Sebuah naskah Tafsir Quran di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Ayat Al Quran dalam warna merah dan tafsir (komentar) warna hitam. - (Iluminasi: 1996)

Al Qur’an, telah lama menjadi bagian dari umat Islam di Indonesia. Sedari dini, anak-anak di ajarkan dekat dan diterjemahkan dengan Al Quran. Salah satu upaya mendekatkan dengan Al Qur’an adalah dengan menujukan Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mampu lebih dipahami oleh umat. Proses menafsirkan ayat-ayat Al-Quran merupakan proses untuk masyarakat Melayu. Penafsiran ayat-ayat tersebut awalnya merupakan tradisi llisan. Maka sudah jadi kebiasaan untuk menerjemahkan ayat-ayat tersebut. Namun proses penafsiran sepenggal-sepenggal tadi akhirnya diterima dengan penafsiran Al Quran sepenuhnya. (Riddel: 2009) Usaha-usaha menujukan Quran oleh para ulama di Nusantara telah disetujui sejak abad ke 16. (Gusmian: 2002)

Sebuah naskah tafsir surat Al Kahfi diterbitkan pada abad ke 16. Naskahnya dikirim dari Aceh ke Belanda pada awal abad ke 17, oleh seorang ahli bahasa Arab bernama Erpinus (wafat 1624). Manuskrip itu kini menjadi koleksi Universitas Cambridge . Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dengan muftinya adalah Syams Al Din Sumatrani. Sebelum mungkin, sebelum masa itu, yaitu pada masa Sultan ‘Ala Al-Din Ri’ayat Syah Sayyid Al Mukammil (1537-1604), dengan mufti Hamzah Al-Fansuri. Tafsir yang bercorak sufistik ini mendukung pada tafsir Al Baydlawi dan Al-Khazin. Dari tafsir ini juga terlihat penulisnya menguasai bahasa arab dengan baik dan keilmuan yang tinggi. (Riddel; 1989)

Satu abad kemudian, masih di Aceh, ditemukan tafsir yang lebih lengkap, 30 juz, yaitu Tarjuman Al Mustafid karya Abd Al Rauf Al Sinkili (1615-1693). Diperkirakan ia menulis tafsir ini sepulangnya dari menuntut ilmu selama 19 tahun di Hijaz. Tafsir Tarjuman Al Mustafid ini berbalik pada tafsir terkemuka seperti Jalalayn , Al Baydlawi dan Al Khazin . Namun tafsir Jalalayn -lah yang menjadi rujukan paling banyak dalam tafsir ini. Tafsir ini memang ditujukan untuk pendidikan dalam skala luas. Bahkan, tafsir Tarjuman Al Mustafid terus dicetak berulang kali dan dipakai kali ini, khusus di Malaysia. (Riddel; 1989)

Usaha-usaha penafsiran Quran terus dilakukan. Bahkan oleh ulama nusantara yang bermukim di Hijaz. Muhammad Al Nawawi Tanara Bantan (1813-1879) atau yang lebih dikenal dengan Syekh Nawawi Al Bantani, turut menjejakkan ilmunya dengan menulis tafsir Munir li Ma’alim Al- Tanzania (atau disingkat menjadi Al Munir ). Menurut Snouck Hughronje, tafsir ini dirilis di Mekkah pada tahun 1884. Namun baru pada tahun 1887, tafsir ini ditambahkan di kairo, menjadi lebih dikenal luas. (Gusmian; 2002)

Namun, tafsir-tafsir yang dihasilkan ulama-ulama nusantara hingga abad ke 19 tidak bisa disebut banyak. Di pesantren-pesantren di Jawa, pelajaran tafsir Qur’an mengambil pelajaran pokok. Kitab-kitab tafsir yang digunakan oleh pesantren biasanya digunakan antara tafsir Jalalayn , Al Baydawi atau Al munir di sebagian kecil tempat. (Van Bruissen: 2012) Meskipun tafsir-tafsir sebagian besar ditulis dengan menggunakan huruf arab, melayu, tetapi kuatnya, bahasa daerah di setiap wilayah menjadi salah satu tantangan. Bahasa melayu harus bersaing dengan bahasa daerah setempat. Tafsir Al Mustafidmungkin saja akan lebih mudah dimengerti di wilayah Sumatera yang memang akrab dengan bahasa melayu. Namun di Jawa hal ini menjadi lain lagi. Masyarakat awam yang terbiasa dengan bahasa Jawa atau bahasa sunda mungkin tidak perlu membaca tafsir pantas melayu. (Gusmian; 2002) Kesulitan lain adalah masih terdengarnya larangan untuk menerjemahkan Quran. Seperti yang di fatwakan oleh ulama kontroversial, Sayyid Utsman (Ichwan: 2009)

