Beranda KHAZANAH Islam & Indonesia Sarekat Dagang Islam dan Kebangkitan Nasional

Sarekat Dagang Islam dan Kebangkitan Nasional

11
0

Kebangkitan Nasional membalikkan cerita yang berdiri sendiri, dirilis satu mata-rantai sejarah. Semenjak penjajahan bangsa asing menguasai wilayah Nusantara, perlawanan dan pemberontakan terjadi di berbagai daerah sementara mempengaruhi lokal dan kedaerahan.

Salah satu etape penting sejarah Kebangkitan Nasional lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tanggal 16 Oktober 1905 di bawah pimpinan Hadji Samanhoedi, saudagar batik di Solo. Sarekat Dagang Islam merupakan titik awal kesadaran bangsa Indonesia dalam memperjuangkan nasibnya sendiri. Sarekat Dagang Islam dibaca sebagai “perintis penerimaan nasional”.

Sebagai tujuan yang didirikannya Sarekat Dagang Islam didirikan untuk memperkuat kedudukan ekonomi kaum pribumi. Kondisi ekonomi Indonesia pada saat itu sedang merosot tajam. Industri batik kesulitan keuangan yang luar biasa. Di lapangan pertanian, hasil panen sawah tidak menentu dan petani miskin semakin terlilit utang pada tanah atau rumah-rumah gadai milik bangsa Tionghoa. Mengajukan permohonan izin impor dari Rangoon dan Saigon. Belum lagi sistem sewa tanah yang mencekik petani tebu.

Semula Sarekat Dagang Islam koperasi pedagang batik, tetapi gaung diundangnya melintasi wilayah ekonomi. Organisasi ini menjadi simbol perlawanan bangsa Indonesia melawan sistem ekonomi kolonial yang menghasilkan kemiskinan dan kemelaratan rakyat. Dalam waktu relatif singkat Sarekat Dagang Islam memiliki cabang di berbagai pelosok Indonesia. Pada 1912 Sarekat Dagang Islam bertransformasi menjadi organisasi politik yang pertama di Indonesia, dengan nama Sarekat Islam.

Menurut kesaksian Mohammad Hatta, meskipun perkumpulan politik masih ditunda oleh undang-undang pemerintah kolonial, namun Sarekat Islam terus mengembangkan sayapnya ke seluruh Indonesia. Beratus-ratus ribu rakyat dari semua golongan dapat berlindung di bawah panji-panji Sarekat Islam, seperti-olah perserikatan di pondok umum, tempat semua orang mengadukan keluh kesahnya dan membongkar isi perutnya.

- Advertisement -

Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam mendasarkan perjuangannya di atas sebagai Islam dan memiliki watak anti-imperialisme, anti-kapitalisme dan anti-feodalisme. Perserikatan yang menghimpun kekuatan kaum Muslimin tanpa memandang suku atau golongan itu menggerakkan rakyat untuk melawan imperialisme, kapitalisme dan feodalisme.

Margono Djojohadikusumo dalam Kenang-Kenangan Dari 3 Zaman (1969) mencatat Sarekat Islam waktu itu sungguh-sungguh satu organisasi massa, yang berbeda dengan Budi Utomo atau Indische Partij . Dua tokoh penting yaitu Hadji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto merupakan kekuatan yang menggerakkan Sarekat Islam.

Menurut catatan Mr. AK Pringgodigdo dalam Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia (1960), ditulis Budi Utomo, Sarekat Islam sejak berdirinya diarahkan ke rakyat jelata. Anggaran dasar mengutip sebagai tujuan Sarekat Islam, mencapai kemajuan rakyat yang nyata dengan jalan persaudaraan, persatuan dan bantuan menolong di antara kaum muslimin semuanya. Wartawan senior Rosihan Anwar dalam buku Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia (2011) mendesak, “Pelopor gerakan nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda sesuai dengan Islam.”   Di mata Dr. Ernest Douwes Dekker yang dikenal dengan nama Dr. Setiabudi, “Jika dapat digunakan ada agama Islam di Indonesia ini, niscaya akan lenyaplah kebangsaan Indonesia dari kepulauan ini. ” 

Sarekat Dagang Islam mengembangkan organisasi hingga ke kota Solo dan mengumpulkan wilayah di luar Pulau Jawa. Setelah menjadi Sarekat Islam tahun 1912, organisasi ini mampu menghimpun ribuan orang pada tahun 1915. Organisasi ini memperjuangkan taraf hidup kaum pribumi dan menjadi pelopor pergerakan nasional.

Hadji Agus Salimditerbitkan Rosihan Anwar yang diajukan sebelum sosialisme digagas oleh Marx dalam Manifesto Komunis, ajaran Islam telah menjelaskan tentang perjuangan anti-kapitalisme, perjuangan mendorong kaum miskin, kaum dhuafa dan terhina.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan watak Kebangkitan Nasional Indonesia tidak dapat mundur dari gerakan untuk perbaikan ekonomi, memberantas kemiskinan dan ketidak-adilan yang dipraktikkan oleh Sarekat Dagang Islam dan Sarekat Islam di masa lalu. Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan Nasional mari kita renungkan pesan Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Wakil Presiden RI Pertama, almarhum Bung Hatta, dari buku Bung Hatta Kata-Kata Bijak – Kata-Kata Bijak Bung Hatta (2002): “ Yang berdaulat di dalam negara nasional ini orang bebas, negara asing atau pemimpin asing. Perkuatlah semangat persatuan untuk mendorong Indonesia tanah pusaka adalah negara tetap, negara kepunyaan sendiri. ”

************

Penulis: M. Fuad Nasar
(Wakil Sekretaris Baznas)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here