Menjaga iman adalah perkara yang penting. Karenanya status muslim pada diri anda akan terjaga dan merupakan perintah Allah azza wa jalla, sebagaimana firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim”

Keyakinan Ahlussunnah waljama’ah tentang iman adalah ia bisa mengalami perubahan, entah semakin baik atau semakin buruk, tergantung bagaimana anda merawatnya. Ia akan subur jika diberi pupuk ketaaatan kepada Allah, dan akan usang seperti pakaian jika anda mengotorinya dengan noda dosa dan maksiat kepada Allah. Imam Al-Hakim dan Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ  فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian, sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!”

Penulis sampaikan kepada para aktivis dakwah kampus (ikhwa dan akhwat). Bahwa anda memiliki masa-masa dimana anda harus berupaya keras menghadapi fitnah dalam menjaga keimanan. Salah satunya adalah ketika anda berlibur panjang, lalu balik ke kampung halaman dunniawi. Walaupun penulis belum menemukan penelitian akan hal ini, tetapi penulis berpendapat berdasar pengalaman pribadi dan para ikhwa dan akhwat di masanya, bahkan sampai saat ini, dari penyampaian beberapa ikhwa yang sementara menjadi pengurus di Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Hal ini bisa disebabkan karena berbagai faktor. Faktor yang paling utama adalah ketidaksiapan anda dalam menghadapi suasana yang berbeda dari kebersamaan ikhwa dengan ikhwa lainnya dan akhwat dengan akhwat lainnya selama di kampus, baik di perkuliahan, LDK, dan atau ditempat tinggal. Juga ingatan dan kenangan masa lalu anda pada masa-masa di kampung sebelum menuntut ilmu agama dengan baik.

Oleh karena itu, penulis mencoba memberikan tujuh bekal yang harus anda siapkan sebelum menghadapi libur panjang dan balik ke kampung. Agar momentum ini anda bisa jadikan sebagai masa untuk meningkatkan keimanan dan memberatkan timbangan di hari akhir, dan bukan sebaliknya.

Bekal I: Memperbaiki niat

Umumnya, memperbaiki niat adalah yang pertama dan utama dalam beribadah dan bermuamalah. Ibadah akan diterima jika niatnya benar, hanya mengharap balasan dari Allah azza wa jalla, begitupun muamalah yang sifatnya mubah bisa bernilai ibadah dengannya.

Anda tentu memiliki banyak kegiatan, baik itu ibadah atau muamalah. Hal ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar memberi suntikan iman dan limpahan pahala bagi anda. Tentunya dengan memperbaiki niat sebelum, pada saat, dan setelah berpulang kampung.

Imam Al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى…

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”

Sekali lagi penulis sampaikan, agar anda memberi perhatian yang serius dalam hal tersebut, agar momen ini tidak bernilai sia-sia dan tidak bernilai kerugian, waliyadzu billah.

Bekal II: Banyak Berdoa

Kebergantungan kepada Allah Rabbul ‘Alamin adalah sebuah kepastian. Karena Dia lah yang memberikan petunjuk kepada hambaNya agar menempuh jalan yang benar pada setiap urusannya.  Apalagi anda tidak hanya mengurus maslahat pribadi anda, tapi juga maslahat ummat dan bangsa. Maka anda harus selalu berdo’a dan meminta kepadaNya petunjuk tersebut. Sebagaimana doa yang Allah azza wa jalla  ajarkan dalam firmanNya pada surah Al Fatihah ayat 6

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Setelah meminta petunjuk, selanjutnya anda meminta agar Allah azza wajalla agar ditetapkan hati anda di atas petunjuk tersebut. Diantaranya firman Allah azza wa jalla dalam surah Al Imran ayat 8

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ,

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia).”

Kemudian doa pada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi,

ﻳَﺎ ﻣُﻘَﻠِّﺐَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِﺛَﺒِّﺖْ ﻗَﻠْﺒِﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻨِﻚَ

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”

dan masih banyak lagi doa yang bisa anda panjatkan agar bisa memanfaatkan momen pulang kampung dengan baik.