- Advertisement -

Kesulitan memahami bahasa Arab ini dijembatani oleh seorang ulama nusantara, asal semarang, yaitu Muhammad Salih Ibnu Umar Al Samarani, atau yang lebih dikenal dengan Kiyai Saleh Darat (1820-1903). Ia adalah ulama besar yang menjadi guru-guru para ulama seperti Kiyai Mahfuz Termas, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Tak terhitung masyarakat Jawa yang menggunakan bahasa Arab, membuat Kiyai Saleh Darat menulis kitab-kitab (fiqih, tasawuf, hingga tafsir) ke dalam aksara pegon menggunakan Jawa. Salah satunya adalah kitab Tafsir Fayd Al Rahman dari Tarjamat Tafsir Kalam Malik Al Dayyan . Ia menulis kata Tarjamahpada tafsir Al Qur’an menyetujui Jawa ini karyanya ini, meminta ia meminta masyarakat mengatakan bahwa tafsir ini mewakili tafsir memenuhi Jawa. Proses penerjemahan Al-Quran dari bahasa Arab ke bahasa lain, belum merupakan upaya menunjang. Ada beberapa proses pengungkapan makna dalam proses revisi. (Johns: 2009)

Kehadiran huruf pegon memang menjadi medium bagi umat Islam dalam menuntut ilmu. Namun, pegon semakin terdesak oleh dengan romanisasi huruf arab pegon yang digunakan untuk menulis. Ini membawa dampak serius. tersendatnya persebaran tafsir yang mempengaruhi pencetakan. Semua pencetakan buku-buku harus dicetak di Mesir. Di Hindia belanda, mesin cetak yang dipakai telah dirajai oleh mesin cetak beraksara latin. Kairo memang pada akhirnya menjadi era baru pusat penyebaran informasi bagi umat Islam. Bahasa Inggris di Hindia Belanda.

Pengaruh gerakan reformasi Islam yang dihembuskan oleh Muhammad Abduh di Kairo terasa sampai ke Nusantara. Murid dan pengikut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dari nusantara seperti Syekh Tahir Jalaluddin membawa gerakan reformasi Islam ke nusantara melalui majalah Al Imam . Dalam terbitannya, Al Imam turut menerbitkan tafsir Al Manaryang ditulis oleh Muhammad Abduh dan diteruskan oleh Rashid Ridha. Pengaruh ini sangat kuat pada kaum muslim reformis di Hindia Belanda. Namun fenomena yang diterima muslim reformis ini ditanah air menyimpan suatu pertempuran. Mereka, para penggerak reformasi Islam di Hindia Belanda sebagian besar adalah para didikan barat yang tak menguasai bahasa arab. Akses untuk mendapatkan dukungan Islam pada sumber-sumber berhuruf latin atau buku-buku mendukung asing. Hausnya dahaga akan tafsir Qur’an beraksara latin ini kemudian menimbulkan perkara baru.

Tafsir Al-Quran oleh Maulana Muhammad Ali yang berjudul Al-Quran hadir di Hindia Belanda ditengah kehausan akan tafsir beraksara latin. Muhammad Ali adalah seorang intelektual Ahmadiyah Lahore (setelah sebelumnya bersama Ahmadiyah Qadiani). Ia menulis tafsir pada tahun 1909. Judul lengkapnya adalah Al-Quran yang Mengandung Teks Arab dengan Terjemahan dan Komentar dalam Bahasa Inggris.(Ichwan; 2001) Ahmadiyah (Lahore), melalui Mirza Wali Ahmad Baig diharapkan menjejakkan kaki di Yogyakarta pada tahun 1924. Nama Ahmadiyah saat itu memang masih samar. Belum diperhatikan semua tindak tanduknya. Ahmadiyah yang menawarkan semangat yang sama dengan semangat reformasi Islam yang sedang melanda tanah air. Ahmadiyah juga dikenal sebagai penentang gigih kristenisasi. Percaya Ahmadiyah, mulanya diterima dengan baik oleh para aktivis Islam dari kalangan reformis, Kebanyakan Muhammadiyah. Penyimpangan Ahmadiyah saat itu belum terkuak. (Beck; 2005)

Kehadiran Mirza Wali Ahmad Baig yang langsung mendapatkan tempat spesial di Muhammadiyah, hingga ia, dapat berkenalan dengan berbagai aktivasi Islam kala itu. DIBER dengan HOS Tjokroaminto. Lewat Mirza Wali Ahmad Baig inilah yang sebaiknya Tjokroaminoto bacaan dan tertarik pada Al-Quran hingga dapat diterjemahkan tafsir tersebut ke bahasa melayu. Apalagi Usaha penerjemahan ini mendapatkan persetujuan pribadi dari H. Fachrodin, seorang tokoh Muhammadiyah dan Sarekat Islam.

