Seorang manusia tentunya memiliki berbagai sifat dan karakter ada yang pesimis dan ada yang optimis dalam mengerjakan sesuatu. Jiwa pesimis tentunya banyak kita jumpai dalam kehidupan keseharian kita, ketika dia mengerjakan sesuatu dia selalu berputus asa dan terlal u cepat menyerah terhadap apa yang dia akan kerjakan dan tidak sadar terhadap usaha yang dia kerjakan belum maksimal.

Sifat pesimis dapat diartikan berprasangka buruk terhadap Allah . Seseorang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian atau bencana, sehingga ia tidak mau berusaha untuk mencoba. Pesimis adalah kondisi pikiran yang melihat dunia ini selalu negatif. Memang tidak harus semuanya terlihat negatif, mungkin untuk aspek kehidupan yang lain seseorang menerima dengan positif, tetapi untuk aspek lainnya dia melihatnya dengan negatif.

Artinya mungkin ada seseorang yang pesimis hanya untuk sebagian aspek kehidupan lainnya.  Muara dari pesimis adalah sikap putus asa, sebuah sikap yang menganggap tidak ada lagi (habis) harapan positif. Pesimis dengan sikap putus asa adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Saat kita membahas pesimis, kita juga sekaligus bicara tentang putus asa. Pesimis menyebabkan kita putus asa, dan penyebab putus asa adalah pesimis.

Penyebab bagi orang yang pesimis, mereka pesimis karena “fakta dan logika berbicara”. Mereka akan bersandar pada fakta tentang hal-hal negatif, akibat buruk dan kekagagalan yang ada. Ini akan menjadi alasan bagi mereka, bahwa berpikir negatif itu wajar sebab fakta berbicara. Selain fakta, mereka pun akan mengatakan bahwa secara logika juga memang demikian, bahwa selalu ada hal negatif dan peluang kegagalan dibalik sesuatu.

Contoh fakta yang bisa dijadikan alasan mereka pesimis seperti banyaknya pejabat yang korup. Berbagai penggantian pejabat sudah sering terjadi, tetapi perbaikan belum terlihat. Ini menjadikan banyak orang yang pesimis. Bisa juga, Anda sudah mencoba bisnis, namun gagal lagi, gagal lagi. Anda kemudian mengatakan “fakta” bahwa Anda memang tidak akan berhasil bisnis, atau mengatakan bisnis itu sangat beresiko. Artinya, meski Anda punya fakta dan dalil untuk bersikap pesimis, Anda tetap orang pesimis. Namun, sebenarnya bukan itu penyebab pesimis.

Biasanya salah satu penyebab pesimis adalah iman yang lemah bahkan orang yang tidak punya iman. Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan larangan untuk tidak berputus asa, sebagaimana ayat-ayat yang terdapat didalam Al-Quran :

Artinya:  “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa (kecuali dosa syirik). Sungguh Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53).

Sebagaimana pula dalam sabda Rasulullah  “Janganlah kalian berputus asa dari rizqi Allah selama kepala kalian masih bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah  memberinya rizqi“. (HR Ahmad No 15294).

Bahaya Pesimis Jika seseorang pesimis terhadap sesuatu, maka dia tidak mungkin lagi berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Tidak ada pencapaian dan kebaikan dari orang yang pesimis. Dia memiliki segudang alasan, logika, dan fatwa bahwa dia tidak perlu berusaha lagi. Jika tidak berusaha, maka dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Dia bahkan tidak mau berdakwah karena tidak akan ada gunanya menurut dia. Memang berbahaya baik untuk dunia dan akhirat. Malas, tidak mau berusaha, hanya menghujat sana sini, bahkan tidak sedikit yang bunuh diri saat harapan sudah tidak ada. Jangan biarkan sikap pesimis tumbuh dalam hati kita.

Jikalau Anda ingin berhasil dan sukses maka tumbuhkanlah sikap optimis karena orang yang optimis akan lebih sukses dan berprestasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka yang berjiwa optimis biasanya merupakan “juara-juara” dalam berbagai hal, baik di sekolah, karir, maupun di bidang-bidang lainnya. Mereka yang optimis selalu memiliki semangat untuk maju, tidak mudah putus asa, dan semakin terpacu untuk menang tatkala dihadapkan pada situasi yang sulit. Keyakinan kuat yang dimiliki oleh mereka yang berjiwa optmis bisa memupuk semangat untuk berbuat lebih baik dan percaya diri dalam segala hal.

Orang yang berjiwa optimis memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih positif. Mereka yang optimis tidak mudah menyerah dan tetap akan terus “melangkah” maju untuk meraih kesuksesannya. Sebagaimana perkataan; Imam al-Ghazali Hakikat Optimis adalah kelapangan hati dalam menantikan hal yang diharapkan pada masa yang akan datang dalam hal yang mungkin terjadi.

