Berawal dari tumbangnya Dinasti Umayyah pada 750 M, berdirilah kekhalifahan baru dari Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah disingkirkan lewat revolusi yang dipimpin Bani Abbas yang masih kerabat Bani Umayyah dan perjuangan dari paman Nabi, Abbas.

Bani Abbas meraih kekhalifahan baru yang bertahan selama 500 tahun. Ia pun memindahkan ibu kota kekhalifahan ke Baghdad, Irak. Bagdad pun dengan cepat tumbuh menjadi pusat perdagangan, budaya, dan pusat aktivitas intelektual. Bagdad di masa Abbasiyah merupakan salah satu kota berpenduduk terbanyak dan paling makmur di dunia.

Pada 836, Dinasti Abbasiyah memindahkan ibu kota mereka ke Samarra. Di sana pun, mereka membangun bangunan-megah yang menjadi simbol kejayaan dan kekuasaan. Ada masjid juga kompleks istana lengkap dengan taman, kolam buatan, barak, dan jalur balapan.

Kekhalifahan Abbasiyah berakhir pada 1258 kompilasi orang-orang Mongol menyerbu Baghdad dan mengeksekusi khalifah Abbasiyah terakhir, sebuah tindakan yang menyebabkan dunia Islam terguncang. Kali ini, kami ajak Anda untuk membalas kembali kejayaan dan kemegahan Dinasti Abbasiyah melalui tiga peninggalannya.

Istana Ukhaidir

Bagdad adalah kota yang dibangun dalam bentuk bundar. Karena itu, ia sering disebut sebagai kota bundar. Pada masa itu, pembangunan kota bundar merupakan inovasi baru yang terbilang menantang.

Saat ini, hanya beberapa saja peninggalan di Baghdad yang dapat menunjukkan kota ini yang sebelumnya merupakan kota bundar. Salah satu dari yang sedikit itu adalah sebuah istana berbenteng yang dikenal sebagai Istana Ukhaidir.

Dibangun pada 775 di dekat Kufa, sebuah wilayah yang berjarak 200 km sebelah selatan Baghdad, istana ini sedikit memberikan variasi mengenai bentuk kota melingkar. Kompleks luas ini menyelesaikan tembok setinggi 19 meter dan berbentuk persegi agak memanjang, dibangun 175 mx 169 m. Diisi, ada banyak pekarangan, aula, sebuah masjid, dan permandian.

Mengisahkan bangunan dengan tembok tinggi menyerupai benteng merupakan salah satu ciri khas Abbasiyah. Dengan tembok tinggi itu, mereka berharap bisa lebih aman menghadiri kegiatan, termasuk upacara-upacara megah di dalam istana.

Makam Zumurrud Khatun

Islam sejatinya tidak mengajarkan manusia membangun makam yang mewah. Tapi, sejak abad ke-10, banyak penguasa Muslim yang meninggalkan warisan dan kejayaan mereka dalam bentuk makam dan kompleks pemakaman yang megah.

Di banyak tempat, kumpulan bangunan indah dan spektakuler disusun untuk mengenang mereka yang telah berpulang. Di Agra, India, misalnya, termasuk Taj Mahal, mausoleum yang luar biasa cantik. Begitu pula di Baghdad. Di ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah ini pernah dibangun makam Zumurrud Khatun yang tak kalah indah. Dibangun sekitar 1193, kompleks makam ini tersohor karena kubah muqarnas-nya yang tinggi dan berbentuk kerucut.

Berlokasi di pusat kota Baghdad, bangunan ini sangat dekat dengan Madrasah Mustansiriya yang tersohor itu. Sesuai dengan namanya, bangunan ini didirikan oleh Zumurrud Khatun, ibunda Khalifah An-Nashir Lidinillah. Ia adalah khalifah Bani Abbasiyah ke-34 (1180-1225).

Kompleks makam ini pernah beberapa kali dipugar, antara lain, pada 1590 oleh negarawan Turki Utsmani, Cigalazade Sinan Pasha, dan 1969 oleh Badan Wakaf Irak.

Masjid Agung Samarra

Pada abad ke-9, sepanjang kian memudarnya kekuasaan Khalifah Abbasiyah di Baghdad, Khalifah al-Mu’tashim memindahkan ibu kota kekhalifahan ke Samarra, 125 km utara Baghdad. Di kota ini, mereka membentuk kota besar yang membentang 50 km di sepanjang Sungai Tigris dan meliputi daerah seluas 150 km persegi. Di kota baru ini, terdapat banyak istana megah, jalan raya, barak besar, taman rindang, juga masjid raya.

Masjid itu adalah Masjid Agung Samarra yang merupakan masjid terbesar di dunia. Masjid yang terkenal dengan menara berbentuk spiral ini dibangun pada 848-852 oleh putra sekaligus pewaris al-Mu’tasim, al-Mutawakkil. Berukuran 239 mx 156 m, masjid ini dilindungi oleh tembok-tembok tinggi yang disokong oleh 44 menara semimelingkar. Luas bangunan berdiri di dalam wilayah berpagar luas 444 mx 376 m.

Berabad-abad berlalu, hanya sedikit yang tersisa dari bagian dalam masjid ini kecuali menara spiral yang dikenal sebagai al-Malwiya. Menara melingkar ini berdiri di atas landasan persegi dan menjulang setinggi 55 m di atas permukaan tanah. Disediakan tangga spiral memutar berlawanan arah jarum jam di sekitar bagian luar menara sampai ke paviliun di puncak. Bentuk menara yang sangat unik ini mengundang terilhami oleh ziggurat, menara kuil kuno Mesopotamia.

**********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here