Tulisan ini adalah tanggapan saya yang kedua terhadap pendapat Muhamad Heychael tentang isu Jurnalisme Islam di Remotivi. JIKA PADA artikel Yang Pertama , Heychael menyebutkan Belum can menemukan perbincangan TENTANG jurnalisme Islam di tanah air, Maka di Tulisan keduanya Yang menanggapi Tulisan Saya , Heychael setidaknya Sepakat hearts beberapa hal. Pertama perlunya referensi yang lebih banyak dan akar jurnalisme Islam yang telah ditanah udara.

Hanya saja, ini adalah jurnalis Islami yang masih dalam tataran normatif dan absennya perumusan metode yang jelas. Tulisan ini mencoba mendudukkan ketergesaan Heychael dalam melihat Jurnalisme Islam. Meski demikian penulis setuju dengan Heychael tentang perlunya upaya serius merumuskan metode jurnalisme Islami.

Jurnalis Islam Bersatu (JITU), tempat penulis bergabung, telah mendukung Edukasi tentang Jurnalisme Islam melalui program #melekmedia. Program ini menyajikan artikel dengan mengangkat beberapa tema seperti Jurnalisme Islami , netralitas , pers Islam sebagai pengawas , perang melawan tipuan dan liputan bencana .

Perumusan lain tentang jurnalisme Islam di tanah air lebih dari yang diupayakan oleh Herry Mohammad dalam bukunya, Jurnalisme Islami: Tanggung Jawab Moral Wartawan Muslim pada tahun 1992. Buku ini berisi kumpulan makalah tentang hasil diskusi mengenai jurnalisme di Indonesia.

Jurnalis Andreas Harsono dalam blognya membantah wacana ‘Jurnalisme Islami’ karya Herry Mohammad akan menyetujui jurnalisme yang disetujui maka akan sulit dibedakan dengan propaganda, baik itu fasisme, kapitalisme atau komunisme.

Harsono mempertimbangkan genre baru Jurnalisme baru dapat dipertimbangkan sebagai gerakan baru jika  “… orangutan yang didukungnya dapat menerangkan metode yang berbeda, yang lebih maju dari metode sebelumnya, tanpa melawan elemen-elemen klasik dalam jurnalisme.”

Jika Heychael masih menganggap ‘jurnalisme islam’ mengawang-awang, maka Harsono melangkah lebih jauh dari Heychael. Ia bahkan menolak ‘jurnalisme Islam.’ Harsono berarti membalikkan ideologi (atau lebih menentang pandangan dunia ) sebagai aspek fundamental dalam jurnalisme dengan menyamakan jurnalisme ideologis sebagai propaganda semata. Sementara disiplin verifikasi informasi-lah yang membahas jurnalisme dari bentuk komunikasi lain seperti propaganda. (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Heychael sendiri menganggap Jurnalisme Islam masih mengawang-ngawang karena argumen yang diajukan pengarang masih dalam tataran normatif dan sulit dibayangkan praktiknya. Jika dicermati, baik Heychael dan Harsono adalah benang merah yang penting bagi Jurnalisme Islam. Karena tidak memandang penting hal mendasar dan prinsipil dari Jurnalisme Islam.

Heychael tergesa-gesa mencari metode dan panduan praktis dari Jurnalisme Islam. Sementara hal prinsipil yang diturunkan pandangan dunia (atau ideologi) adalah satu hal mendasar yang akan membedakan Jurnalisme Islam. Tepat di sinilah perbedaan mendasar yang penulis bawa dedahkan.

Sangat penting untuk menjelaskan hal mendasar seperti ini sebaliknya agar Jurnalisme Islam tidak terjebak pada jargon atau ‘dandanan’ saja. Dan dalam praktiknya, pandangan dunia (atau ideologi) akan mempengaruhi banyak hal dalam proses menciptakan produk jurnalistik.

