Hidup adalah sebuah cuplikan sinema yang ada didalam Al-Qur’an dan kembali diputar dalam layar kehidupan kita. Berusaha mencapai ending cerita yang disekenariokan oleh Sang Sutradara, Allah  Sang Pencipta langit dan bumi. Mungkin tak banyak yang mampu memahami inti cerita atau alur kehidupan, namun banyak yang mahir menjelaskan tentang alur kisah apa yang terjadi dimasa yang lalu dan masa yang akan datang.

Dalam lembar kehidupan begitu banyak warna-warni, serba-serbi kehidupan kita. Terkadang hari kemarin kita merasa bahagia, namun hari ini dipenuhi dengan kesedihan. Dipenuhi dengan lika-liku kehidupan masalah yang tak kunjung selesai, kesuksesan yang semakin hari semakin menjauh, kegagalan yang semakin dekat menghampiri, mengapa demikian?.

Pada hakekatnya kehidupan kita di dunia tak akan pernah lepas dari berbagai ujian dan tantangan, karena telah menjadi kodrat kehidupan. Sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran dan perjuangan, namun apakah kita akan menyerah dengan hal itu? Maka jawabannya ‘tidak’ manusia dituntut untuk selalu tegar dalam menghadapi segala rintangan. Deburan ombak cobaan yang menimpa bukanlah akhir dari kisah, namun ia cuplikan awal untuk melangkah ke fase cobaan berikutnya. Mampukah kita melewatinya? Maka katakan bahwa ‘kita mampu’ dengan tawakkal kepada Allah .

Tidak ada jalan keluar sebuah permasalahan selain menghadapinya, jikalau hari ini kita gagal. Maka bersabarlah dan terus bekerja keras, karena kedua modal inilah kegagalan yang kita dapatkan akan berubah menjadi sebuah kesuksesan. Setalah Anda sukses, maka jangan bangga terhadap apa yang sudah Anda capai. Jikalau kita bahagia di dunia, kita kaya di dunia, sukses dunia. Maka camkanlah bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang sementara akan kita tinggalkan. Karena kebahagian, kesuksesan yang hakiki adalah ketika kita dimasukkan kedalam syurga-Nya Allah . Sebagaimana dalam firman-Nya;

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu seta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. (QS. Al-Hadid: 20).

Di dalam kehidupan ini, terkadang kita tertipu akan prahara dunia yang siap membawa alur menuju jalan yang berkabut. Gelap, tak memiliki arah dan tujuan yang pasti. Hidup menjadi pasif, mejadi pesimis. Keluar dari substansi tujuan penciptaan manusia. Tak kenal perintah, tak kenal larangan. Agama menjadi label identitas semata. Fitnah dunia adalah sebuah keniscayaan, yang kapan saja siap melontar ‘Iman’ ke jurang kegelapan. Semua itu bukanlah halusinasi semata, melainkan jebakan kristal tajam berlapiskan mutiara yang siap membawa ‘Iman’ ke dalam badai kemaksiatan. Menjadi budak syaitan bertuhankan iblis.

Artinya: …”Sungguh janji Allah pasti benar, Maka janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu terpedaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. (QS. Lukman: 33).

Cukup ayat ini menjadi sebuah peringatan kepada kita agar tidak menjadi budak syaitan. Menjadi budak harta berselimutkan wanita. Menjadi budak jabatan bermahkotakan kekuasaan. Sulit untuk dimengerti. Seakan terjebak dalam kerangka baja didasar pusaran bumi, yang tak tersentuhkan cahaya udara. Apa yang diharapkan lagi dari hasil akhir kehidupan jika peran ‘Allah  Sang Pencipta tak lagi dibutuhkan. Karena hanya dengan ketaatanlah kepada-Nya yang akan melindungi kita dari segala keburukan dan godaan.

Setiap kita selalu berharap dengan kebahagian, kesenangan dalam kehidupan kita. Mengejar kehidupan dunia yang tiada ujungnya, namun ini diperbolehkan. Akan tetapi, ketika kehidupan dunia telah mengambil semua waktu kita dan melupakan kehidupan akhirat, maka inilah masalah yang sebenarnya yang membutuhkan penangulangan, sebelum kain putih meililit tubuh kita dan bersembunyi dibawah tanah.

Hiduplah dengan kehidupan yang terbaikmu, sebelum penyesalan itu datang, Al-Qur’an telah menjelaskan penyesalan orang-orang kafir, orang-orang yang tidak memamfaatkan waktu mereka dengan sebaik-baiknya dalam beribadah kepada Allah , sebagaimana firman-Nya;

Artinya: Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin”. (QS. As-Sajadah: 12).

Tidak ada sesuatupun yang paling besar untuk kita perjuangkan dengan kerja keras, selain ‘mempersiapkan bekal kita untuk fase kehidupan kita selanjutnya. Jikalau perkara dunia kita ingin berubah menjadi yang lebih baik, lantas bagaimana dengan perkara akhirat?, kapan kita ingin berubah?. Merubah kebahagian dunia menjadi kebahagian diakhirat. Dunia yang kita kejar, Akhirat tidak akan ikut. Ketika kehidupan akhirat yang kita kejar, maka yakinilah bahwa kehidupan dunia akan ikut.

Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.” (Imam As-Syafi’I rahimahullah). 

***********

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Ceo Mujahid Dakwah Media, Aktivis Media Islam, Pembina Daar Al-Qalam dan Founder www.mujahiddakwah.com)

Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)