89 tahun bukan usia yang singkat, termasuk bagi organisasi besar seperti Nadhlatul Ulama (NU). NU telah menorehkan jejak yang terkait dengan perkembangan Islam di tanah air. Warisan Terbesar di Dunia Air Warisan Terbesar Bagi Dunia Islam. Mungkin bisa menghasilkan ribuan atau jutaan berhasil di negeri ini. Pendidikan yang diwariskan para generasi awal NU telah menjadi mata rantai yang tetap menghubungkan generasi kita saat ini dengan para ulama-ulama maju.

Ulama-ulama nusantara telah menancapkan prestasinya sebagai ulama yang tak disetujui oleh sekat-sekat wilayah. Mereka telah menjadi bagian dari pusaran ilmu di dunia Islam. Mekkah sebagai pusat pendidikan Islam mengenal nama-nama seperti Al Raniri (wafat 1608), Syekh Yusuf Al Maqassari (1627-1699), Abdurrauf Al Sinkili (1615-1693) yang menuntut ilmu dengan guru-guru mereka di sana. Bangsa kita menjadi pengikut pusaran ilmu di tanah suci. Para penuntut ilmu dari Nusantara-melayu ini menuntut ilmu di tanah suci, kemudian membentuk lingkaran komunitas jawi (ashab al-jawiyun). Mereka yang telah kembali dari tanah suci kemudian mengubah ilmu tersebut ke nusantara. Mengalirkan arus islamisasi ke segenap penjuru nusantara. Pelita ilmu yang mereka bawa bersatu dengan kekuasaan penguasa (sultan dan raja) di tanah air. [1]

Ketika berubah, kolonialisme mulai mencengkeram kekuasaan para raja dan sultan, ilmu cahaya ulama tidak lantas meredup. Mereka mulai membentuk wilayahnya sendiri. Lepas dari jeratan penguasa yang memilih menghamba pada para penjajah. Ulama menjauh dari pusat kendali. Para ulama menjadi obor untuk membimbing masyarakat dengan mendirikan pusat-pusat pendidikan keagamaan. Melalui pesantren, dayah dan surau-surau di nusantara, para ulama terus membimbing masyarakat dengan ilmu agama. [2]

Islam di nusantara tidak putus asa dengan umat diseluruh dunia. Ibadah haji menjadi pengikat umat Islam dan ulama di nusantara dengan pusat pendidikan Islam di Timur Tengah. Para ulama sadar, Haji bukan ibadah, namun juga kesempatan untuk menuntut ilmu (thalab al-ilm). Jaringan komunitas jawi di Timur Tengah khususnya Mekkah tetap mengalirkan ilmu agama ke nusantara. Bahkan ulama-ulama Jawi menjadi pengajar yang terhormat di Mekkah. Sebutlah Nawawi Al Bantani (1813-1897). Ia menjadi salah satu pusat transmisi Islam ke Hindia Belanda. Karya-karyanya melintas batas hingga ke nusantara. Kitab-kitabnya menjadi rujukan di pesantren. Nama lain adalah Mahfudz Termas (1868-1919). Ia banyak menghabiskan belajar di mekkah. Baik Nawawi Al Bantani dan Mahfudz Termas menjadi bagian dari pesantren di Jawa. [3] Dari tangan mereka lah lah lahir berderet ulama di Jawa, termasuk KH Hasyim Asy’ari.

Lahir dengan nama Muhammad Hasyim, 14 Februari 1871, KH Hasyim Asy’ari merupakan sosok yang tak bisa dilepaskan dari pesantren .. Ayahnya, Kiyai Asy’ari mendidiknya langsung. Kemudian ia tumbuh menjadi anak yang sholeh dan cerdas. Menjadi penuntut ilmu yang tekun dan belajar dari berbagai ulama di Jawa, ikut, di Pesantren Sono, Sewulan (Sidoarjo), Langitan (Tuban), dan Bangkalan (Madura). Bahkan setelah ia menikah di usia 21 tahun, ia memboyong diundang ke tanah suci untuk berhaji meminta ilmu. Luasnya lautan tak mampu membendung hasrat KH Hasyim Asy’ari untuk menuntut ilmu. Di sana ia belajar untuk Syekh Nawawi Al Bantani, Sayyid Abbas Al Maliki Al Hasany (mengkaji ilmu hadits), Syekh Mahfudz Termas (mengkaji fiqih dan adab), bahkan ia berguru untuk Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi,[4]

