Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat beruntung. Di Jurnal yang diterbitkan di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia , ia pernah meminta agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan proses perlunya wacana “Desakralisasi al-Quran”.

Meskipun sudah sulit membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi saya tetap terbelalak dan sulit percaya, ada tulisan yang mendukung terbuka seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan. Tulisan Sumanto itu berjudul ”Agama, Seks, dan Moral ”, yang diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (diterbitkan pertama Oktober 2009). Kita perlu ”berterimakasih” kepada Sumanto yang jujur ​​dan terbuka melontarkan ide liberal dan progresif, sehingga lebih mudah dipahami. Sebab, selama ini banyak yang mengemas ide “Islam progresif” dan “Islam liberal” dengan berbagai kemasan indah dan menawan, sehingga berhasil menarik banyak orang.

Untuk lebih jelas menyimak persepsi ”Islam Progresif” tentang seks bebas ini, ada yang bisa kita kutip agak panjang artikel dari pengarang dalam buku ini memperkenalkan diri sebagai kandidat doktor bidang antropologi politik dan agama di Universitas Boston. Kutipan ini ada di halaman 182-184:

” Apa yang diwartakan oleh agama (Islam, Kristen dan lainnya) hanya satu sisi saja dari sekian banyak persepsi tentang seks itu atau katakanlah seks di antara yang lain . Sebaliknya jika kita kaji lebih jauh, ajaran Kristen atau Islam yang begitu ”konservatif” terhadap teks tafsir sebetulnya hanya merupakan reaksi atas peradaban Yunani (Hellenisme) yang memandang seks bebas wajar dan alami. Kita tahu peradaban Yunani telah merasuk ke wilayah Eropa (lewat Romawi) dan juga Timur Tengah di Abad Oleh karena itu tidak selayaknya jika persepsi agama ini kemudian diambil sebagai parameter untuk disetujui, dihindari dan bahkan dihakimi pandangan di luar agama tentang seks.

Apa yang kita tonton dewasa ini adalah pemandangan keangkuhan oleh kaum beragama terhadap fenomena seksualitas yang vulgar sebagai haram, maksiat, tidak bermoral dan seterusnya. Sementara moralitas atau halal-haram menerima sesuatu yang diberikan dari Tuhan, disetujui hasil atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” ( tangan tak kasat mata , istilah Adam Smith) kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun ikatan agama. Teks-teks keagamaan dalam banyak hal juga merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama / pendeta dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan keamanan.

Saya rasa Tuhan tidak memiliki urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksi, masalah agama atau keyakinan saja yang sangat mendasar, Tuhan – seperti dijelaskan secara eksplisit dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah meyakinkan saja, Tuhan tidak perduli, jika ada masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutus sebuah praktik ”seks bebas” atau praktik seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti diktum keagamaan, maka sebenarnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.

Demikian juga jika kita masih meributkan soal seks – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita bersamaan rapuhnya fondasi spiritual kita. Jika demikian, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman seksualitas masyarakat. Ingatlah itu adalah dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. Paul Evdokimov dalam Perjuangan dengan Tuhan telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik:Dosa tidak pernah datang dari bawah; dari daging, tetapi dari atas, dari roh. Kejatuhan pertama terjadi di dunia malaikat roh murni … ”

Lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosial-tanggung bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks yang diberikan “berdosa” dilakukan dengan pemaksaan dan terlukai (baik fisik atau non fisik) atas pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya membahas tentang hubungan seks di rumah tangga tetapi juga di rumah tangga itu sendiri. “Memperkosa” (baik di rumah tangga yang sudah diikat oleh akad-nikah juga bukan) jika dia mau melakukan hubungan seks dengan pihak lain yang tertekan, tertindas (mungkin diintimidasi) sehingga merasa tidak nyaman . Inilah tafsir pemerkosaan. Dalam konteks ini, saya menolak teks keislaman (apapun bentuknya) yang berisi kutukan dan laknat Tuhan untuk perempuan / istri jika tidak mau melayani birahi seks suami. Sungguh teks demikian bukan hanya bias gender tetapi sangat tidak bertentangan, dan karena itu bertentangan dengan semangat keislaman dan nilai-nilai Islam universal.

Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokrasi”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur, dengan pengiring wanita, memanggil gadis dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang meminta gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis mengeluarkan “menjual” otaknya untuk mendapatkan kehormatan, atau seorang pengarang atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan panggul untuk mendapatkan uang, atau menjemput atau pengrajin yang “menjual ”Tangan untuk menghidupi keluarga,

Ada sebuah kisah dalam sejarah keislaman yang layak kita jadikan bahan renungan: ada pelacur kawakan yang sudah letih mencari pengampunan kemudian menyusuri padang pasir yang tandus. Ia hanya berbekal sebotol air dan sepotong roti. Tapi di tengah perjalanan ia melihat seekor anjing yang sedang bepergian dan kehausan. Karena perasaan iba pada anjing tadi, si pelacur kemudian memberikan air dan roti yang diminta. Berita ini sampai kepada Nabi Muhammad yang mulia. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa si pelacur tadi kelak akan masuk surga!

Kisah ini menunjukkan bahwa Islam lebih mementingkan rasa sosial-tanggung jawab urusan perkelaminan… ”(***)

 

Demikianlah pendapat “Islam-progresif” dalam soal kebebasan seksual yang diambil Sumanto. Memang, sekarang, istilah “Islam progresif” sedang digandrungi kelas Perguruan Tinggi Islam. Pada Juli 2009, di UIN Jakarta diadakan Konferensi ‘Perdebatan Islam Progresif: Perspektif Global’. Tentu banyak tafsir dan penjelasan tentang makna “Islam Progresif”. Salah satunya adalah versi Sumanto.

Islam progresif biasanya diluncurkan sebagai “Islam yang maju”, sesuai dengan asal kata dalam bahasa Latin “progredior”. Mendukung banyak pemikir yang progresif, mereka menganggap Islam sebagai “ agama yang berkembang”, Yaitu agama yang selalu berkembang zaman. Dalam perspektif ini, Islam juga dipandang sebagai agama budaya. Karena dianggap, tidak mengherankan, jika mereka memandang tidak ada satu agama Islam yang tetap. Semua harus dipertanyakan dengan realitas zaman. Agama ditundukkan oleh akal. Salah satu yang banyak dijadikan landasan pijakan adalah aspek “kemaslahatan” dan sifat Islam sebagai “rahmatan lil-alamin”. Dengan alasan inilah, berbagai kemunkaran dan kejahatan bisa disahkan. Tentang keabsahan praktik evolusiual, misalnya, ditulis dalam buku ini:

“ Agama, selain Islam, yang mengusung jargon“ rahmatan lil alamin ”- rahmat bagi sekalian alam ini harus memberi ruang bagi kaum gay, lesbi, atau waria untuk diposisikan sama dengan lainnya. Tuhan, saya yakin tidak hanya milik laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga “mereka” yang terpinggirkan di lorong-lorong sepi budaya. ”(Hal. 176).

 

Karena berpijak pada realiatas dan sejarah sebagai penentu kebenaran – juga syahwat atau hawa nafsu – maka teks-teks wahyu, sunnah Rasulullah saw, dan tafsir wahyu yang otoritatif dikesampingkan. Cara berpikir seperti ini juga sangat paradoks. Dengan berdalih sikap kritis terhadap tafsir al-Quran dari para ulama yang otoritatif, banyak kaum yang mempercayai liberal dan progresif pada akhirnya tidak mampu mendukung kritis sama sekali pada saat dipelajari ilmuwan Barat. Mereka sangat suka mengutip non-Muslim. Mengutip dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh yang penuh noda, dikutiplah pendapat Paul Evdokimov dengan penuh hormat dan ta’jub, itulah si Evdokimov “telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik.”

Kita sudah sering membuktikan, sikap sok kritis yang diusung oleh kaum yang menamakan diri liberal dan progresif ini hanya kritis terhadap pendapat para ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Allah telah mengingatkan dalam al-Quran bahwa, jika manusia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka akan ditutuplah hati, telinga dan jubah untuk menerima kebenaran. (QS 45:23). Orang bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan bisa merusak.

