“Senantiasa ada segolongan dari ummatku tampil menegakkan kebenaran, tidak merasa rugi dengan orang yang menghinakan mereka sampai datang hari Kiamat dan mereka tetap teguh dalam keadaan demikian.” (HR.Muslim)

Fenomena keberagamaan dizaman ini patut menjadi perhatian, bahkan boleh dikatakan  di era disrupsi  sekarang  khususnya di media sosial  soal-soal keagamaan menjadi ruang yang paling ‘panas’ diperbincangkan. Seseorang atau kelompok  dapat bebas berbicara dan berpendapat tentang apa saja. Satu hal yang tidak luput dari pembahasan media maya adalah tentang ekspresi keberagamaan. Begitu banyak kita saksikan   realitas perbedaan dari cara pandang, perspektif dan sikap dalam beragama yang nyaris meluapkan emosi dan melupakan nilai-nilai kesantunan, kesopanan serta tidak menjunjung tinggi adab dan akhlak. Mencengangkan justru, sebab  pelakunya demikian  buas menebas  hati setiap insan tanpa memandang  dengan diksi dan narasi menyerang berdalil atas nama dakwah dan menjungtinggi syariat dan manhaj yang haq (benar)  dan meluruskan yang batil, akan tetapi betapa banyak hati yang terluka karena lisannya.

Bukankah mereka disebut sebagai  pewaris para nabi, para pengikut sunnah yang mengilmui kitab-kitab ulama terdahulu? Lalu mengapa mereka begitu lantang menindas  dengan kata-kata yang pedas dan keras?  Begitukah paradigma  Ahlusunnah yang dibawa oleh sang teladan mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan ditegakkan oleh generasi setelahnya salafus shalih? Saya yakin sekali jawabannya tentu tidak!

Maka pada tulisan ini ,Saya ingin mencoba mengurai secara singkat siapakah yang digelari sebagai ahlusunnah wal jamaah? Didalam buku Intisari Aqidah Ahlusunnah Waljamaah karya Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari, penerbit Pustaka Imam Syafi’I di halaman 58 dijelaskan sebagai kesimpulan pembahasan tentang siapakah Ahlu Sunnah wal Jama’ah? Mereka adalah yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad, para Sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka, baik dalam hal aqidah, perkataan, maupun perbuatan, juga mereka yang istiqomah (konsisten) dalam ber-ittiba (mengikuti sunnah Nabi) dan menjauhi perbuatan bid’ah. Mereka itulah golongan yang tetap menang dan senantiasa ditolong oleh Allah sampai hari Kiamat.

Kemudian ,masih di buku yang sama dihalaman berbeda, penulis menjelaskan tentang karakteristik yang melekat pada manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah. Diantara karakternya adalah mereka Ahlusunnah Wal Jamaah mempunyai sikap wasathiyyah (pertengahan) tidak berlebih-lebihan dan juga sewenang-wenang, peduli terhadap persatuan, menjauhkan diri dari perselisihan, perpecahan dan memberikan peringatan kepada manusia tentang hal tersebut dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Mereka juga senantiasa saling mencintai menutupi kekurangan sebagian lainnya, tolong-menolong dan tidak suka permusuhan.

- Advertisement -

Lantas mengapa masih ada sekumpulan orang dan person tertentu yang sibuk menenggelamkan pahalanya dengan cara  mencela kelompok lain atas nama dakwah? Mengapa yang digelari salafi, justru semakin giat mengasah    lisan  menghujat tanpa takut,  menuduh tanpa data, mengklaim membabi-buta tanpa tabayyun. Dimana sikap saling nasehat menasehati yang penuh kelembutan itu? Mengapa harus selalu berupaya  mencoba mengikis  idealisme dan merasuki para pengikut sunnah lainnya? Untuk siapa dan karena apa? Mengapa segala istilah terus disemburkan dijagad maya dan nyata; bid’ah sesat, pro demokrasi, tauhid asal-asalan dan lain sebagaianya, Untuk apa?  Inikah cermin dakwah bilhikmah? Inikah buah yang dipetik dari  proses hijrah dan majelis ilmu yang dicintai Allah? Wallahu musta’an

Tiada lain, Perlunya memandang syariat  ini dengan lensa yang jelas dan tidak memburamkan hati juga menjauhkan diri  dari rasa sombong. Adakah jaminan  bagi  mereka yang shalih telah lulus dari ujian kesombongan? Adakah jaminan ‘nyunnah’ yang kita gaungkan ini akan mengantarkan kita ke syurgaNya? Sementara sebab-sebab menuju syurgaNya dengan akhlak dan adab kita hempaskan begitu saja. Bukankah Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak ummatnya, bukan untuk  memecah belah, mencacimaki dan menjatuhkan nilai diri dan kelompok tertentu? Betapa banyak kaum yang jahil terpesona pada ketawadhuan Nabi shallallahu’alaihi wasallam , meski diawal-awal sang Nabi  harus ridho menerima sikap penolakan kaum musyirikin atas dirinya.

Seharusnya ‘nyunnah’ nya kita ini mampu terurai tidak hanya pada perihal ibadah  yang nampak saja, namun mengenyampingkan ibadah yang tak terlihat; berjiwa besar, lapang dada, mendahulukan prasangka baik dan menekan arus  perselisihan. Tidak berusaha memecah belah atas nama ilmu dan dakwah, tetapi nilai-nilai kesantunan ditiadakan. Adakah bentuk-bentuk pelanggaran  syariat yang dilakukan oleh mereka yang juga ‘nyunnah’ pada sisi paling  fundamental dalam hidup seorang muslim seperti akidah dan tauhid?  Jika tidak , mengapa harus mengumpulkan kekuatan demi ‘memaksa’ kelompok salafi lainnya menyerah dengan idealismenya yang diklaim jauh dari dalil dan sunnah Nabi? Data apa yang bisa membuktikan klaim tersebut? Jika tidak ada, jangan-jangan  syetan telah berpesta memenangkan diri dan kelompok kita menjadi hamba yang sombong dan suka perpecahan? Dimanakah ilmu yang bening itu bermurara?

**********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Fauziah Ramdani, M.Si
(Penulis, Kontributor mujahiddakwah.com dan Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia)

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here