Sang Kiyai kemudian mengatur persiapan warisan para ulama dengan mengajar di Tebuireng, Jombang. Berdiri pada 1899, dimulai di sana adalah daerah yang tidak aman. Penuh dengan tempat plesir, rampok dan penjual minuman keras. Hal itu tidak menyangkal langkahnya, membantah menyiarkan agama Islam yang berarti memperbaiki manusia. [5] Lambat laut Tebuireng menjadi pusat pendidikan islam yang disegani. Hadratussyaikh juga menjadi ulama yang disegani di tanah air. Ia sangat perhatian dengan pendidikan umat, karena ia banyak menulis buku, menantang Ziyadatul Taliqat, Ar, Risalatu Di Tauhidiyyah dan termasuk Kosa kata Alim Wa Al-Muta’alim sebuah kitab yang berisi adab antara pengajar (ulama) dan yang diajar. Baginya, para ulama adalah,

“… yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan ketaqwaan kepada Allah, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan diri (taqarrub) ke-Nya.” [6]

Ia juga mengingatkan para ulama untuk tidak menggunakan ilmunya demi semata-mata mencari kesenangan-kesenangan duniawi, seperti mencari kedudukan, kekayaan, persaingan, pengaruh, kepemimpinan dan lain sebagainya. Dalam melandaskan pendapatnya ini, ia mengutip hadist statistik Imam Tirmidzi, [7]

“Barang siapa mencari ilmu demi menjatuhkan ulama (lain) dan berdebat dengan fuqaha (orang-orang ahli agama), atau demi mendapatkan penglihatan di mata manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam perburuan.”

Ia mengingatkan para alim (ulama) untuk senantiasa takut kepada murka / siksa Allah dalam setiap gerak, diam, perkataan dan perbuatan. Menurutnya,

“Hal ini sangat penting mengingat mengingat alim pada hakekatnya adalah orang yang dihargai dan diberi amanat oleh Allah berisi ilmu pengetahuan dan hikmah. Maka meninggalkannya berarti pengkhianatan atas amanat yang telah dipercayakan pulang itu. ” [8]

Seorang pengiring bagi KH Hasyim Asy’ari selalu dituntut untuk melakukan hal-hal yang terbaik dan melakukan mengerjakannya dengan sempurna.

“Ini penting, mengingat seorang alim adalah figur yang dibuat panutan dan rujukan oleh umatnya dalam masalah-masalah hukum (syariat). Ia adalah hujjatullah (juru bicara Allah) atas orang-orang awam yang setiap perkataan dan petunjuknya akan diminta oleh mereka. ” [9]

Perhatian besar KH Hasyim Asy’ari dalam bidang pendidikan, selalu ia ingatkan baik bagi para pendidik maupun yang dididik untuk senantiasa mencari ridho Allah, mengamalkan ilmu mencari serta kembali (melestarikan) syariat Islam.

Perjuangan Hadratusyaikh dalam mendidik umat diteruskan pula oleh saudara KH Wahid Hasyim. Lahir 1 Juni 1914 di Jombang, Abdul Wahid Hasyim merupakan putra dari KH Hasyim Asy’ari dengan salah seorang yang diundang, yaitu Nafiqah. Sejak kecil Wahid Hasyim sudah menjadi anak cerdas. Diajar oleh percakapan sendiri, pada usia 7 tahun ia mengkaji kitab Fathul Qarib, Minhajul Qawim dan lainnya. Usia 13 tahun ia belajar di Pondok Siwalan Panji, Sidoarjo. Saat usia 15 tahun ia biasa membaca media massa seperti Penyebar Semangat , Daulat Rakyat dan Panji Pustaka . Ia bahkan sudah berbahasa Arab, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1932, mengikuti jejak persetujuan, Wahid Hasyim belajar selama membahas di Mekkah. [10]

Sepulang dari Mekkah mulai aktif di Tebuireng. Angin perubahan zaman menghembuskan modernisasi yang begitu kuat, mengubah perubahan di Pondok Pesantren Tebuireng untuk menjawab tantangan zaman. Ia mendirikan madrasah Nizamiyah yang memasukkan pelajaran agama dan pengetahuan umum. Belanda. Bahasa Inggris. Organisasi pelajar mulai dikenalkan. Terbentuklah Ikatan Pelajar-Pelajar islam (IKPI). IKPI kemudian menciptakan taman bacaan yang merupakan koleksi beragam bacaan dari bermacam bahasa.

