إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ   شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 يَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ  الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً. أما بعد:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وآله وسلم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

Ayyuhannas rahimakumullah!

Seorang muslim senantiasa merasakan nikmat Allah yang tidak pernah berhenti yang selalu tercurah kepadanya. Namun seorang muslim sadar bahwa dari sekian banyak nikmat yang Allah anugerahkan untuknya, maka nikmat terbesar yang harus selalu ia jaga adalah nikmat dia memeluk agama Islam. Nikmat mendapatkan petunjuk berakidah yang benar, akidah Islam.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah 10 Hijriah di Padang Arafah, ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam memimpin para sahabatnya wukuf di Arafah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan satu ayat. Ayat ini merupakan ayat penegasan akan nikmat akidah Islam. Allah mengatakan,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3).

Hari itu, Jumat 9 Dzulhijjah 10 Hijriyah, agama Islam sempurna sejak hari tersebut. Dan Allah telah sempurnakan semua nikmat-Nya kepada kita. Islam telah sempurna, maka sempurna pulalah seluruh nikmat. Tidak akan sempurna nikmat pada seseorang kecuali dia mendapatkan taufik memeluk agama Islam. Dan cukuplah bagi seseorang dinamakan mendapatkan nikmat yang paling sempurna ketika dia sudah mendapatkan nikmat Islam.

Lalu Allah menegaskan, “Dan Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam adalah umat yang diridai. Bahwa agama Islam adalah agama yang diridai oleh Allah.

Seorang Yahudi pernah datang kepada Umar bin Khattab radiallahu anhu. Ia mengatakan, di dalam al-Qur’an ada satu ayat yang seandainya ayat itu turun kepada kami kaum Yahudi, maka tentu kami akan merayakan hari turunnya ayat tersebut. Karena itu adalah ayat yang menjelaskan keutamaan yang umat Islam dapatkan. Umar bin Khattab radiallahu anhu mengatakan, “Ayat apa yang kalian maksudkan?” Lalu orang Yahudi itu mengatakan ayat dalam surah al-Maidah ayat ke-3.

Orang Yahudi pun cemburu dengan turunnya ayat ini. Karena ayat ini menegaskan bahwa memang nikmat Islam adalah nikmat terbesar. Dan kesempurnaan nikmat hanya ada ketika seseorang memeluk agama Islam.

Inilah akidah kita. Inilah milik kita yang paling berharga. Nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita, tidak kepada umat lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menugaskan dalam ayat yang lain,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.“ (QS. Ali Imran: 19).

Bahkan dalam ayat lain Allah menegaskan lagi,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Namun demikian, walaupun umat Islam yakin bahwa merekalah umat yang terpilih, merekalah yang berhak mendapatkan kenikmatan surga kelak, namun mereka juga adalah umat yang paling tahu bertoleransi. Karena itu juga adalah arahan dan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam kitab-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kepada kita umat Islam bagaimana bertoleransi kepada umat lain,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدْ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Allah tegaskan setelah menyebutkan Ayat Kursi, bahwa tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam karena telah jelas jalan yang lurus dan mana jalan kesesatan.

Jamaah sekalian!

Beginilah Allah mengajarkan kepada kita toleransi. Pertama Allah menegaskan bahwa kita tidak boleh memaksa umat lain untuk memeluk agama Islam. Ini adalah toleransi. Namun belum cukup sampai di sini. Toleransi yang benar adalah kita juga harus yakin bahwa telah jelas jalan yang lurus dari jalan yang sesat. Artinya, bukan termasuk toleransi ketika kita membenarkan semua agama yang ada, mengatakan semua agama benar, semua agama pasti akan diterima oleh Allah. Bukan toleransi ketika kita mengatakan silakan masuk agama apa saja. Sekali-kali memeluk agama Islam lalu kesempatan lain memeluk agama yang lain. Sewaktu-waktu mengamalkan ajaran Islam lalu kesempatan lain juga tidak mengapa mengamalkan ajaran agama lain.

Bukan seperti ini toleransi yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengajarkan toleransi dalam arti menghormati pendapat, pandangan, pikiran, dan pilihan orang lain. Tidak boleh kita paksakan untuk ikut keyakinan kita. Tapi Allah menegaskan bahwa kita harus yakin bahwa jalan Islam adalah satu-satunya jalan yang lurus. Sementara selainnya adalah jalan menyimpang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan di akhir surah al-Kafirun,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 6).