Magne Aadnanes seperti dikutip Tone Dalhaug dalam Worldviews di The Norwegian Newsroom mengutip bahwa worldview terdiri dari tiga elemen, pertama pemahaman tentang realitas atau dunia. Kedua apa makna manusia (misalnya menentukan tujuan hidup dan hidup setelah kematian). Nilai ketiga dan aspek moral (apa yang baik dan benar?) Nada Dalhaug: 2017)

Terkait profesi yang diemban jurnalis, pandangan dunia inilah yang membuat jurnalis bagaimana ia melihat dunia. Memandang Kebenaran. Membentuk nilai-nilai dan etika. Worldview akhirnya mempengaruhi setiap jurnalis, baik sadar maupun tidak sadar.

Eriyanto (2012) juga mengutip berita yang dibuat oleh media massa bukan muncul dari ruang hampa, tetapi dibuat oleh ideologi tertentu. Menunjukkan ideologi yang sangat menarik dalam menampilkan pesan dan hasil nyata yang terlihat seperti nyata dan nyata. Melalui bahasa, kata-kata, ideologi menjelma menjadi “realitas” yang harus dipahami khalayak.

Hal yang sama dikeluarkan oleh Teun A. van Dijk dalam Berita, Wacana dan Ideologi (2008). Ia mengutip itu sebagai ideologi yang menarik dalam produksi berita sehingga menentukan misalnya pemilihan sumber daya jurnalis (perekrutan) , pemilihan sumber (ketukan dan sumber) , nilai berita (nilai berita) , pengutipan (kutipan) berdasarkan pilihan kata (retorika) .

Salahkah jurnalis memiliki worldview atau ideologi tertentu? Untuk memberikan contoh tak terhindarinya bias setiap jurnalis, Kovach dan Rosesnstiel (2004) mengutip persetujuan Jurnalis konservatif, Maggie Gallagher. Menurut Maggie Gallagher, “Ada perbedaan antara jurnalis dengan juru propaganda. Saya mencari berita tidak untuk memanipulasi audiens saya. Saya mencari untuk mengungkap dan menyampaikan kepada mereka. ” (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

BACA JUGA   Selesai Pukul 08:30 WIB, Panitia Reuni 212 Dukung Kepulangan Habib Rizieq

Oleh sebab itu, jurnalis mengundang berita yang memunculkan dunia dan seperangkat nilai yang dianutnya dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Adalah bualan belaka kompilasi jurnalis bekerja terbebas dari nilai-nilai yang dianutnya. Baik ia sekular, relijius atau apapun. Worldview atau sederhananya ideologi akan terus mempengaruhi jurnalis kompilasi ia menulis atau meliput berita, baik sadar atau tidak.

Nada Dalhaug sendiri membagi dalam studinya tentang worldview dalam Newsroom di Norwegia menjadi dua: relijius dan sekular. Sebagai Muslim, jurnalis muslim akan melihat dunia dengan kacamata (pandangan dunia) Islam. Berbeda dengan pandangan dunia sekuler yang menolak kebenarannya, pandangan dunia Islam menunjukkan dengan jelas apa itu Kebenaran.

Kebenaran yang hakiki, ditolak kebenaran faktual di lapangan. Kebenaran hakiki seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya , bersumber dari khabar shadiq (Al Qur’an dan Hadist dan ijma ulama). Sementara fakta ditemukan dengan mencari fakta di lapangan dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi seandainya jurnalis muslim meliput pembangunan lokalisasi prostitusi, atau rumah judi, ia akan melihat bahwa kedua hal itu sebelumnya tidak dapat dibenarkan. Hanya saja kompilasi ia harus mencari fakta dari fakta tadi dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia akan melakukan verifikasi informasi, mewawancarai sumber yang terkait dengan acara tersebut dari dua pihak (yang terlibat, pro atau kontra) dan lainnya.