Perbedaan orang yang pesimis dan optimis, Si pesimis seolah hidupnya penuh curiga, melihat kehidupan bagaikan warna hitam-putih saja. Si optimis merasa hidupnya penuh berkah, memandang kehidupan berwarna-warni dan selalu indah. Si pesimis suka membesar-besarkan masalah kecil, namun enggan mencari penyelesaiannya, sedangkan si optimis berusaha untuk menemukan solusi atas masalah besar meski dengan langkah kecil. Si pesimis gemar menunda pekerjaan dan merasa tak termotivasi, sedangkan si optimis tekun dan menyegerakan karya nyata secepatnya.

Penyakit yang paling mematikan jiwa adalah rasa pesimis. Penyakit ini dapat menghilangkan rasa percaya diri dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Maka dari itu, meski berani melakukan suatu pekerjaan, ia tak akan pernah yakin dengan kemampuan dan keberhasilan dirinya. Ia juga melakukannya dengan tanpa perhitungan yang matang, dan akhirnya gagal. Percaya diri adalah sebuah karunia yang sangat besar. Ia merupakan tiang penyangga keberhasilan dalam kehidupan ini.

Apa jadinya, saat kita sedang terpuruk, serba kesulitan, dan kita tidak bisa melihat jalan keluar? Maka, kata putus asa seolah menjadi sebuah kata yang “wajar” keluar dari mulut kita. Bisa jadi, kita berkata, “Mau apa lagi? Semua sudah saya lakukan, tetapi tidak ada jalan keluarnya. Ya sudahlah, pasrah saja.”

Namun, apa yang Anda dapatkan dari sikap putus asa? Tidak ada manfaatnya sama sekali. Bahkan bisa jadi memperburuk situasi kita, karena emosi kita negatif dan tidak ada lagi semangat untuk memperbaiki diri atau melepaskan diri dari masalah. Perhatikan ayat Al-Qur’an dibawah ini;

Artinya:Wahai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS. Yusuf: 87).

Untuk itu, Anda benar-benar perlu motivasi hidup agar tidak putus asa. Motivasi yang benar-benar memberikan dorongan sangat kuat sehingga mampu mengalah penghalang yang namanya putus asa. Kita harus menjadi motivator terbaik untuk diri kita begitu pula dengan orang lain. Bagi seorang Muslim, motivasi hidup itu cuma satu, dan jika kita memegang dan mengingat motivasi ini, kita tidak akan pernah putus asa. Jika kita masih putus asa, mungkin perlu merenungi lagi apa yang menjadi motivasi hidup kita selama ini atau pemahaman akan motivasi ini perlu ditingkatkan.

Motivasi hidup yang tidak akan menjadikan kita putus asa adalah hidup karena dan untuk Allah  semata. Tidak ada motivasi lain selain ini. Kalau ada motivasi lain, tetap dalam rangka beribadah kepada Allah . Tanamkan dalam diri, bahwa motivasi hidup kita adalah untuk mendapatkan ridha Allah , maka kita tidak akan pernah putus asa. Serius, sehebat apa pun beban, kita akan ingat bahwa disaat-saat kita menjalaninya hanya karena Allah , maka pahala akan terus mengalir. Ingat, selama kita terus menjalaninya dengan ikhlasan.

Apa lagi  alasan kita putus asa? Tidak ada alasan sama sekali, jika kita memahami bahwa segala usaha kita yang dijalani dengan penuh keikhlasan, kesabaran, akan mengalir pahala. Justru, jika berputus asa, malah berdosa. Faktor yang lain mengapa kita selalu berputus asa adalah kita selalu berorientasi pada hasil. Artinya hanya hasil yang kita harapkan, tanpa mengingat bahwa prosesnya pun kita sudah mendapatkan kebaikan yang luar biasa.

Misalnya Anda sakit, berobatlah. Sebab berobat itu beribadah, tanda kita tidak berputus asa, dan mengikuti sunah. Kesembuhan, biarkanlah Allah  yang menentukan. Yang kita perlukan adalah berusaha dan ini merupakan ibadah sebagai ladang pahala kita. Kesembuhan hak Allah . Tentu saja kita harus yakin bahwa kita akan sembuh, sebab setiap penyakit ada obatnya. Justru orang yang yakin tidak akan pernah putus asa. Hanya orang yang nggak  yakin yang putus asa, dia mengira tidak akan pernah sembuh.

Kombinasi keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah  adalah obat mujarab dari putus asa. Nggak mungkin, orang yang yakin dan tawakal akan putus asa. Kegitu juga dengan kemiskinan. Apakah takdir kita miskin atau kaya itu urusan Allah, tetapi saat kita tetap bersabar dalam mencari rezeki yang halal adalah tugas kita dan kita akan mendapatkan pahala. Bahkan pahala yang besar

Jadi, luruskan motivasi kita, jangan hanya berorientasi hasil saja, namun nimatilah prosesnya. Kalau masalah kita berat dan prosesnya lama, bersabarlah dan ikhlaslah menjalaninya, itu ladang pahala buat kita. Orientasi kita adalah akhirat buka dunia, motivasi kita untuk akhirat bukan dunia. Sebab kebahagian diakhirat lebih kekal dan selamanya sedangkan didunia sifatnya sementara. Sandarkanlah hidup kita hanya kepada Allah  semata. Inilah motivasi hidup agar kita tidak mudah putus asa.

***********

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pendiri Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)

Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here