Karena mendesak, untuk memperbaiki agar ilmu tidak merusak, para ulama selalu mementingkan masalah adab dalam urusan keilmuan. Dalam kitabnya yang berjudul “Alim wal- Muta’allim , pendiri NU, Kyai Haji Hasyim Asy’ari mengutip kata Ibn al-Mubarak yang menyatakan: ” Nahnu iaa qalilin minal adabi ahwaja minnaa ilaa katsirin mina ‘ilmi. ” (Kami juga meminta adab, sedikit, dari pengetahuan ilmu).

Demikian pendapat KH Hasyim Asy’ari. Orang yang beradab tahu menempatkan dirinya di Allah, Rasulullah melihat, para ulama pewaris Nabi, dan juga tahu bagaimana menemukan ilmu. Karena merupakan, al-Quran menekankan pentingnya ada sumber informasi antar manusia. Jika sumber informasi berasal dari orang fasiq (orang jahat, suka kejahatan besar), maka jangan percaya begitu saja ucapannya. Ada yang tidak disetujui yang harus disetujui dalam penilaian sumber informasi yang digembar-gemborkan. (QS 49: 6). Seorang yang tidak beradab (biadab) dalam keilmuan sudah tidak dapat lagi membedakan mana sumber ilmu yang shahih dan mana yang bathil.

Soal zina, misalnya. Sebagai Muslim, tentu kita yakin benar zina itu tindakan haram dan biadab. Dengan keyakinan yang sangat meyakinkan dalam ayat-ayat al-Quran, banyak hadits yang dilihat Rasulullah, pendapat para sahabat Nabi, dan para ulama Islam terkemuka. Dalam soal zina ini, kita lebih mempercayai pendapat para ulama tentang pendapat Karl Marx, Paul Evdokimov, Bill Clinton, atau Ernest Hemingway. Sebagai manusia beradab kita bisa menentukan, mana sumber informasi yang layak dipakai dan mana yang tidak. Sebab, Allah sendiri membedakan jenis-jenis manusia. Orang mukmin disebut “ khairul barriyyah ” dan orang kafir disebut “ syarrul barriyyah”(Sejelek-jeleknya kerajinan) (QS 98). Meskipun sering mengkampanyekan “kesetaraan semua pemeluk agama”, tetapi faktanya, kaum yang menamakan diri mereka sebagai pengikut “Islam liberal”, “Islam pluralis” atau “Islam progresif” juga tetap menggunakan identitas Islam. Tidak ada yang mau menyebut dirinya “kafir-liberal” atau “kafir-progresif”.

Sebenarnya, jika kita menelaah kebebasan, dukungan terhadap praktik seks, bebaskan hal yang aneh. Ini adalah logis dari sebuah konsep dekonstruksi aqidah dan dekonstruksi kotab suci. Jika ada yang tidak percaya pada Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad melihat itu adalah utusannya, kemudian dia pun tidak percaya kepada otoritas ulama-ulama Islam yang mu’tabarah – seperti Imam al-Syafii – lalu yang dia jadikan sebagai standar pengukur kebenaran adalah akalnya sendiri atau hawa nafsunya sendiri. Kita paham, masyarakat Barat saat ini tidak memandang praktik seks bebas sebagai tempat konflik. Homoseksual juga dianggap sebagai hal yang normal. Sebaliknya, bagi mereka, praktik poligami dikutuk.

Nilai-nilai masyarakat Barat yang sekuler – tidak berpijak pada ajaran agama – inilah sejatinya dianut juga oleh kaum yang mengaku liberal atau progresif ini. Bagi mereka, seperti tergambar dalam pertimbangan Sumanto ini, berhubungan seks dengan membahas urusan syahwat secara biologis, disetujui layaknya praktik seksi para babi, kambing, monyet, ayam, dan sesuai. Seks dianggap seperti soal buang hajat besar atau kecil, kapan saja mereka mau, maka mereka akan salurkan begitu saja. Yang penting ada kerelaan; suka sama suka. Tapi, bagi kita yang Muslim, dan juga pemeluk agama lain, jelas soal seksi sebagai hal yang sakral. Karena dihormati, agama-agama yang hidup di Indonesia, sangat terhormat lembaga perkawinan.