Begitu pula kompilasi seorang jurnalis muslim (dengan pandangan dunia Islam-nya) meliput aksi dukungan terhadap legalisasi pernikahan sejenis. Maka sebagai seorang jurnalis muslim tentu tidak akan membenarkan wacana legalisasi tersebut. Namun dalam liputannya ia akan meliput dengan metode yang dipertanggungjawabkan. Tidak membuat berita bohong, meminta konfirmasi pada pihak yang pro dan kontra, membeli narasumber yang otoritatif dan sebagainya.

Jurnalisme Islam akan membuat jurnalis melihat dari kacamata yang berbeda. Kontroversi RUU-PKS akan dilihat secara kritis dan bukan dilihat dari kacamata feminisme. Peliputan isu kebebasan beragama akan dilihat dari kacamata Islam, dan bukan beranjak dari pemahaman pluralisme agama , dan lainnya.

Penekanan tentang worldview (atau ideologi) menjadi sangat penting karena berdampak yang ditimbulkannya. Nilai-nilai yang diusung menjadi berbeda. Dan secara umum bukan pada metodenya.

Pada praktiknya Jurnalisme Islam tidak berbeda jauh dengan praktik jurnalisme lainnya. Dapat membantah dengan menerapkan metode mendasar dalam liputan seperti mempertanyakan fakta yang memerlukan pengecekan dan pengecekan ganda (cheking dan double checking) , melibatkan sumber beragam, pengutipan narasumber dengan perjanjian, dan penggunaan sesuai anonimitas, menentang sogokan dan lainnya. (Adam L. Penenberg: tanpa tahun)

Hal ini juga dibahas oleh Faris Khoirul Anam dalam Fikih Jurnalistik (2009). Metode penggalian informasi seperti verifikasi informasi (QS: 49: 6-8), kejujuran dan akurasi, tidak setuju berita bohong (QS 4: 83, HR Bukhari), menolak sogokan atau ‘amplop’ (QS 5: 42) hak cipta (QS 5: 1) juga mendapatkan landasannya lewat dalil-dalil Al Qur’an dan Hadist.

Begitu pula elemen-elemen jurnalisme yang diungkapkan oleh Kovach dan Rosenstiel. Terkait dengan loyalitas, elemen lain seperti berpegang pada kebenaran, independensi terhadap sumber berita, berlaku sebagai pemantau kekuasaan, menyediakan forum publik, berita yang dibahas, dalam pandangan penulis, secara garis besar sesuai dengan prinsip-prinsip Jurnalisme Islam.

Publik, Umat, dan Isu kekinian.

Prinsip jurnalisme Islami kedua, yaitu tabligh yang berarti kebenaran dan kebaikan bagi publik dipertanyakan oleh Heychael. Siapakah yang disetujui dengan publik? Pertanyaan ini juga berkaitan dengan pernyataan Heychael yang mempertimbangkan ketiadaan Jurnalisme Islam melakukan dialog dengan tantangan hari ini yaitu Perbedaan pemahaman umat Islam dan modernitas.

BACA JUGA   Pria Asal Sukabumi Ini Rela Berkuda untuk Hadiri Reuni 212

Mengacu pada kata publik dalam jurnalisme Islam yang dipaparkan Nurhaya Muchtar, dkk (2017) maka prinsip tabligh dapat berarti edukasi ke masyarakat luas. Edukasi atau mendidik (tabligh) dari Jurnalisme Islam dapat diberikan kepada siapa saja, terlepas dari agama pembaca atau pemirsanya.

Penulis juga menyarankan jurnalis harus menetapkan sumber mungkin dan metode mereka dan dapat diterima oleh pembaca atau pemirsanya. (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004) Mengenalkan publik, terlepas dari agamanya, pada sumber yang dapat dipahami dan metode yang digunakan oleh jurnalis dalam memproduksi berita.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri, jurnalis Muslim memiliki perhatian terhadap isu keumatan dan solidaritas umat Islam. Muktamar Media Massa Islam Se-Dunia pada 1-3 September 1980. Muktamar menyangkal Piagam Media Islam yang mendorong jurnalis Muslim agar mendukung pada saat Umat Islam (umat Islam) yang diambil sesuai dengan chauvinisme regional, nasional atau kesukuan.