Bekal III: Menuntut Ilmu

Tentu anda masih mengingat, masa peralihan diri dari pribadi-pribadi yang terjerembab dalam kubangan lumpur dosa dan maksiat, ke jalan yang lurus menuju keridhaan Allah azza wa jalla. Dan tentu anda masih menyadari, bahwa hal ini terjadi melalui perantara tersampainya ilmu syar’i kepada hati anda. Olehnya, sebab keistiqomahan yang utama tidak lain adalah dengan senantiasa menuntut ilmu. Hal ini juga telah dinasehatkan oleh Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang tertulis dalam  kitab Adab ad-Dunya wad Din halaman  48 oleh al-Mawardi, beliau berkata

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ, الْعِلْمُ يَحْرُسُك. وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ

“Ilmu lebih baik daripada harta, Ilmu yang menjagamu sedangkan kamu yang menjaga harta.”

Banyak ikhwa dan akhwat yang “berguguran” karena meninggalkan perkara yang mulia ini. Mungkin diantaranya ada yang penampilannya masih sama ketika berada pada puncak kenikmatan hidayah, namun kondisi hatinya belum tentu sama.

Bekal IV: Melaksanakan berbagai ketaatan dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah

Allah Azza wa jalla menurunkan berbagai macam syariat Ibadah kepada hambaNya, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Dan Allah azza wa jalla menurukan larangan-larangan yang harus dijauhi oleh hambaNya. Kemudian Allah azza wa jalla  menjadikan Ibadah kepada Nya sebagai tujuan utama manusia diciptakan.

Tentu hal tersebut akan memberikan dampak bagi diri seorang hamba, baik bathin dan zhahirnya, terlebih lagi untuk keimanannya. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah

وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ  وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Dan sesungguhnya Iman itu  bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat”

Olehnya anda harus senantiasa mengisi waktunya dengan ketaatan kepada Allah azza wa jalla. Sibukkan diri anda dengan berbagai bentuk ibadah dan amal saleh. Mulai dari shalat, baik shalat wajib, maupun shalat sunnah lainnya, khususnya shalat layl. Kemudian ada puasa sunnah, bersedekah, dan ibadah-ibadah lainnya.

Bekal V: Mencari Teman yang Shalih

Berteman adalah keniscayaan bagi manusia sebagai makhluk sosial. Islam sangat memperhatikan dan telah mengatur hal ini dengan baik karena pengaruhnya bagi seorang mukmin sampai pada kehidupan akhiratnya. Dikisahkan, kelak yang berteman dengan orang yang buruk akan sangat menyesal. Sebagaimana perkataan orang zhalim dalam Firman Allah dalam surah Al Furqan ayat 28

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلً

“Celakah Aku! kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan Menjadi teman akrab(ku)”

Kemudian diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, hendaknya diantara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memberikan analogi yang sangat jelas tentang hal ini sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ  وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Permisalan teman duduk yang shalih dan yang buruk  adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi”

Olehnya anda harus memperhatikan hal ini selama di kampung agar kualitas agama (keimanan) anda terjaga dan bertambah karena seringnya bermajelis bersama orang-orang salih, dan agar  tidak tergerus oleh dampak negatif teman yang buruk.

Bagaimana dengan teman-teman di kampung yang belum menuntut ilmu agama, dan bahkan dikhawatirkan bisa memberi pengaruh buruk? Apakah harus kita tinggalkan sepenuhnya?

Hal ini sering muncul di benak ikhwa dan akhwat ketika berada di kampung. Apalagi jika sudah ada undangan untuk reunian dengan teman-teman tersebut.

Jadi, kata teman yang dimaksud adalah orang yang kita sering berinteraksi dengannya. Adapun jika sekedar menyapa atau membalas sapa mereka, adalah hal yang tetap dilakukan, apalagi jika sapaannya adalah salam islami. Dan tentunya akan lebih baik jika ikhwa dan akhwat menjadikan mereka sebagai objek dakwah (mad’u) ketika berinteraksi, menunjuki mereka kepada jalan yang  lebih mendekatkan kepada Rabbnya. Hal tersebut adalah hadiah terindah yang bisa kita berikan kepada mereka. Tapi tentu tetap mawas diri, jangan sampai anda yang justru menjadi mad’u mereka dalam kesia-sian dan kemaksiatan wal iyadzu billah. Jika hal itu dikhawatirkan terjadi, maka meninggalkan mereka tentu lebih baik.