Namun hal ini segera menjadi kontroversi, kemudian kompilasi Haji Rasulullah (ayah Buya Hamka) mengembalikan Ahmadiyah dan menyingkap penyimpangan Ahmadiyah. Sejak itu Muhammadiyah mulai menjauhi Ahmadiyah. Imbasnya juga berdampak pada proyek penerjemahan Tafsir Al-Qur’an Tjokroaminoto. Pada Kongres Ulama tahun 1928, yang berafiliasi dengan Sarekat Islam, kritik mulai berdatangan pada tafsir tersebut. Polemik ini semakin memanas, karena sebagian besar terjemahan ini telah diterbitkan di Harian Fajar Asia pimpinan Tjokroaminoto. Kritik yang berdatangan, menyayangkan hanya pengetahuan Tjokroaminoto dan hanya bergantung pada Mirza Wali Ahamd Baig. (Beck: 2005) terjemahan, terjemahan, terjemahan terjemahan Alquranini membuat seorang ulama, bernama Syekh Imran Basyuni dari Sambas, tergerak untuk meminta keabsahan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu agama untuk Rashid Ridha melalui majalah Al Manar di Mesir. (Ichwan: 2001) Nyatanya tafsir Al Manar karya Muhammad Abduhlah yang lebih menggambarkan perkembangan tafsir di Hindia Belanda.

Tafsir Al Manar , dimuat oleh Majalah Al Imam sejak 1908. Majalah ini ditenggarai merupakan pers Islam pertama di nusantara, dipimpin oleh Syekh Thahir Jalaluddin. Majalah ini sangat mempengaruhi Haji Rasul, sehingga ia membuat majalah Al Munir . Dari tangan Haji Rasul pula lahir tafsir Juz Amma , yang berjudul Al Burhan , Tafsir Juz Amma , di Padang tahun 1922. Tafsir ini masih menggunakan bahasa melayu jawi yang beraksara arab. Dari Sumatera barat pula, ditahun yang sama, lahirlah tafsir yang akan terbit tafsir lengkap 30 juz yang melengkapi Indonesia. Tafsir ini dikenal dengan nama Tafsir Al Qur’an Al Karimkarya Mahmud Yunus. (Gusmian: 2002)

Tafsir Mahmud Yunus ini baru diterbitkan hanya 3 juz pertama dalam Al Quran saja. Semula tafsir ini ditulis dalam huruf arab yang diterima melayu Jawi. Kemudian diterima tafsir ini dilanjutkan oleh H. Ilyas Muhammad Ali di bawah bimbingan Mahmud Yunus. Lalu pada tahun 1935 dikembalikan oleh HM Kasim Bakry hingga juz ke 18. Sisanya dilanjutkan oleh Yunus sendiri dan rampung pada tahun 1938. (Gusmian: 2002)

Pada tahun 1930-an diterbitkan tafsir sedang bergeliat. Selain karya Tafsir Mahmud Yunus, muncul pula Al Furqan karya Tafsir Al-Qur’an A. Hassan dari Persis. Tafsir ini mulanya diterbitkan pada tahun 1928 hanya juz pertama saja. Kesibukan A. Hassan memaksanya meminta kelanjutan tafsir tersebut. Pada tahun 1953, tafsir ini ditulis kembali sebanyak 30 juz. Selain tafsir Al Furqon , hadir juga tafsir Al Quran Al-Karimkarya tiga serangkai dari Binjai, Langkat, Sumatera Timur. Di tulis oleh Ustadz HA Halim Hassan, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Pertama kali diterbitkan dalam bentuk majalah sebanyak 20 halaman, dimulai pada April 1937 dan diterbitkan setelah sekali. Selama tahun 1937-1941, tafsir ini diterbitkan dengan bahasa juz I dan II dalam bahasa Melayu beraksara arab. Tafsir ini kala yang dipakai diseluruh Sembilan kerajaan di Malaysia. (Gusmian: 2002)

Di era tahun 50-an, dikerjakan membahas Tafsir Al Quran oleh H. Zainuddin Zamidy dan Fachruddin HS. Tafsir ini kemudian diterbitkan pada tahun 1959. Namun tahun 1958, menjadi penanda lahirnya sebuah tafsir yang cukup fenomenal. Lahir dari tangan Buya Hamka, seorang ulama sekaligus sastrawan yang disegani. Awalnya penafsiran ini diberikan melalui kuliah subuh di Masjid Al Azhar, Kebayoran baru, Jakarta. Dan dimulai dari surah Al Kahfi , Juz ke-15. Kemudian sejak 1962, ceramah tafsir ini diterbitkan di Majalah Gema Islamdalam suasana politik rezim otoriter orde lama. Pada tanggal 27 Januari 1964, Buya Hamka ditangkap karena dituduh berkhianat pada pemerintah. Selama 2,5 tahun dia berhasil tanpa dibuktikan kesalahannya. Namun dimasa itu pula ia berjabat dengan hikmah. Selama masa penahanannya-lah tafsir fenomenal disetujui dan akhirnya diterbitkan pada tahun 1967 dengan nama Tafsir Al Azhar . (Gusmian: 2002)