Kiprahnya dalam Nahdlatul Ulama, terlihat dengan aktifnya ia menulis, baik di Suara NU yang beraksara Arab pegon juga Berita NU yang berhuruf latin. Ia kemudian menerbitkan Suluh NU yang dipimpinnya sendiri. Suluh NU yang membahas ‘perkara-perkara kemadrasahan’ memang bermuatan ide-ide baru untuk dunia pendidikan. Kesempatan ini terbuka luas berkat kedudukannya di bagian Ma’arif NU yang mengatur pendidikan dan implementasi dalam NU. [11]

Seperti yang diminta, KH Wahid Hasyim memang memiliki perhatian yang besar dalam urusan pendidikan bagi umat Islam. Membahas modernisme yang begitu hebat melanda umat Islam, berusaha untuk menjawab tantangan-tangan yang ada. Ketika berpidato dalam penyerahan Perguruan Tinggi Agama Islam di Jogjakarta tahun 1951, Ia mengingatkan,

“Tiap-tiap muslim diajar oleh Al Quran berlaku tenang di dalam lawan lawan-lawannya dalam perdebatan dan dalil. Sampai pun yang sudah diliwati batas kesopanan, harus tetap diselesaikan dengan tenang, agar tidak rusak. [12]

Dalam kesempatan yang sama ia juga mengingatkan hakekat pengetahuan dalam Islam, menurutnya Ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri sendiri.

“Ilmu pengetahuan dan takwa dalam pandangan Islam tiada mungkin dijauhkan, dan harus sama-sama cukup lengkap. Lebih Islam melihat lebih dari condong pada takwa ke ilmu. Ilmu sebagai buah otak, haruslah diimbangi dengan takwa sebagai isi hati. “ [13]

Baginya ilmu pengetahuan juga tidak boleh disetujui tentang politik yang ditunggangi hawa nafsu.

“Pada saat kompilasi ummat Islam dulu menundukkan politik pada ilmu pengetahuan, meraih takwa, maka kemajuan kecerdasan otak diimbangi oleh suburnya perkembangan kesejahteraan. Akan tetapi syarat hidup kedua, takwa, mulai kendor. Dan mulai pula hawa nafsu menang ilmu pengetahuan, karena pergolakan politik, ditentang keinginan akan menang yang bersarang pada hati beberapa orang pemuka. Untuk mencapai kemenangan itu, orang yang lalu menggunakan ilmu guna mencapai keinginan atau hawa nafsu. ” [14]

Pada akhirnya, visi pendidikan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim adalah seirama. Mereka yang menginginkan pendidikan yang mendapat tantangan dari Allah. Hal itu terlihat dalam pidato yang sama. KH Wahid Hasyimingatkan,

“Dalam hubungan ini, sudahlah di tempat, dapatkan di sini dikemukakan harapan rakyat, agar bisa di Perguruan Tinggi ini, dapatlah kelak menghasilkan cerdik pandai dan ulama yang memiliki takwa, perasaan takut kepada Allah SWT dan dengan kirim bantuan pertanggungjawaban saat hadiratorkan; lebih besar dari segala pertanggungjawaban lainnya… ” [15]

Inilah tujuan dari pendidikan itu. Warisan yang mereka pilih dari pendidikan sambung menyambung dengan ulama-ulama kita, tidak lain untuk membuat kita semakin takut dan semakin dekat kepada Allah. Semoga kita mampu mengemban dan mewarisinya pada anak cucu kita nanti.

Catatan Kaki:

[1] Burhanudin, Jajat (2012). Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia. Jakarta: Mizan

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Asy’ari, KH. M. Hasyim (2007). Etika Pendidikan Islam, Petuah KH. M. Hasyim Asy’ari untuk para guru (kyai) dan murid (santri) . Yogyakarta: Tiara Wacana

[5] Aboebakar, H (2011). Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim . Jakarta: Mizan.

[6] Asy’ari, KH. M. Hasyim, Etika.

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Aboebakar, H, Sejarah hidup.

[11] Ibid

[12] Hasyim, KH. A. Wahid (1985). Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri dalam Mengapa Memilih NU? Jakarta: Inti Sarana Aksara.

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid

**********

Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB))

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here