Bekal VI: Menghadiri Halaqah Tarbiyah

Tarbiyah yang merupakan salah satu wadah pembinaan, bahkan bisa kita katakan yang terbaik dari semua bentuk pembinaan yang ada saat ini, mampu mengumpulkan beberapa bekal yang telah kita sebutkan. Didalamnya kita menuntut ilmu, melaksanakan berbagai aktivitas ketaatan, dan bermajelis dengan orang-orang yang shalih dan mau memperbaiki diri.

Hal-hal itulah yang menjadikan Tarbiyah efektif dalam membina seorang muslim menjadi pribadi yang Rabbani.

Oleh sebab itu, sebelum pulang kampung, hal yang harus anda lakukan adalah mencari informasi tentang keberadaan halaqah Tarbiyah di kampung halaman anda yang nantinya anda akan ikuti.

Bekal VII: Berdakwah

Berdakwah adalah tingkatan lanjut setelah kita belajar, dan mengamalkan ilmu. Tentu orang yang berdakwah jauh lebih mulia dibanding orang yang menuntut ilmu dan beramal hanya untuk kemaslahatan diri sendiri. Disamping itu ia merupakan ciri khas dari orang yang betul-betul beriman. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla,

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”

Maka dengan berdakwah, selain anda mengajak orang lain untuk kembali dan lebih dekat kepada Allah azza wa jalla, anda juga meningkatkan keimanan di dalam diri anda, yang dengannya anda akan istiqomah di atas agama ini, biidznillah.

Ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan selama berdakwah di kampung halaman.

  1. Mad’u

Mad’u yang anda harus utamakan adalah orang-orang yang terdekat sebagaimana firman Allah azza wa jalla dalam Surah Asy Syu’ara ayat 214,

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”

Dan orang yang paling dekat dengan anda adalah keluarga, dan khususnya kedua orangtua anda. Bentuk dakwah yang paling utama kepada mereka adalah birrul walidain yang juga merupakan kewajiban.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu jangan-lah kamu beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya”

Setelah keluarga, maka berdakwahlah di lingkungan sekitar rumah anda. Salah satunya dengan ikut memakmurkan Masjid, khususnya bagi ikhwah. Misalnya mengajar membaca Qur’an untuk anak-anak maupun orangtua, dll. Kemudian tetap berdakwah kepada Masyarakat yang lebih luas dengan menawarkan diri untuk terlibat pada kegiatan yang dilaksanakan oleh Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam di daerah anda.

2. Penyampaian

Setelah memahami skala prioritas mad’u, hal penting selanjutnya adalah memperhatikan isi ataupun akhlak ketika berdakwah. Dalam berdakwah, anda harus jeli melihat kebutuhan dakwah mad’u. Sampaikan hal yang lebih pokok terlebih dahulu sebelum hal lainnya. Misalkan, mad’u anda pelaku kesyirikan, maka tahan diri anda dalam menyampaikan tentang sholat, hijab, dll sebelum anda menyampaikan tentang Tauhid.

Kemudian dalam berdakwah, yang merupakan bagian interaksi sosial, anda harus melakukan dengan akhlak yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

”serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang mulia”

Berakhlak dalam berdakwah juga sering menjadi sebab utama tersampainya hidayah Allah azza wajalla. Dan jika akhlak yang baik ada pada diri anda, khususnya dalam berdakwah, menunjukkan bahwa ada pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam yang sebenar-benarnya. Allah azza wa jalla berfirman dalam surah Al Qolam ayat 4,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

 “ Sesungguhnya kamu berada di atas akhlak yang mulia”.

************

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Ustadz Erwin Ardiansyah, S.Pd
(Pengurus DPW Wahdah Islamiyah Sumatera Utara)

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)