Umat (umma) di sini tentu saja tidak bisa disamakan dengan masyarakat. Umat ​​bukan kumpulan orang atau masyarakat dalam arti luas. Ganjar Widhiyoga dalam Memahami Umma sebagai Masyarakat “Global” Islam (2017) mengutip itu,

“Pada saat ini, umma menjadi semesta simbolik di benak umat Islam. Sebagai alam semesta simbolis, umma dapat dikatakan menghubungkan seseorang dengan orang lain atau mengidentifikasi masyarakat, tetapi juga untuk menghubungkan orang tersebut dengan Tuhan dan mengidentifikasi tempatnya dalam tatanan kosmologis. “

Konsep umat dalam Al-Qur’an. Umat ​​juga berpindah pada masyarakat muslim yang memegang dan menengakkan hukum Tuhan, taat pada perintahnya. (Ganjar Widhiyoga: 2017)

Bagi Jurnalis Muslim maka isu-isu umat Islam di mana pun akan menarik perhatiannya, sulit diangkat dan mengadvokasinya. Dalam praktiknya isu umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Palestina dan Rohingya tentu saja akan dikedepankan atas dasar solidaritas umat Islam.

Definisi umat akan menarik pada khabar shadiq yang sudah disinggung dalam artikel sebelumnya. Yaitu Al Qur’an dan Hadist serta ijma ulama. Umat ​​adalah orang yang menjunjung ajaran Islam. Mengikuti bukan menyimpang. Bukanlah umat misalnya, kaum atau kelompok yang menyalahi ajaran dengan menganggap ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Membumikan Jurnalisme Islam

Bagaimana pun akan selalu ada dalam Jurnalisme Islam itu sendiri. Ada banyak masalah yang penulis akui banyak dibahas dalam bingkai Jurnalisme Islam, seperti perang peliputan, pengungsi, bencana, dan lainnya.

Terkait pula isu-isu keseharian seperti liputan kebebasan beragama, tentang perempuan, hak disabilitas dan lainnya agar wacana Jurnalisme Islam dapat lebih membumi. Namun selama pembicaraan tentang Jurnalisme Islam tidak berpijak pada landasan yang tepat, dimulai dari pandangan dunia dan prinsip-prinsip yang diturunkannya, maka selama itu pula pembahasannya akan mengawang-awang.

Sumber Rujukan:

Anam, Faris Khoirul. 2009. Fikih Jurnalistik . Jakarta: Pustaka Al Kautsar

Dalhaug, Nada. 2017. Pandangan Dunia di Ruang Berita Norwegia: Sebuah Studi tentang Pandangan Dunia Norwegia dan Sejauh Apa, dan Bagaimana, Mereka Percaya Pandangan Dunia Mereka Memengaruhi Pekerjaan Jurnalistik. NLA University College, Norwegia.

Eriyanto. 2012. Analisis Framing . Yogyakarta: LKis.

Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2004. Elemen-Elemen Jurnalisme. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi.

Mohammad, Herry. 1992. Jurnalisme Islami: Tanggung Jawab Moral Wartawan Muslim. Surabaya: Pustaka Progressif.

Muchtar, Nurhaya, dkk. 2017. Jurnalisme dan Pandangan Dunia Islam: Peran Journaistik di Negara-Negara Mayoritas Muslim. Studi Jurnalisme, 2 Februari 2017.

Penenberg, Adam L. Tanpa tahun. NYU Journalism Handbook for Students: Etika, Hukum, dan Praktik yang Baik . New York: Fakultas Seni dan Sains New York University

Van Dijk, Teun A. 2009. Berita, Wacana, dan Ideologi dalam The Handbook of Journalism Studies. New York: Routledge.

Widhiyoga, Ganjar. 2017. Memahami Umma sebagai Masyarakat “Global” Islam. Universitas Durham, Kerajaan Inggris.

***********

Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB))

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)


@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media