Di tahun yang sama pula, 1967, Departemen agama mengeluarkan Tafsirnya yang dikerjakan secara resmi, berjudul Quran dan Tafsirnya . Tafsir Departemen Agama RI ini, di bawah Yayasan Penyelenggara Penerjemah atau Penafsiran Quran . Salah satu anggota yayasan ini, TM Hasby Ash-Siddieiqy, juga menulis tafsir sejak era 50an dan kemudian diterbitkan tahun 1971 dengan nama Tafsir Al Quran Al karim Al Bayan . (Gusmian: 2002)

Geliat diterbitkan tafsir dirilis sejak beberapa tahun yang lalu. Silakan unduh tafsir, ganti bertolak dari titik yang sama. Buya Hamka kompilasi menulis tafsir Al Azhar menjelaskan;

“Bangkitnya angkatan muda Islam di tanah air Indonesia dan di daerah-daerah yang bisa berbahasa Melayu memahami Al Qur’an di jaman sekarang, padahal mereka tidak memiliki kemampuan berbahasa Arab. Beribu saat berjuta sekarang angkatan muda Islam mencurahkan minat pada agamanya, karena menentang rangsangan dan tantangan dari luar dan dari dalam. Semangat mereka melawan agama telah tumbuh, tetapi ‘rumah telah kelihatan, jalan ke sana tidak tahu,’ untuk mereka inilah yang khusus ‘tafsir’ ini saya susun. ” (Hamka: 2004)

Mungkin semangat inilah yang juga bertolak dari para penafsir Quran di tanah air. Bertolak pada niat mencondongkan hati dan pikiran umat terhadap Al Qur’an, yang dirintangi oleh perlindungan bahasa. Dan mungkin saja antara banyak tafsir tersebut, ada yang luput dari tulisan singkat ini. Namun demikian, kita dapat melihat sebuah benang merah yang dikumpulkan oleh tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Meskipun jenisnya beragam, dan ditulis oleh beragam penafsir dengan latar belakang yang berbeda, namun, kita dapat melihat, disetiap karya mereka, selalu bersandar pada tafsir-tafsir yang lebih awal dan senantiasa ditambahkan pada tafsir-tafsir yang populer dan bermanfaat keilmuannya .

Daftar Pustaka

Beck, Herman L. 2005. Perpecahan antara Muhammadiyah dan Ahmadiyah dalam Bijdragen Tot de Taal, – Land en Volkenkunde (BKI) 161-2 / 3.

Federspiel, Howard M. 1996. Kajian Al-Quran di Indonesia . Bandung: Mizan

Feener, Michael R. 1998. Catatan Menuju Sejarah Tafsir Al-Quran Di Asia Tenggara dalam Studia Islamika vol. 5 No. 3

Gusmian, Islah. 2002. Khzanah Tafsir Indonesi a. Jakarta: Teraju.

Johns, AH 2009. “Penerjemahan” Bahasa Arab ke dalam Bahasa Melayu: Sebuah Renungan dalam Sadur; Terjemahan di Indonesia dan Malaysia . Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Nur Ichwan, Moch. 2001. Perbedaan Tanggapan Terhadap Terjemahan dan Penafsiran Seorang Ahmadi. Al-Qur’an di Mesir dan Indonesia dalam Archipel Vol. 62

Prof. Dr. Hamka. 2004. Tafsir Al Azhar Jilid I . Jakarta. Pustaka Panjimas.

Riddel, Peter. 1989. awal Quran tafsirnya Aktivitas di The Malay Berbicara Amerika hearts Archipel Vol 38.

Riddel, Peter. 2009. Menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa-Bahasa Indonesia di Indonesia dalam Sadur; Terjemahan di Indonesia dan Malaysia . Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Umam, Saiful. 2013. Rahmat Tuhan Tidak Terbatas untuk Penutur Bahasa Arab: Membaca Biografi Intelektual Muhammad Salih Darat dan Naskah Islam Pegon-nya . Studia Islamika, Vol 2, No. 2.

Van Bruissen, Martin. 2012. Kitab Kuning: Buku-buku Berhuruf Arab yang Dipergunakan di Lingkungan Pesantren di dalam Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat . Yogyakarta: Gading

************

Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB))

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)


@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here