Beranda MUSLIMAH Cinta Dunia Perayaan Tahun Baru Benarkah Sudah Ada Zaman Nabi?

Perayaan Tahun Baru Benarkah Sudah Ada Zaman Nabi?

105
0

Dalam catatan sejarah kota Yatsrib, sebelum berganti nama menjadi madinah, penduduk kota ini menerima agama berhala, seperti yang ada di Mekah. Penduduk Yatsrib sangat mengagungkan berhala Manat.

Karena mengajarkan agama mereka tidak memiliki kitab, membuat mereka lebih suka mengadopsi agama lain, yang mereka anggap lebih berperadaban. Terutama budaya yahudi, nasrani, dan persia.

Sebelum islam datang di Madinah, masyarakat kota ini memiliki hari raya yang dimeriahkan dengan permainan, makan-makan, dst. kala itu, hari raya mereka menganut tradisi orang majusi di Persia. Hari raya itu adalah Nairuz dan Mihrajan.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu deskripsi,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما فإن الله قد أبدلكم يومين خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

“Saya datangi kalian dan kalian punya dua hari raya, kalian kalian jadikan waktu untuk bermain. Padahal Allah telah mendukung dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha. “ (HR. Ahmad 13164).

Nairuz nama persinya Nauruz. Dialih bahasakan ke arab menjadi Nairuz. Kata Nauruz merupakan gabungan dari kata Nau dan Ruz. Nau [نو (baru)] berarti baru. Sementara Ruz [رزو (Roj)] artinya hari. Gabungan dua kata ini berarti hari baru [يوم جديد]. Perayaan Nauruz di Persi, diperinngati setiap tahun, hari raya tahun baru mereka. Dalam perhitungan kalender masehi, hari Nairuz bertepatan dengan tanggal 21 Maret. [Alitthad.com]

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya main-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada ritual yang dilakukan dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari ini adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkannya. Sebagai gantinya, Allah memberikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Kita sepakat, tahun baru masehi bukan tradisi islam. Perayaan ini datang dari orang kafir. Sebagian referensi mengutip, tahun baru merupakan pesta warisan dari masa lalu yang sebelumnya dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) memperbaiki hari yang istimewa ini untuk dewa yang bernama Janus, Dewa Gerbang, Pintu, dan Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah memandang ke depan dan lagi memandang ke belakang, sebagai filsafat masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Namun, larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, mencakup semua kegiatan perayaan yang bukan tradisi islam. Tentang memriahkan tahun baru masehi.

***********

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits, Lc
(Pembina Konsultasi Syariah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)