Allah menyuruh kita untuk menyampaikan kepada orang kafir bahwa ibadah kita tidak sama dengan mereka. Bahwa yang kita sembah tidak sama dengan yang mereka sembah. Silakan kita menyembah Tuhan yang kita yakini. Amalkan ajaran agama kita masing-masing. Tidak ada saling campur tangan. Tidak ada campur aduk agama. Dan seperti inilah makna toleransi yang benar yang diajarkan oleh agama kita.

Jamaah sekalian!

Akhir-akhir ini makna toleransi yang seperti ini mulai dikaburkan, utamanya ketika kita memasuki bulan Desember. Banyak orang salah paham dengan makna toleransi. Mereka sangka makna toleransi adalah kita boleh saja ikut-ikutan merayakan hari raya umat di luar agama kita. Dan secara khusus umat Nasrani atau umat Kristen, yang mana pada tanggal 25 Desember dan pekan berikutnya, 1 Januari, akan merayakan apa yang mereka yakini sebagai hari raya.

Apakah boleh kita ikut merayakannya? Apakah hari raya termasuk bagian ibadah atau sekadar adat kebiasaan? Allah mengatakan dalam Alqur’an,

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً هُمْ نَاسِكُوهُ

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat (hari raya) tertentu yang mereka lakukan.” (QS. Al-Hajj: 67).

Jadi hari raya bukan sekadar adat istiadat atau kebiasaan, tetapi memang merupakan bagian dari agama. Dan masing-masing agama sudah punya hari raya. Maka ketika mereka merayakan hari raya, berarti mereka sedang melaksanakan ibadah yang mereka yakini. Maka di sini masuk dalam batasan-batasan tadi. Kita beribadah sesuai dengan apa yang kita yakini sebagaimana kita persilakan umat lain untuk memeringati hari raya atau ibadah mereka.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam ketika baru masuk kota Madinah mendapati kaum muslimin waktu itu merayakan dua hari yang mereka besarkan. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, hari raya apa itu. Mereka mengatakan bahwa ini adalah hari raya yang kami dapatkan dari orang-orang Yahudi. Kebiasaan yang masih melekat pada penduduk Madina pada waktu itu. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada umat Islam, penduduk Madina atau kaum Anshar pada waktu itu bahwa Allah telah menggantikan hari raya yang lebih baik bagi penduduk Madina.

Sebelum Islam masuk ke Madina, penduduk Madina adalah umat Yahudi. Maka ketika Islam datang, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa Allah telah menggantikan untuk kalian hari raya yang lebih baik, yaitu dua hari raya umat Islam hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Itulah yang kita rayakan. Kita tidak perlu ikut merayakan hari raya umat lainnya.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau sekadar mengucapkan selamat tanpa ikut merayakannya? Maka kita juga katakan sesuai dengan yang dijelaskan oleh para ulama kita dan terkhusus pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sejak zaman mendiang Buya Hamka rahimahullah telah mengeluarkan fatwa pelarangan mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru untuk umat Nasrani.

Kenapa sekadar mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain juga dilarang? Karena ketika kita mengucapkan selamat merayakan Natal dan Tahun Baru, maka itu artinya kita membenarkan apa yang mereka lakukan, yaitu penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sama halnya ketika seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang terlarang, mencuri misalnya, lalu justru kita memberikan ucapan selamat kepadanya atas perbuatan mencurinya. Tentu saja ini suatu ucapan selamat yang tidak pada tempatnya. Seorang pembunuh kita berikan ucapan selamat atas keberhasilannya membunuh seseorang. Maka ini adalah ucapan yang tidak pantas.

Keyakinan umat Islam bahwa dosa terbesar adalah dosa kesyirikan, yaitu menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika kita mengatakan selamat Natal dan Tahun Baru, berarti kita mengatakan selamat karena kalian telah menyembah selain Allah.

Apakah sekadar ucapan bisa mendatangkan murka Allah? Allah mengatakan dalam Alquran dalam surah al-Maidah ayat 72,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72).

Allah menyebutkan hanya karena sebab satu perkataan saja mereka telah divonis kafir oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa mereka? Mereka yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Isa bin Maryam. Mereka yang mempertuhankan Isa bin Maryam.

Padahal Nabi Isa alaihissalam sendiri telah mengatakan,

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72).

Maka Jamaah sekalian!

Ucapan selamat Natal dan Tahun Baru yang barangkali kita anggap enteng ternyata memberikan akibat besar. Karena berarti kita turut membenarkan perbuatan kesyirikan mereka. Padahal kesyirikan merupakan dosa terbesar dalam ajaran tauhid kita.