Dalam pandangan Islam, jelas ada perbedaan nilai dan posisi di antara penis dengan pipi, sedangkan perbedaan sama-sama daging. Bagi seorang Muslim, yang menjadikan “penis” dan “pipi” berbeda adalah nilai-nilai yang diminta oleh Islam. Sebelum zaman Islam, banyak suku bangsa masih memandang sama kedudukan daging wanita dengan daging kambing, sehingga mereka menjadikan ritual korban dengan menyembelih wanita dan kemudian meminum darahnya. Seorang Muslim memandang penting perbedaan antara “daging manusia” dengan “daging ayam”. Daging ayam halal hukumnya untuk dimakan. Jenazah manusia harus disetujui. Jangankan dimakan dagingnya, jenazah manusia harus dihargai dan diperlakukan dengan baik. Jika kaum liberal melakukan dekonstruksi dalam aqidah dan nilai-nilai moral, maka akibatnya, pornografi atau seks bebas pun didukung. Sebab, dalam pikiran liberal, tidak ada aturan yang pasti, mana bagian tubuh yang bisa dibuka dan mana yang harus ditutup. Yang menjadi standar baik buruk adalah “kepantasan umum”. Jika memang bertelanjang atau beradegan porno sesuai dengan skenario yang dilakukan dan “pada tempatnya”, maka itu dianggap sebagai hal yang baik.

Kepastian akan kebenaran dan nilai yang membedakan antara Muslim dengan kaum liberal. Orang Muslim yakin dengan kebenaran imannya, dan yakin ada kepastian dalam soal halal dan haram. Hukum tentang haramnya babi sudah jelas dan tetap haram sampai kiamat. Begitu juga dengan haramnya zina, dan haramnya perkawinan sesama jenis (homo dan lesbi). Tapi, dalam perspektif liberal dan progresif, seperti dipaparkan oleh buku ini, larangan agama terhadap perkawinan sesama jenis pun dianggapnya sudah tidak berlaku. Tentang perlunya legalisasi perkawinan sesama jenis, ditulis dalam buku ini:

” Dan harap diingat, konsep perkawinan dalam ikatan” sakral ”bukan melulu untuk mereproduksi hubungan juga untuk mewujudkan keluarga sakinah (ketenteraman / kebahagiaan). Maka, dalam bingkai untuk mewujudkan keluarga sakinah ini gay atau lesbian harus menikahi sesama jenis. Justru melapetaka yang terjadi jika gay-lesbian ditolak kawin dengan jenis lain. Untuk mencapai hasil yang baik, maka paling tidak ada dua hal yang harus dilewati: pembongkaran di tingkat wacana keagamaan, yaitu teks-teks skriptural (dalam konteks Islam: teks tafsir dan fiqih) yang masih dapat diperbedakan dan kemudian pembongkaran di tingkat struktur normatif masyarakat yang masih bias dalam pola hidup relasi antar-manusia. ”(halaman 175).

Berulangkali kita menyerukan kaum liberal, progresif dan sejenisnya, agar mengimbangi sikap kritis dengan adab. Ada adab untuk al-Quran, adab untuk para nabi, adab untuk ulama pewaris Nabi. Sayangnya, buku yang mendukung pendapat tentang dukungan terhadap seks bebas ini – ditolak dipuji-puji dan didukung oleh orang-orang yang berkaitan dengan dukungan kebebasan dan mendidik masyarakat dengan akhlak yang mulia. Di sampul buku bagian belakang, dicantumkan jumlah pujian. Djohan Effendi, pendiri Konferensi Indonesia tentang Agama dan Perdamaian (ICRP), menyebut buku ini:“Sangat inspiratif untuk melakukan refleksi atas perjalanan umat Islam selama ini. Pendapatan dan sikap kritis yang ia lakukan merupakan kontribusi yang sangat berarti untuk mendukung pemikiran progresif di kalangan generasi baru umat Islam yang menginginkan kemajuan bersama dengan orang dan umat lain. ”

Di tengah upaya kita mendidik anak-anak kita dengan akhlak mulia dan menjauh kan mereka dari praktik pergaulan bebas, kita tentu saja berduka dengan sikap sebagian besar yang mengusung jargon “Islam progresif” dan memberikan bantuan terhadap praktik seks bebas ini. Bagi kita, ini suatu ujian iman. Kita tidak bertanggung jawab atas amal mereka. Mudah-diminta, dengan bimbingan dan lindungan Allah SWT, kita selamat tinggal dalam meniti hidup dan unduh hidup kita dengan husnul khatimah.

************

Sumber: INSISTS

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)