan oleh Prof. Rizal tadi sebagai ‘persepsi’ atau ‘doping’.

Demikian halnya buih yang kelihatan besar, menguasai air, tetapi hakikatnya rapuh dan ringan tak berbobot. Sebanyak apa pun, buih hanya menunggu waktu untuk hilang secara alami. Sementara air akan tetap abadi.

Emas tetaplah emas. Dan karat akan melepuh setelah emas dileburkan. Akan terpisah mana emas yang asli, dan mana tembaga beserta karatannya. Mana yang murni, mana yang palsu dan tiruan. Persis seperti batu. Untuk membedakan mata batu akik, mana batu kerikil dan mana batu sungai yang diperlukan adalah menggosok mereka masing – masing. Setelah itu, baru akan nampak mana yang berkilau terang dan mana yang redup suram.

Karena itulah orang – orang yang memperjuangkan kebaikan dan kebenaran seharusnya selalu berusaha lebih giat dibanding orang – orang yang mengusung kebathilan. Menegakkan mizan keadilan harus dilakukan secara serius dan betul – betul dengan tenaga yang paling optimal. Sebab, pasti kebenaran akan selalu menang dan kebathilan akan selalu kalah. Nilai yang baik dan benar akan abadi, sementara yang salah dan buruk akan sirna. Wa Qul jaa’a al-Haq wazahaqa al-Bathil, Inna al-Bathila kaana zahuuqa.

Meski dalam kenyataannya Adam berhasil digoda iblis. Habil dibunuh oleh Qaabil. Nabi Musa terusir dari Mesir. Nabi Luth terasing dari negeri Sodom. Nabi Yusuf terbuang ke sumur dan terpenjara. Nabi Yahya disembelih. Nabi Isa diintimidasi. Nabi Muhammad SAW disakiti. Tetapi mereka semua mewariskan keteguhan pada perjuangan dan nilai yang terus hidup. Dan bahwa memang, kebenaran memang adalah jalan terjal, panjang dan berliku. Ujian dan tantangan itu untuk memilih dan memilah, mana manusia emas, mana manusia karat. Mana yang punya niat murni, mana yang palsu.

Oleh karena itulah, para pejuang kebenaran harus ikut serta dalam dinamika kehidupan umat. Ia harus menjadi tulang punggung, dimana umat berdiri tegak dengannya. Ia harus menjadi corong suaru nurani umat. Menyuarakan amar ma’ruf dan nahy munkar. Harus ada koreksi. Kritik dan koreksi harus dihidupkan. Sebab orang – orang baik yang diam tidak ada bedanya dengan para pelaku kedzhaliman. Mendiamkan kedzhaliman adalah kedzhaliman yang sama.

Ada sebuat atsar yang disandarkan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra, “Idza sakata ahlu al-Haq ‘an al-Bathil, tawahhama ahlu al-Bathil annahu al-Haq”. Jika para pelaku kebenaran itu diam terhadap kebathilan, maka para pelaku kebathilan akan menganggap apa yang diperbuatnya adalah benar.

Karena tidak boleh kita biarkan oleh – orang bodoh menguasai umat. Tidak boleh orang – orang dzhalim yang memimpin dan meng-hegemoni orang – orang baik. Yang harus tampil ke depan adalah para pejuang kebenaran. Sebab jika kita diam, maka kedzhaliman akan dianggap sebagai kebenaran.

Kebathilan sifatnya semu, asasnya rapuh. Ia terlihat besar menguasai tetapi lemah dan goyah. Yang dibutuhkan untuk menghilangkan buih itu tidak perlu linggis dan kampak kata Prof. Rizal. Yang dibutuhkan adalah peniti atau jarum – jarum kebenaran. Ia kecil, tetapi tajam dan runcing. Tidak perlu banyak seperti buih dan tampak garang di permukaan. Yang dibutuhkan adalah ujung – ujung jarum yang tegas, konsisten dan punya power. Maka buih – buih itu akan sirna tak tersisa.

************

Penulis: Syamsuar Hamka, S.Pd,. M.Pd.I
(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here