Termasuk di dalamnya jamaah sekalian adalah ketika kita ikut-ikut membesarkan hari raya mereka. Dengan segala bentuk kegiatan atau berpartisipasi dengan menggunakan pernak-pernik atau pakaian-pakaian yang merupakan atribut-atribut mereka. Ataupun sekadar ikut merayakan dengan meniup terompet dan semacamnya, maka ini juga berarti ikut berpartisipasi dalam perayaan yang mereka yakini menjadi bagian dari agama mereka.

Oleh karena itu, kembali kita bersyukur dan berterima kasih kepada para ulama kita yang tetap menyampaikan ajaran yang benar dan menjaga kemurnian agama Islam. Ulama kita telah mengingatkan kita bahwa memakai atribut-atribut orang di luar kita berarti ikut terlibat dalam keyakinan ibadah mereka.

Karena itu, para ulama telah menyerukan kepada umat Islam untuk tidak memakai pakaian-pakaian atau atribut-atribut Natal dan Tahun Baru. Karena itu adalah bagian dari apa yang mereka yakini sebagai ibadah mereka.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Siapa yang ingin ikut-ikutan menyerupai atau mencontoh gaya atau model dari umat lain maka berarti dia bagian dari mereka.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHOTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ ، وَحْدَهُ لَاْ شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمَاً كَثِيْرَاً .

Hadirin sekalian! Sebelum kita tutup khotbah kita, ada dua hal yang ingin kami simpulkan. Yang pertama, kita menegaskan perlunya untuk menjaga dan memurnikan agama dan akidah kita. Maka bertoleransi yang benar adalah dengan tidak mengganggu umat yang lain ketika mereka merayakan hari raya mereka. Tidak mengganggu mereka beribadah di gereja-gereja dan di tempat-tempat mereka. Kita persilahkan mereka beribadah. Tidak boleh kita melakukan keonaran dalam bentuk apapun.

Umat Islam adalah umat yang paling tahu bagaimana menghargai hak-hak orang lain. Paling tahu bagaimana menyebarkan rahmat bagi sekalian alam. Karenanya kita tidak melakukan hal-hal yang bisa mencoreng nama baik umat Islam dan agama yang suci ini.

Yang kedua, bahwa kita perlu untuk senantiasa menjaga kemurnian agama kita. Selalu kembali kepada al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tentu saja melalui perantaraan para ulama kita yang istiqomah.  Para ulama yang jujur menyampaikan agama apa adanya. Tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Karena Allah telah berfirman,

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al-Ahzab: 39).

Maka kembali kita katakan, kita mengapresiasi para ulama kita di Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tidak bosan-bosannya menyampaikan arahan dan nasihat-nasihat. Mengajarkan kepada kita tentang bagaimana beragama yang baik. Di samping tetap mengajarkan bagaimana menghormati keyakinan orang lain.

Karena itu, mari kita berterima kasih kepada mereka, para ulama kita seraya kita tetap bersyukur kepada Allah. Dan mari kita jaga kehormatan mereka, kita sosialisasikan fatwa-fatwa mereka karena ini adalah bagian dari kewajiban kita untuk menyampaikan apa yang kita ketahui dari ajaran Islam yang telah diajarkan oleh para ulama kita.

Jamaah sekalian!

Hari Jumat adalah hari yang mulia. Hari untuk kita memperbanyak ibadah kepada Allah. Di hari ini ada ada waktu yang paling tepat untuk kita berdoa kepada Allah. Apapun yang kita panjatkan kepada Allah pasti diterima oleh Allah. Doakan diri kita, masyarakat kita, negeri kita, semoga Allah menjaga dari hal-hal yang tidak baik.

Jangan lupa untuk mendoakan saudara-saudara kita di Uyghur yang masih saja ditindas. Dan saudara-saudara kita di bumi Syam yang ditindas oleh orang-orang zalim. Jangan lupa untuk kita doakan mereka di hari yang mulia ini.

Dan hari ini juga kita diperintahkan untuk memperbanyak shalawat dan salam kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ.

اللَّهُمَّ اَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ  سُوْرِيَا وَفِي أويغور يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَاهُمْ وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ وَمَرْضَاهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ تَفَبَّلْ مِنْ هُمُ الشُّهَدَاء. اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَأَعْدَائِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَائِنَا وَأَعْدَاءِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ وَرُوْسِيَا وَبِالشَّيْعَةِ الرَّافِضَةِ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ يَا عَزِيْزُ يَا قَهَّارُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَة. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. اللَّهُمَّ اَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُنَافِقِيْنَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وسلام على المرسلين وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

************

Jumat, 17 Rabiul Awwal 1438 H/16 Desember 2016 M

Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
(Ditranskrip oleh Humas Wahdah)

Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan