ilustrasi beri uang, bayar utang

Seringkali saya temui, seseorang yang kehilangan sesuatu kemudian mengevaluasi diri dan membuat simpulan bahwa kehilangan itu akibat kurangnya ia bersedekah. tentu, ini sangat baik. kita memang dianjurkan untuk berhusnu-dzhon kepada Allah  setiap kali suatu keburukan menimpa diri kita, dan tak lupa pula menunjuk hidung sendiri sambil berpikir kira-kira perbuatan buruk apa yang telah kita lakukan.

Tetapi akan menjadi kurang baik jika kita meyakini bahwa setiap kehilangan selalu diidentikkan dengan kurang sedekah. Maka jika ada seseorang yang kehilangan sesuatu, serta merta kita berujar, “Ah! paling kurang sedekah, makanya hilang.” seolah kita dapat meramal bahwa setiap orang yang kehilangan pasti diakibatkan ia lalai menginfaqkan hartanya.

Barangkali orang yang kita tuduh demikian tidak tersinggung, namun tanpa sadar dengan meyakini demikian akidah kita telah terganggu. kita menyakini bahwa yang mendatangkan musibah berupa kehilangan adalah harta yang kita simpan, dan jika harta itu diinfaqkan maka kita tidak mungkin ditimpa kehilangan.

Harus diingat, bahwa Allah  lah yang menentukan takdir atas seseorang bukan benda atau harta yang kita infaqkan. Allah  yang berhak mengambil semua yang telah Ia titipkan bahkan tanpa alasan apapun. Semua atas kehendak Allah . Bisa jadi kehilangan itu bukan musibah karena kurang bersedekah, tetapi Allah  inginkan hambanya itu tidak mencintai dunia melebihi cinta kepada-Nya. Sehingga Allah  takdirkan ia kehilangan berturut-turut, agar dengan kehilangan tersebut ia introspeksi diri, lantas tak lagi berat jika harus berpisah dengan dunia.

Atau mungkin kehilangan itu adalah cara Allah  agar sang hamba semakin dekat kepada-Nya, agar mengalir doa-doa, dan agar kelak sang hamba merasakan bahagia yang luar biasa saat dipertemukan oleh Allah  dengan nikmat yang berlipat-lipat. Bukankah lapar akan mengantarkan pada nikmat seteguk air dan kehilangan akan mengantarkan pada nikmat perjumpaan? perjumpaan kembali dengan sesuatu yang telah hilang bahkan dalam jumlah yang lebih banyak.

Maka berbuatlah adil terhadap diri kita sendiri dan juga kepada orang lain. Berikan teguran keras pada diri kita sendiri dan prasangka baik kepada Allah  atas yang menimpa orang lain. Sebab kita mengetahui apa yang kita lakukan dan terbatas memahami apa yang orang lain kerjakan. Kehilangan tidak identik dengan kurang sedekah, dan kurang sedekah tidak identik dengan kehilangan. Keduanya tidak memiliki hubungan sebab-akibat yang mutlak. Maka kita tak boleh meyakininya apalagi digunakan sebagai senjata untuk memvonis saudara kita.

Bersedekah adalah salah satu perbuatan yang dicintai oleh Allah , setiap sedekah yang kita keluarkan dengan niat ikhlas hanya kepada Allah  semata, maka Allah  akan benar-benar akan mengantikan yang lebih baik dan akan memuliakan orang-orang yang bersedekah tersebut. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Sungguh keajaiban sedekah ini memiliki keutamaan yang besar. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan  orang-orang yang bersedekah.

Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah. Semoga kita senantiasa diberi nikmat dan kesadaran untuk bersedekah. Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.

Sebagaimana sabda Rasulullah  : “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614).

Adapun dalam hal diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah , yang merupakan dosa besar. Allah  berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah? (yang tidak terduga-duga). Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.” (QS. Al A’raf: 99).

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah  menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah , yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah: “Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari).

3. Memberi keberkahan pada harta.

Sebagaimana sabda Rasulullah  : “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim).

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

Begitu banyak keutamaan bagi orang-orang yang gemar untuk bersedekah, dan Allah akan melipatgandakan apa yang telah Dia sedekahkan. Sebagiamana firman Allah didalam Al-Qur’an;

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipat-gandakan (balasannya) kepada mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia”.  (QS. Al Hadid: 18).

Sedekah memang ajaib untuk mengubah hidup seseorang. Akhir-akhir ini yang kita kenal dengan sosialisasi beliau tentang dasyatnya efek sedekah dalam mengubah hidup seseorang. Ustadz Yuzuf Mansur. Beliau bukan hanya pandai berteori saja, namun sejarah hidupnya yang pernah dipenuhi dengan kepahitan terselamatkan dengan sedekah yang dilakukannya. Sebagai umat Islam, kita harus yakin seratus persen atas apa yang difirmankan oleh Allah  yang berkaitan dengan pelipatgandaan pahala bagi orang yang bersedekah sebagaimana penjelasaan ayat diatas.

Sebagaiamana perumpamaan bagi orang-orang yang gemar bersedekah dijelaskan didalam Al-Qur’an ;

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas, Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 261).

Apabila kita berpendapat bahwa sedekah hanya identik dengan uang, hal tersebut tidaklah salah sepenuhnya. Shadaqah begitu banyak macamnya, miasalnya memberikan sebagian hartanya bagi kepentingan agama, memberi nafkah keluarga, melapangkan jangka waktu orang yang berhutang tersebut, melakukan berbagai kebaikan juga termasuk sedekah, bahkan senyum yang tulus dinilai Allah  merupakan shadaqah.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi Burdah bahwa, Rasulullah  pernah berabda; ”Setiap muslim itu mempunyuai kewajiban shadaqah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana kalau ia tidak mendapatkan sesuatu untuk dishadaqahkan?” Beliau menjawab, “Seseorang hendaknya bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia bisa memberi mamfaat untuk dirirnya dan bisa bershadaqah.” “Sa’id melanjutkan, lalu sahabat tadi bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak mampu bekerja?” Beliau menjawab, “Hendaknya ia membantu orang yang membutuhkan.” Sa’id berkata: Beliau ditanya lagi, “Bagaimana jika ia tidak mampu melakukan hal itu?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia memerintahkan yang baik.” Sahabat tersebut bertanya lagi, “Bagaimana jika ia tidak mampu lagi?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia menahan diri dari berbuat jahat karena hal itu juga termasuk shadaqah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Qayyim menyampaikan pendapatnya mengenai shadaqah ini, yakni: “Sesungguhnya shadaqah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim dan bahkan orang kafir, karena Allah akan menghilangkan berbagai bencana dengan perantaraan shadaqah tersebut. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi ummat manusia, baik yang berpendidikan maupun orang yang masih awan. Seluruh penduduk muka bumi sepakat tentang hal ini karena mereka telah mencobanya.”

Allah  akan mempermudah kehidupan orang-orang yang gemar bershadaqah, karena berbagai rintangan yang menghadap akan dihapus oleh-Nya. Berbagai rintangan atau fitnah dapat berupa datangnya penyakit, musibah, gagalnya meraih sesuatu, kekurangan dan lain sebagainya. Banyak kisah yang menceritakan terhindar dari bencana atau kesulitan karena mereka suka bershadaqah. Dan bisa jadi selama ini setiap apa yang kita kerjakan selalu mengalami kegagalan, maka intropeksilah diri kita bisa jadi kegagalan selalu ada dalam diri kita karena kurangnya shadaqah yang kita kerjakan.

***********

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pendiri Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)

Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here